Saya Memutuskan Berhenti Dulu

Saya tahu suatu saat pertanyaa itu akan muncul. Tanpa diduga pertanyaan yang sudah saya duga itu terlontar di silaturahim dengan kawan kampus ahad 10/8/14 kemarin.

Sedih sebenernya. Campur aduk rasa. Saya kemudian menutup rasa kecewa itu dengan pengalihan tema dan mengingatkan capaian lain.

Target saya menyandang status sarjana tahun 2013 pun terpaksa harus saya hapuskan dari catatan mimpi saya.. untuk sementara.

Orang mungkin merasa aneh, “padahal dulu Esa yang paling semangat kuliah, paling pinter, bilang ‘harus lulus bagaimana pun caranya'”. Faktanya ternyata saya tidak sekuat dulu untuk mewujudkan impian saya yang sudah sempat saya tunda 2 tahun, kemudian terhenti 1 tahun dan sekarang pun akhirnya harus menunda lagi.

Sedih. Wajar saja kan saya sedih? Saya mimpi bisa kuliah itu semenjak SMA. Dihadapkan dengan kenyataan ga bisa kuliah itu menyakitkan. Bukan cuma sekadar ga punya dana yang cukup tapi ada hal lain yang jadi pertimbangan. Soal dana sebenarnya tidak perlu terlalu dipermasalahkan karena saya terbiasa mencari uang sendiri sejak kecil, ditambah tawaran yang saya terima adalah beasiswa. Tentu rasanya sakit melepaskan kesempatan emas kuliah seperti itu, bisa kuliah tanpa harus terbebani biaya kuliah. Kesempatan yang belum tentu datang kembali. Datang dari berbagai perguruan tinggi. Ya, itulah masa kejayaan akademis terakhir saya sepertinya *untuk saat ini*.

Saat kemudian kesempatan kuliah didapat, betapa saya senang saat itu. Setelah harus menunda keinginan itu selama 2 tahun.

Sayangnya ternyata saya tidak sekuat dulu. Saya kemudian cenderung lemah. Saat semester 3 ada lelaki yang melamar saya, saya kemudian memutuskan untuk menikah. Ada pertimbangan tersendiri. Urgent bagi saya saat itu untuk menyelamatkan agama sy.

Lantas apakah karena sudah menikah jadi ga bisa kuliah dan kerja? Ngga kok. Bukan itu. Suami sangat mendukung karir dan pendidikan saya. Sayangnya saya ini tidak terlalu kuat. Setiap kali saya down, suami semangati. Sampai kemudian saat saya hamil anak pertama, bed rest. Ga bisa masuk makanan atau minuman, lemes banget. Muntah lg. Suami menyetujui permintaan sy untuk ga kuliah. Menginjak usia 7 bulan mulai bisa beraktifitas. Sempat datang ke kampus mau tanya cara balik lagi kuliah tapi kemudian karena beberapa pertimbangan termasuk akhirnya saya memutuskan untuk menunda melanjutkan kuliah. Dan kemudian masalah fisik pun jadi pertimbangan tersendiri.

Perjalanan kuliah saya, memang ga mulus. Beberapa nyinyir “ya aku juga kesulitan ekonomi” atau “ya aku juga lagi hamil” atau hal serupa yang kurang lebih bernada seperti menyalahkan atau merendahkan. Iya, saya akui banyak alasan saya untuk ga kuliah. Tapi itu dengan banyak pertimbangan yang bahkan pertimbangan itupun hanya saya yang tahu. Keluarga baru kemarin-kemarin tau beberapa alasan saya menunda kuliah. Lega rasanya akhirnya bisa mengemukakan pertimbangan itu.

Tapi satu yang masih saya coba gapai. Suatu saat saya ingin menyelesaikan studi S1 saya dan menyandang gelar sarjana. Malah targetnya minimal sampe S2. Bismillaah. Semoga masih ada kesempatan, kekuatan, kesehatan dan umur untuk mewujudkan mimpi akademis dan mewujudkan daftar mimpi yang pernah dicatat. Aamiin

Terima kasih untuk semangat yang ditularkan. Mengingatkan tanpa menghakimi. Menyayangi dengan tetap menjalin silaturahmi.

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s