Danisy Bilang “Aa Suka Sekolah Baru”

Acara pelatihan “Yuk Jadi Ayah Idola Anak” hari ahad 8 Juni kemarin itu membuat saya meyakinkan diri bahwa Danisy sudah besar. Disana saya mulai belajar melepaskan Danisy.

Acara pelatihan ini menyediakan Kids corner dimana anak usia 2 tahun ke atas disarankan menggunakan fasilitas tersebut. Danisy sebenarnya sudah bisa dilepas main sendiri. Tapi di tempat ramai.. Saya sempat sangsi.

Setibanya kami di tempat pelatihan, saya dan anak-anak segera masuk sementara suami memarkirkan kendaraan. Seketika Danisy langsung terfokus pada toko mainan yang ada di sebelah stand pendaftaran. Sempat merengek sebentar tapi saya coba alihkan. “Nanti lagi ya A” dan Danisy mengikuti saya menuju arah Kids Corner (KC).

Saat tiba di KC, Danisy masih memegangi jari saya erat.
“A, lihat dikasih senyum” melihat name tag dengan stiker ikon Smile menjadi ide yang muncul tiba-tiba. Danisy pun mencoba memperhatikan benda yang disebut “senyum” itu. Pendamping KC mendekati kami, “siapa namanya?” Danisy tak menjawab. Saya yang menjawabkan.
Mencoba langsung mengalihkan “Aa mau senyum warna apa?” Pendamping KC paham dan langsung menyodorkan “hijau atau merah?”
Kali ini Danisy menjawab. “Hijau”.
Nametag pun diberi nama sesuai dengan form yang saya isi. Bagian belakang diisi nama saya sebagai orang tua.
“Aa masuk kesana ya?”
“Sama ummi”
Sempat bingung karena acara sudah dimulai. Suami yang sudah selesai memarkirkan kendaraan pun mendatangi saya. Akhirnya saya memutuskan ikut gabung dulu dan meminta suami naik lebih dulu untuk ikut acaranya. Saya kemudian ikut masuk dan menemani Danisy untuk “pemanasan”. Kalau sudah nyaman semoga mau ditinggal. Saya meyakinkan diri bahwa Danisy adalah tipikal anak yang hanya butuh waktu untuk berbaur dan mencoba. Apalagi ini lingkungan baru baginya. Berbeda dengan Danisy, Azam yang tengah saya gendong, langsung minta turun. Hihi.. Azam memang terlihat lebih mudah dan supel.

Beberapa saat mainan yang disodorkan masih dilirik saja. Melihat balok kayu, “A, lihat ada banyak balok kayu. Bisa buat bagunan”. Lego yang sudah mulai dimainkan pun dilepas kemudian ia meminta saya mengambilkan balok kayu aneka bentuk itu. Azam sendiri lagi asyik dengan satu box lego.
Saya ambilkan box berisi balok kayu. Saat box dibuka, Danisy langsung antusias. Membentuk tumpukan balok menjadi bangunan sesuai imajinasinya. “Lihat mi. Bagus ya?” Saya mengangguk pelan “iya”.
Nampak Danisy sudah mulai menikmati permainan di KC. “Aa, ummi ke atas dulu ya. Aa disini main. Di sebelah sana ada buku. Kalau aa mau baca, ambil aja. Bilang ibu guru, pinjam bukunya. Bilang ibu guru juga kalau aa mau dibacakan buku”. Danisy mengangguk tanpa melihat saya karena asyik dengan baloknya. Saya cium keningnya. “Mana buat pipi ummi?” Baru kali ini ia merespon. Mencium kedua pipi saya bergiliran sambil tersenyum. “Makasih ya. Ummi sayang aa.” Ia tersenyum lalu kembali pada balok kayu yang tengah ia mainkan.
Perjuangan berikutnya mengajak Azam menyudahi permainannya. Hehe. Butuh beberapa waktu. Melihat kakaknya masih asyik, Azam tak mau beranjak. Mungkin berharap ia juga bisa disana. Main. Ah tidak tega karena harus ada pendamping untuk anak usia 1 tahun. Akhirnya Azam berhasil dibujuk dan saya pun naik ke lantai atas untuk mengikuti pelatihan.
Ah, Aa Danisy sudah besar ya. Sudah bisa sendiri. Saya hanya harus memberikan kepercayaan pada Danisy. Belajar melepasnya dengan teman dan gurunya. Hari ini kami berdua sama-sama belajar.

Saya hanya mengeceknya sebanyak 2x. Kali pertama ia tengah senam, kali kedua ia sedang berhitung bersama pendamping KC sambil entah ngapain (memang jarang fokus melihat gurunya saat dites) lalu nimbrung ke temennya yang sedang membuka buku.

Ia membawa oleh-oleh gambar kura-kura hasil mewarnai dengan menggunakan cat air dan layangan dengan kreasi tempel kertas hingga membentuk sebuah objek.

Ah lega..

Usai acara Danisy bilang “Aa suka sekolah baru, Mi”
Padahal itu bukan sekolah barunya. Tapi ini semakin menguatkan saya bahwa Danisy lebih cocok dengan gaya belajar dan sekolah dengan sistem bermain sambil belajar (ya, semua anak akan seperti itu tentu saja) 🙂

Ditulis dengan penuh cinta dan semangat
Salam hangat,
Esa

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s