Parenting

Kata parenting menurut Wikipedia adalah seperti ini: “Parenting (or child rearing) is the process of promoting and supporting the physical, emotional, social, and intellectual development of a child from infancy to adulthood. Parenting refers to the aspects of raising a child aside from the biological relationship”

Penjelasan definisi parenting ini menarik mengingat disana ditekankan bahwa ilmu “ke-orangtua-an” tidak semata tentang “membesarkan anak” secara fisik tapi juga terkait emosi anak, kemampuan sosial dan intelektual anak. Dengan demikian anak tumbuh dari seorang anak menjadi dewasa yang matang. Dan ilmu ini tak semata hanger dilakukan oleh kedua orang tua kandung si anak melainkan juga oleh semua keluarga dan pihak yang terlibat dalam pengasuhan anak.

Cara didik sebuah keluarga tentu akan berbeda dengan keluarga lainnya karena berbagai alasan entah itu latar belakang keluarga, suku, kelas sosial, penghasilan, agama dan tujuan keluarga. Tak lupa sifat dan watak masing-masing orang tua dan anak juga berbeda maka orang tua harus pandai menemukan cara efektif menuju pencapaian visi misi keluarga.

Cara penerapan ilmu parenting akan menentukan bagaimana anak kelak dicetak. Setidaknya ada 4 jenis penerapan pendidikan anak menurut seorang psikolog bernama Diana Baumrind

1. Authoritative
Perpaduan antara respon orang tua dan kebutuhan anak. Orang tua tipe ini bersandar pada penguatan sisi positif dan jarang memberikan hukuman pada anak. Orang tua lebih berfokus pada perasaan dan kemampuan anak serta mendukung kemandirian anak dengan beberapa batasan yang beralasan. Antara kontrol dan dukungan berjalan seimbang. Komunikasi antara orang tua dan anak pun terjalin dengan baik dan nyaman.

2. Authoritarian
Orang tua dengan gaya pendidikan ini cenderung keras dan kaku. Mereka menetapkan tuntutan tinggi terhadap anak tapi tidak terlalu responsif terhadap kebutuhan anak. Orang tua menetapkan sekian banyak harapan aturan yang keras dengan mengharuskan anak memenuhi dan patuh terhadap aturan itu. Jika anak tidak patuh maka orang tua dengan jenis pendidikan ini tak segan menghukum si anak. Hukuman seringkali diberikan tanpa penjelasan pada anak selain mengatakan “kamu sudah melanggar aturan maka kamu dihukum”.
Anak yang tumbuh dalam pendidikan seperti ini cenderung kurang ceria, lebih moody dan mudah stress. Pada beberapa kasus, anak-anak dalam pengasuhan seperti ini juga sering terlibat dalam kenakalan dan peperangan kecil.

3. Permissive
Orang tua dengan tipe pengasuhan ini cenderung terlalu ramah pada anak. Kebebasan dan kemandirian anak menjadi hal terpenting. Tidak ada acara hukum menghukum. Kalaupun ada, paling sedikit saja dan biasanya hukumannya ringan saja. Bagi orang tua dengan pengasuhan tipe ini, mereka berpikir anak harus tumbuh sesuai keinginan si anak. Terbebas dari doktrin pihak luar (meskipun itu orang tua si anak), bebas melakukan yang diinginkan si anak.
Anak yang tumbuh dengan gaya pengasuhan seperti ini memang akan nampak bahagia dan ceria akan tetapi agak sedikit sulit mengontrol diri dan sangat tergantung pada diri sendiri karena kurangnya dasar di rumah

4. Uninvolved
Disini orang tua tidak terlibat dalam pendidikan anak. Mereka cenderung menyia-nyiakan sisi pendidikan terhadap anak. Mereka tidak hadir entah secara fisik maupun emosi. Jiwa orang tua tidak ikut terlibat dalam pendidikan anak. Beberapa malah memang tidak hadir secara fisik sama sekali. Mereka cenderung tidak memiliki harapan apapun terhadap si anak dan biasanya komunikasi antara orang tua dan anak tidak berjalan. Mereka bisa dikatakan tidak peduli terhadap anak mereka dan tidak pula memiliki harapan apapun terhadap anak mereka. Kalaupun mereka hadir, mereka hanger menyediakan kebutuhan anak untuk bertahan hidup tanpa tuntutan perjanjian sedikitpun. Ada jurang pembatas yang cukup dalam antara orang tua dan anak. Anak dalam pengasuhan seperti ini cenderung memiliki kebiasaan menyimpang. Mereka memiliki kesulitan bersosialisasi, jelek dalam kemampuan akademik, dan bermasalah.

Jarang sekali yang memenuhi syarat lengkap bahwa keluarga A melaksanakan cara 1 sepenuhnya atau cara 2, dst. Seringkali para orang tua terjebak diantara dua jenis pengasuhan. Apapun, sesuaikan dengan tujuan pendidikan yang ingin kita capai. Dan sebagai keluarga muslim, tentunya tuntunan pendidikan anak dalam Islam menjadi rujukan terbaik guna mencetak generasi rabbani.

Ditulis dengan penuh cinta dan semangat
Salam hangat,
Esa

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s