Kangen Alm Uwa

Semalam tiba-tiba saja memimpikan lagi alm uwa. Rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir kali saya memimpikan beliau di hari-hari pertama setelah uwa wafat.

Mimpi tadi malam berupa percakapan. Saya lupa apa obrolan awalnya. Hanya saja saya ingat sekali percakapan selanjutnya. Selain alm uwa ada juga uwa di madesa dan mamah. Ya, mereka kan selalu bertiga. Tempat di mimpi itu persis dengan rumah mamah. Bangku tempat duduk sampai kandang ayam dan jemurannya pun sama persis.
Percakapan yang saya ingat dari mimpi malam ini seperti berikut

Saya: “ah gapapa atuh prosesnya bentar juga. Waktu A Aim ngelamar juga kan bentar. Cuma seminggu dari dapet info ada yang mau ngelamar sampe keluarganya dateng melamar. Padahal waktu itu ga kepikiran sama sekali bakal buruan nikah soalnya kan ga terlalu kenal juga sama A Aim”
Alm Uwa: “iya ya. Inget banget uwa de. Pas si mamah hulang huleng keliatan kebingungan sampe akhirnya sama uwa teh ditanya baru weh jawab. Langsung sibuk nyiapin.” (saya memang biasa dipanggil dede sama keluarga besar mamah)
Uwa madesa: “iya juga. Ya udah we atuh biarin”
Selanjutnya saya ga terlalu memperhatikan obrolan para uwa. Mereka nampak asyik mengobrol. Hanya saja dalam mimpi itu saya tiba-tiba diingatkan bahwa alm uwa sudah wafat lalu saya beranjak menuju uwa
“Uwa, mumpung ada disini. Bisi nanti keburu uwa ga ada lagi. Pengen meluk uwa. Dulu ga sempat meluk, ga sempat jenguk” dan saya pun memeluk uwa. Erat. Saya bahkan bisa merasakan hangat tubuh beliau.
Ya Allah.. allaahummaghfirlahaa warhamhaa wa’afiha wa’fu ‘anha wa akrim nuzulaha waghsilha bitstsalji walma-i wal barad..

Hingga menjelang satu tahun wafatnya, saya masih merasakan adanya rasa kangen. Ingat sekali beliau yang mengurus saya ketika orang tua saya sedang ada masalah. Bahkan dulu saya memanggil beliau dengan sebutan ibu. Anak-anak beliau lebih besar dari saya dan saya merasa sekali seperti memiliki kakak kandung (sy anak sulung jadi ga punya kakak). Dan saat mamah terkena musibah sehingga hampir saja kehilangan nyawanya, beliau lah yang pertama kali memeluk saya yang waktu itu masih SD. Bayangkan di rumah saat itu hanya ada mamah dan dua adik saya yang masih kecil kemudian musibah itu terjadi. Hujan lebat. Di tengah hujan, usai memberikan pertolongan pertama pada mamah (pertolongan itupun hanya yang terlintas di pikiran anak SD), meninggalkan adik-adik di rumah, mamah tak sadarkan diri, saya berjalan kaki menuju rumah kakek. Kebetulan rumah uwa di sebelah rumah kakek nenek. Sepanjang perjalanan menangis. Untunglah saat itu hujan deras, suara tangis saya pasti tak terdengar siapapun. Saya lupa ngomong apa aja ke nenek dan saya juga lupa kapan dan bagaimana saya kembali lagi ke rumah. Hanya saja saya ingat, saat itu sudah banyak orang yang mengurusi mamah. Saya gatau adik-adik saya dimana dan diurus siapa. Tapi di tengah hiruk pikuk itu, saya terduduk di atas bangku warung di depan rumah (saat itu kami memang buka warung). Pikir saya kacau. Entahlah waktu itu bener-bener ga jelas ingin apa. Uwa ada disana, kemudian memeluk saya dan bilang “ada uwa. Dede mah sama uwa aja. InSyaAllah mamah akan selamat” saya hanya menangis. Di pelukan beliau.

Dan kenangan-kenangan bersama beliau pun terus bermunculan. Uwa, rasanya kangen sekali. Hari-hari pertama setelah uwa wafat Allah memberiman sy kesempatan untuk memimpikan uwa beberapa kali. Di setiap mimpi tergambar jelas diri uwa. Seperti pengobat rindu karena rasa kehilangan.

Saat beliau wafat, saya tak mampu menahan sesal dan air mata. Malam sahur di pertengahan bulan Ramadhan tahun lalu. Saat “kebetulan” saya menginap di mamah. Berencana siangnya mau jenguk ke RS. Tiba-tiba terdengar tangisan pecah. Tangisan kakak-kakak sepupu. Ditelpon bahwa uwa sudah wafat. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.. Ya Allah bahkan saya tak sempat menjenguk beliau. Terakhir kali kami bertemu saat beliau akan diperiksa di RS Immanuel. Saya hanya berpesan agat mang becak berhati-hati. Dan uwa pun berpamitan. Saya mendoakan kesembuhan beliau sementara becak mulai melaju. Saat itu beliau masih bisa jalan karena sakitnya di bagian perut dan sebenernya uwa ga mau dibawa ke RS. Ke RS agak dibujuk karena kakak sepupu ingin tahu pasti penyakitnya apa. Beliau sempat sembuh, sempat ke warung lagi bareng mamah kemudian jatuh sakit lagi. Siapapun tak ada yang menyangka bahwa beliau akan pergi..

Karena di Immanuel penuh dan tak sanggup memberikan pemeriksaan yang lebih lengkap, kakak sepupu memutuskan untuk membawa beliau ke RSHS dan beliau akhirnya dirawat di RSHS. Menjelang shubuh beliau wafat adalah hari dimana rencananya akan dilakukan operasi setelah melakukan pemeriksaan lebih mendalam dan menyeluruh karena setelah sekian hari dirawat belum jelas penyakitnya apa.

Kata mamah saat mamah menjenguk, perut uwa semakin membesar seperti sedang hamil tua. Setiap makanan yang masuk bahkan air yang masuk keluar lagi.
Ah.. Allah begitu sayang pada uwa. Ia angkat penyakitnya dan menyembuhkannya untuk selamanya. Di luar semua rencana kami untuk uwa.

Singkat. Hanya sekitar 1-2 minggu saja sakitnya diselang sempat sembuh beberapa hari. Maka tak heran jika kami begitu kehilangan, bahkan para tetangga pun kaget dengan kabar wafatnya uwa.

Allah sayang uwa. Semoga dilapangkan kuburnya, diampuni dosanya dan diberikan nikmat kubur. Aamiin. Bantu doa ya teman semua.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s