Stop Mengeluh di Ruang Publik

Pelajaranna berharga saat menjenguk nenek kemarin siang. Karena lumayan jauh, saya dan mamah memutuskan menggunakan jasa tukang becak untuk ke rumah nenek usai turun dari angkot di daerah sayati. Sebenarnya ada becak yang lagi “mejeng” di deket perempatan tapi karena pas turun dari angkot ada becak yang lewat, mamah manggil tukang becak itu. Awalnya si bapal becak nawarin harga 15.000, mamah nawar 10.000. Saya ga suka sih nawar sebenernya cuma kalau mamah udah begitu agak sudsah dilarang. Akhirnya deal dengan harga 12.000.
Perjalanan pun dimulai. Sekitar sepertiga hampir sampai ke rumah nenek, mamah bilang mau turun aja biar si bapak becak ga terlalu berat. Saya melarang karena harga yang disepakati adalah harga untuk kami naik dan rencananya mau dibayar sesuai yang pertama kali si bapak tawarkan, 15.000. Baru saja berencana, si bapak yang sesekali ngobrol mulai mengeluhkan beberapa hal. Bahwa ia masih lemes, baru aja sembuh dr sakit thypus. Sebenarnya ga masalah tapi nada mengeluh itu jelas saya dengar. “Saya tadinya mau pulang. Biasanya mangkal di King (sebuah tempat perbelanjaan di alun-alun Bandung – lumayan jauh dari sayati).” Ya kami kan ga maksa beliau nerima. Mamah sendiri dengan nada kasihan menjawab “kenapa atuh Pak, kalau baru sembuh mah istirahat dulu aja di rumah sampai benar-benar sembuh”. Si bapak tak menjawab. Ah mungkin tak terdengar. Tapi tak lama berselang, si bapak ngomong lagi “masih sakit disini dan disini”. Dan begitulah keluhan berlanjut. Saya yang semula mau melebihkan uang jasa jadi males juga. Kok kayak keberatan nganterin kita. Kayak ga bersyukur Allah ngasih penumpang padahal kan kalau pun ia menolak ya gapapa toh ga jauh dari sana juga ada tukang becak yang mangkal lumayan banyak.

Entah tindakan saya benar atau ngga dengan mengurungkan niat bersedekah. Tapi rasanya males aja kalau denger pedagang atau pemberi jasa yang suka ngeluh. Cerita boleh tapi nada keluhan itu yang mungkin bikin orang ill feel. Mungkin itu juga berlaku untuk kita. Pelajaran berharga bagi saya pribadi bahwa saat melayani konsumen atau sejenisnya, baiknya jangan keluar keluhan sedikit pun atau bersumpah untuk dagangan kita. Pengalaman juga sih ketemu pedagang yang suka nawarin kelewatan (pake sumpah misal “bener ini bagus pak. Serius saya” malah bikin ill feel gamau beli. Lagipula itu kan ga boleh setau saya.
Jadi yuk belajar untuk tidak mengeluh supaya Allah memantaskan kita untuk rejeki yang lebih baik dan banyak. Agar keran rejeki tak tersumbat sehingga rejeki yang sudah disiapkan untuk kita mengalir dengan lancar ^_^

Tulisan ini dibuat melalui aplikasi WordPress for Android

Salam hangat
Esa

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s