Catatan dari Pelatihan “Yuk Jadi Ayah Idola Anak” Bag. 1 – alQuran berbicara Pengasuhan Anak

Materi Ayah Bendri
Saatnya pendidikan anak dikembalikan pada al-Quran karena inilah pedoman kita seharusnya. Semua hal dibahas dengan baik dan lengkap. Hanya saja kita seringkali lupa..

Imam Malik berkata, “Tidak mungkin generasi akhir zaman diperbaiki kecuali mengikuti bagaimana generasi terdahulu diperbaiki”. Masuk akal saya pikir karena sebagaimana ditulis sejarah, jazirah arab dulu adalah masyarakat yang posisinya di bawah dan kemudian menjadi berjaya ada di atas setelah Islam datang. Yang karena itu pula banyak yang menolak nabi Muhammad karena beliau berasal dari arab yang dianggap hina.

Poin berikutnya adalah mari belajar dari keluarga terbaik. Dalam surah Ali Imran ayat 33 dikatakan,
(إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ)
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),”

Hal menarik dari ayat ini adalah penyebutan nama 2 orang dan 2 keluarga: Adam dan Nuh sebagai personal dan keluarga Ibrahim dan keluarga Imran. Kenapa? Adam dan Nuh merupakan nabi pilihan. Sayang keduanya memiliki keluarga yang “cacat” karena nabi Adam memiliki anak yang membunuh dan nabi Nuh memiliki anak dan istri yang membangkang. Lalu apa sih yang Allah lihat? Kenapa dicatat sebagai yang terbaik? Karena berdasar catatan sejarah, Adam ketika diusir dari surga, doanya adalah mohon ampun karena telah menzhalimi diri sendiri. Padahal kita tahu Adam Hawa diusir dari surga karena bujukan syetan. Nabi Adam tidak sedikitpun ngeles dan bilang “ini salah iblis”.
Sementara nabi Nuh, selama ribuan tahun berdakwah, pengikutnya hanya sekitar 25 orang. Tapi tak gentar. Terus saja berdakwah. “Aku brerdakwah siang dan malam. Tapi mereka semakin menjauh.” Ujar nabi Nuh.
Hal ini juga memberikan kita pelajaran juga bahwa Allah tidak melihat hasil melainkan proses.

Lalu di bagian berikutnya dikatakan keluarga Ibrahim dan keluarga Imran. Menarik ya? Yap. Disebut keluarga = keseluruhan keluarganya memiliki contoh baik. Lalu bagaimana sih kriteria keluarga terbaik itu?
Indikatornya adalah pasangan yang shalihah, anak yang shalih/ah, cucu yang shalih/ah. Karena ini menandakan hasil didikannya berhasil bahkan hingga generasi kedua.

Keluarga Ibrahim terdiri dari: nabi Ibrahim, kedua istrinya: Sarah dan Hajar, kedua anaknya: Ismail dan Ishaq dan cucu/cicitnya: Yaqub lalu Yusuf (nasab Rasulullah pun sampai ke nabi Ismail).
Keluarga Imran terdiri dari: Imran, istrinya Hanna binti Fakhudz, anaknya Maryam dan hadir pula Isa bin Maryam.

Kedua keluarga tersebut memiliki kehidupan yang berbeda tapi sama-sama memiliki hasil sempurna. Apa sih perbedaannya?
Keluarga Ibrahim adalah keluarga nabi (yang beberapa orang menjadikan ini dalil “iya itu kan keluarga nabi), nabi Ibrahim berpoligami alias beristri lebih dari satu. Kedua orang tua lengkap hadir dan ada, keluarga nomaden alias berpindah-pindah dan mengajarkan pengasuhan anak lelaki.
Sementara keluarga Imran adalah keluarga yang bukan merupakan keluarga nabi (tapi dicatat Allah dalam alQuran. MaSyaAllah). Menjalani monogami, single parent (Imran meninggal sebelum Maryam lahir), keluarga mereka menetap dan mencontohkan pengajaran pengasuhan anak perempuan.

Mengenai target pengasuhan, penekanan antara didikan anak lelaki dan perempuan pun berbeda. Target pengasuhan anak lelaki adalah mencetak para nabi. Dalam konteks ini, maksudnya adalah mencetak keturunan yang memiliki sifat seperti nabi yakni: ahli ilmu (inget hadits ulama itu pewaris nabi? Ulama = ahli ilmu) dan memiliki jiwa iqomatuddin: menegakkan agama. Tercantum dalam surah asySyura ayat 13,
(شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ)
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”

Sementara target pengasuhan anak perempuan adalah mencetak wanita suci dan pencetak nabi. Maksud dari menjadi perempuan suci bukan semata wanita yang mampu menjaga kesucian dalam arti farji saja (hanya menjaga keperawanan), melainkan juga segala sifat suci perempuan termasuk di dalamnya sikap dan rasa malu. Ia juga dididik agar mampu menjadi penyokong dakwah baik perannya sebagai ibu maupun sebagai istri. Ya, perempuan berhasil adalah yang mampu menyokong dakwah suaminya atau ayahnya atau anaknya. Maka dari itu cara didik anak lelaki dan perempuan pun pada akhirnya akan berbeda dan harus berbeda.
-bersambung

Ditulis dengan penuh cinta dan semangat
Salam hangat,
Esa

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s