Danisy yang Lagi Seneng Pamer

“Kakak, lihat Aa punya baju baru..” begitu ucap Danisy pada temannya suatu ketika saat ia mengenakan baju yang sebenarnya sudah lama beli tapi baru dipake lagi (panggilan temannya kakak, sebagaimana Danisy menyebut dirinya dengan panggilan Aa)
“Ibu guru, lihat Aa punya jam tangan” sesampainya Danisy di sekolah buru-buru mendekati gurunya hanya untuk memperlihatkan jam tangan yang baru saja didapatnya (hadiah dari distributor VCD).
Dan masih banyak ucapan serupa lainnya saat mendapat barang baru (atau yang dianggap baru olehnya). Bingung ya? Kadang malu juga apalagi nadanya jelas pamer bukan sekadar “memberi info”.

Buka buku Mendidik Anak dengan Cinta untuk melanjutkan membaca isi buku tersebut eh qadarullah pas banget pembatasnya ada di bagian bab “Naluri Pamer Anak yang Memusingkan”. Coba baca apalagi pas banget nih bahasannya. Alhamdulillaah

Suka pamer belum tentu negatif. Jangan dimatikan tapi juga jangan dibiasakan menjadi arena jor-joran

Demikian awal bab itu membuka pembahasan tentang anak yang pamer. Ternyata pamer pada dasarnya adalah fitrah anak, fitrah anak untuk mencari perhatian. Memiliki barang baru apalagi yang diidamkan akan sangat membuat anak bangga. Mereka memiliki naluri untuk memamerkan barang tersebut pada orang lain. Yang mereka harapkan hanya perhatian dan pujian. Itu saja. Anak-anak kan masih egosentris. Serba segala kudu dirinya. Dan barang baru itu bisa jadi sarana yang dianggap terbaik guna mendapat perhatian. Pamer ini bukan buat sombong-sombongan ala orang dewasa karena anak belum mengenal kata sombong itu kecuali jika kemudian terbentuk dalam proses perkembangan jiwa anak.

Di buku itu dikatakan, orang tua tak perlu khawatir dengan tindakan anak tersebut karena memang ini naluri sedari lahir untuk mendapat perhatian dan pujian. Naluri untuk mendapat pujian dan perhatian tersebut merupakan hal positif dalam perkembangan kepribadian anak. Semakin banyak anak memperoleh perhatian positif, semakin baik perkembangan rasa percaya dirinya.

Orang tua yang pamer dan “dipameri” baiknya jangan pada ikut panas deh. Kenapa? Karena kalau orang tua ikutan panas biasanya urusan jadi tambah ribet. Apalagi kalau pamer anak disertai olokan dan hal serupa. Bisa repot ntar 😀

Terus harus gimana ya? Saya juga bingung. Tapi ada nih bahasan selanjutnya. Adalah tugas orang tua untuk membina dan mengarahkan naluri anak tersebut ke arah positif dan dijaga agar tidak melampaui batas. Justru kalau anak tidak pernah pamer itu perlu dicurigai. Bisa jadi anak tersebut tidak punya keberanian yang cukup untuk mengungkapkan keinginannya. Atau mungkin si anak pemalu sehingga cenderung menyimpan sendiri keinginannya. Sifat malu berlebihan tidak baik bagi anak karena menghambat perkembangan emosi, pergaulan dan pengetahuannya. Kemungkinan terburuknya adalah anak tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup. Takut berbicara di hadapan temannya. Khawatir dengan resiko diolok-olok apalagi jika anak malah takut jadi pusat perhatian orang lain.

Bagaimana mengarahkannya? Berikut langkah yang disodorkan buku ini.
1. Motivasi anak untuk memamerkan manfaat bukan harganya
Arahkan naluri pamer anak hanya untuk obyek positif saja. Berikan pengertian bahwa mereka harus bangga jika memiliki obyek positif tersebut. Beritahu mana yang pantas dibanggakan dan mana yang tidak. Lebih baik lagi jika diajarkan untuk bukan sekadar bangga dengan barangnya melainkan nilai yang terkandung di baliknya. Misal “alhamdulillaah punya baju baru. Aa bisa lebih baik nutup aurat” atau “asyik punya pensil baru. Aa akan makin rajin belajar menulis”

2. Memberi respon yang benar
Memuji anak sesering mungkin jika anak sedang melakukan kegiatan positif akan membuat anak mengerti kegiatan mana yang patut dibanggakan dan mana yang tidak. Misal orang tua menyatakan ketidaksenangan dengan terus terang saat anak membanggakan hal yang bernilai keliru atau benda yang buruk.

3. Tumbuhkan empati anak
Hal yang juga perlu diperhatikan adalah menjaga agar tidak melampaui batas. Beritahu anak perbedaan dirinya dan temannya bahwa mungkin tidak semua teman bisa memiliki barang yang ia punya. Gambarkan betapa kasihan teman yang tergiur memiliki barang tersebut tapi tak mampu membelinya. Insyaallah anak akan bisa menjaga batas pamer sehingga tak berlebihan. Ajak pula anak bersyukur karena memiliki barang tersebut. Ajak anak berdoa semoga Allah memberi barang serupa pada teman-teman yang belum memiliki barang tersebut.

Pada prakteknya tips di atas gampang-gampang susah. Hehe. Nyari nilai, mengarahkan dsb. Tapi inSyaAllah kita pasti bisa. Semangat! Supaya anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari kita. Aamiin

“Tidak ada pemberian ibu bapaknya yang paling berharga kepada anaknya daripada pendidikan akhlak mulia.” HR.Bukhari

Ditulis dengan penuh cinta dan semangat
Salam hangat,
Esa

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s