Cerita Maghrib Tadi

Kemarin, memang ada rencana keluar rumah tapi karena pekerjaan rumah baru selesai jam 10an dan bada zhuhur anak-anak terlelap, akhirnya diundur. Semoga tidak dibatalkan, harap saya saat itu.

Saat membicarakan rencana selanjutnya, saya dan suami malah sepakat ga jadi ke tempat yang semula direncanakan. Ke tempat yang dekat saja sekadar memenuhi janji ke anak-anak mau ngajak jalan-jalan. Alhamdulillaah kami sepakat.


Tak lama suami bilang “aa ada janji mau ketemuan sama calon pemesan kartu undangan. Bada maghrib di dago”
Mm.. Dago ya.. Saya tanya, memungkinkan ga kalau tempat tijuan jalan-jalannya dipindah ke daerah sana aja? Suami setuju. Lagipula calon kliennya ini perempuan. Biasanya suami minta ditemani, ga mau hanya berduaan aja sama kliennya meski di tempat umum (saya pikir saya harus bersyukur dengan sikapnya ini. Alhamdulillaah).

Menjelang ashar, anak-anak bangun. Makan dulu, shalat baru kemudian bersiap-siap berangkat. Di tengah perjalanan adzan maghrib berkumandang. Pas di deket masjid al-Ukhuwwah Balaikota. Berbuka dulu sebentar lalu bergiliran shalat maghrib. Sementara suami shalat, saya dan anak-anak makan dulu. Usai suami shalat, giliran saya yang shalat dan anak-anak tetap melanjutkan makan ditemani abinya yang baru bisa ikut makan. Alhamdulillaah.

Usai shalat kami bergegas menuju WS Tamansari. Sang calon klien sudah menunggu rupanya. Sosok gadis berjilbab yang cantik nan ramah turunan jawa tapi logat bahasanya sunda banget 😀

Ketika bertemu, kami ga lantas langsung ngobrolin soal undangan tapi malah disuruh memesan makanan dulu. Selesai memesan, calon suaminya datang. Laki-laki yang nampak supel dan kocak. Supel seperti calon istrinya. Obrolan pun berlanjut. Sang gadis tentu saja fokus ngobrol dengan suami sementara sang bujang sesekali menimpali obrolan karena permintaan sang gadis beberapa dianggap terlalu girly. Hihi. Tapi dengan nada bercanda jadi ga tegang.

Di sela obrolan suami dan calon mempelai wanita, calon mempelai pria mengajak saya berbincang dan sesekali mengajak anak-anak berbincang. Dari situ banyak sekali hal menarik yang ia sampaikan. Seringnya siu ngomongin soal parenting. Bermula dari ceritanya yang hanya selisih 2 tahun dengan adiknya. Sama seperti Danisy dan Azam yang juga terpaut 2,5 tahun.

Dari semua perbincangan yang terjadi antara saya dan calon mempelai pria, saya sangat salut pada kedua orang tuanya. Dia pun memang mengatakan demikian meski lebih berfokus pada sosok ibunya.

Sang ibu adalah ibu rumah tangga. Mereka 4 bersaudara. Mempelai pria ini anak pertama dengan 1 adik lelaki dan 2 adik perempuan. Asal kedua orang tuanya dari Garut lalu bermigrasi ke Blora. Mereka survive disana. Anak-anak pun terbiasa survive katanya.

Cara didik sang ibu tegas. Ga boleh main malam, ga boleh nginep di rumah teman untuk alasan apapun, ga boleh bergaul dengan orang yang bicaranya kasar dan satu amanah ibunya yang selalu ia pegang “orang tua hanya mengharapkan balasan berupa akhlak mulia”.

Ia melanjutkan, “hikmahnya baru saya rasakan sekarang Teh. Meski dulu ya kesel juga kenapa saya ga boleh tapi sahabat saya diperbolehkan oleh orang tuanya. Ternyata pergaulan sahabat saya di rumah temannya itu ga bagus. Ya alhamdulillaah dengan didikan ibu saya yang seperti itu, saya sama adek-adek bisa melesat. Saya ini udah ga sama orang tua. Usia 12 tahun saya harus pisah sama orang tua karena mereka pindah ke pedalaman yang kualitas pendidikannya kurang bagus. Jadi saya tinggal sama nenek di Garut. Dan selama tinggal sama nenek, saya tetep bisa merasakan kasih sayang orang tua. Ya meski kadang sedih saat orang lain ditemani orang tuanya ambil raport, saya ditemani bibi. Selama jauh dari orang tua, saya menjaga baik-baik amanah ibu saya untuk ga bergaul dengan yang bicaranya kasar dan menjaga akhlak mulia karena saya pikir itulah satu-satunya hadiah dan cara saya membalas ibu saya. Saya juga ingin segera punya anak supaya bisa melanjutkan pendidikan generasi berikutnya. Kata ibu, maksimal usia 25 udah nikah biar bisa maksimal mendidik karena nikah muda. Teteh nikah usia berapa?”
“21 mau 22” jawab saya singkat
“Mamah saya nikah umur 21 juga (tiba-tiba dia keceplosan menyebut panggilan ke ibunya).”
MaSyaAllah. Sedemikian kuat akar yang ditanamkan orang tuanya terutama sang ibu.
“Orang tua masih di Blora?”
“Iya Teh. Tapi anak-anaknya mencar. Saya di Bandung, adik saya yang selisih 2 tahun di UI, yang satu lagi di luar negeri, yang satu di pekalongan”
“Suka pulang ke Blora?”
“Ngga. Mamah yang kesini. Keliling. Dan kalau ketemu jarang ngobrol serius. Becanda aja”
“Makanya berkesan ya?” Jawab saya penasaran
“Iya Teh. Kemarin sampe kaget pas mamah nelpon conference call cuma bilang makasih sudah jadi anak-anak yang membanggakan. Dan tau ga Teh? Ternyata orang tua selama ini punya akun sosmed dan itu kita baru tau semalem! Pantes aja selama ini kok bisa tau detil banget. Kok bisa sih? Mamah cuma bilang ‘ya tau lah’. Jadi selama ini mamah mantau” jawabnya semangat

“Teteh juga nih lagi menanam buat anak-anak. Semoga menjadi hafizh, akhlaknya baik. Ya de” ujarnya pada saya lalu melirik Azam yang sedang saya gendong karena mau kenalan masih malu-malu. Saya mengaminkan kata-katanya. Bener ya. Pondasi kuat harus kita tanamkan di usia 0-10 tahun agar selanjutnya menjadi bekal.

Malam semakin larut. Kami sudahi pertemuan singkat tapi bermakna itu. Di luar saya dan sang calon mempelai wanita sempat berbincang “teteh sekarang berapa tahun? nikah masuk usia berapa??”
“26 teh. Desember ini 5 tahun inSyaAllah” jawab saya
“Bagus teh. Nikah muda. Saya juga mau nikah muda biar sama anak teh kayak adek kakak” ujarnya sambil sedikit tertawa “biar pas anak dewasa kita belum terlalu tua dan maksimal didik anak” wah udah klop ini mah sama calon suaminya.

Semoga Allah menjaga kalian berdua dan kelak dari pernikahan kalian (dan pernikahan kami) lahir generasi rabbani kebanggaan Allah dan umat. Semoga semakin banyak pemuda yang memiliki visi dan misi pernikahan yang luar biasa agar lahir keluarga hebat dan generasi hebat nantinya. Aamiin.

Ditulis dengan penuh cinta dan semangat
Salam hangat,
Esa

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s