Kecerdasan Anak

Obrolan pagi ini dengan suami tiba-tiba dibuka dengan pembahasan Azam yang semakin nampak kemampuan kinestetik-nya menurut suami (saya sendiri ga terlalu paham soal beginian meski dah bolak-balik baca. Hehe). Sementara Danisy si sulung, dominan di kemampuan visualnya yang dipadankan dengan kemampuan audio di titik berikutnya.

Bahasan sebenarnya fokus ke Azam yang waktu itu lagi nyusu. Entah sejak kapan Azam jadi terbiasa harus memegang sesuatu di sekitar yang saya pakai dan dia memainkan itu dengan kedua tangannya sambil nyusu. Kalau ga ada apapun? Dia akan menangis dan menolak nyusu meskipun dia sangat ingin menyusu. Jangan tanya betapa aktifnya dia apalagi sudah bisa berjalan.

Bahasan berlanjut tentang sekolahnya nanti. Atau setidaknya tentang penilaian sekitar. Biasanya anak kinestetik-nya cenderung dianggap nakal oleh lingkungan karena gaya belajarnya yang akan didominasi gerakan. Ga bisa diem = nakal. Begitulah sebagian besar masyarakat menganggapnya. Disadari atau tidak. Nah, ini jadi pe-er kami nih untuk ke depan memahamkan setidaknya keluarga besar karena sekarang aja udah ada pernyataan yang sudah mulai mengarah kesana.

Lalu bagaimana dengan si sulung Danisy? Tipikal visual-nya semakin terlihat memang. Bagaimana dia banyak belajar dari game edukatif baik di komputer maupun di papan alat ajar yang saya belikan. Kegiatan mencocokkan gambar, warna dan bentuk dapat dengan mudah dia pahami bahkan saat usianya baru 3 tahun. Kemampuan visual dibarengi audio membuat Danisy lebih senang memperhatikan dulu baru meniru. Hal ini sudah berlaku sejak dia kecil. Berbeda dari Azam yang selalu mulai meniru sejak pertama kali dia melihat meski salah tapi terus diulang hingga akhirnya benar-benar mirip dengan yang ditirunya termasuk gerakan shalat kakaknya.

Danisy seringkali nampak pendiam dan ga mau bergabung. Ya meski hal itu bukan hanya karena dia tipikal visual tapi juga perpaduan dengan tipikal jenis anak yang butuh pemanasan untuk bisa bergaul.

Ini cuma sekadar catatan aja. Kalau soal perbandingan 4 jenis kecerdasan anak saya ga akan terlalu bahas karena belum paham betul. Yang pasti semua orang memiliki kecerdasan itu tapi nanti akan ada yang dominan. Biasanya begitu. Saya sendiri tipikal audio sehingga seringkali saya memanfaatkan teman-teman untuk menghafal pelajaran, mendengarkan lagu atau percakapan di film untuk belajar bahasa inggris berikut pelafalannya dan termasuk untuk hafalan Quran juga dengan mendengarkan. Sementara suami tipikal visual sehingga tampilan termasuk rumah menjadi bagian penting.

Ya, yang penting jangan pernah kita men-cap anak nakal kalau ilmunya belum lengkap karena yang ilmunya genap biasanya lebih bisa menilai dengan positif setiap anak 🙂

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s