Si Untung

Si Untung. Demikian nama yg ku tahu. Sesosok lelaki yang dulu sering lalu lalang di sekolahku. Sekolah SD.

Dia nampak seperti orang linglung. Banyak yg bilang dia memang agak terganggu jiwanya.

Dulu saat sy kecil, ia jadi sosok yg menakutkan saat ia melemparkan senyumnya pd kami. Terkadang memang senyumnya nampak menakutkan seperti senyum iseng. Tak aneh jika banyak anak yg satu sekolah dengan kami, takut melihat Si Untung.

Sy sendiri tidak tahu asal usul lelaki yg dikenal dengan nama Si Untung itu. Yg sy tau hanya “ia lelaki aneh”. Kerjaannya dulu nampak seperti pemulung. Ya, pemulung adl hal yang tak lumrah bagi kami saat itu. Sekitar tahun 1994-2000 selama kami bersekolah di SD. Bagi kami profesinya saat itu aneh dan tentu saja sering kali menakutkan ketika ia berbalik menghadap kami.

Pekan lalu sy ada di sebuah bangunan menunggu orang yang mengantarkan barang, sy melihatnya lg. Di bangunan bekas Hero -sy menyebutnya demikian krn ketika sy kecil dulu, bangunan ini adalah “mall” pertama di wilayah tempat kami tinggal dan yang paling terkenal ya Hero nya itu (meski sekarang jadi gudang aja kayaknya). Di Bandung sih Hero udah ga ada kayaknya ya. Kalau di Jakarta masih sempat lihat. Terakhir lihat “logo Hero” itu pas masih kerja di Terakorp, di belakang gedung kantor.

Kembali ke Si Untung. Saat tengah asyik menunggu di gedung bekas Hero, dia lewat di pinggir jalan. Cukup jauh dr tempat sy duduk menunggu. Tp krn hanya terpisah lapangan luas, tentu sy dapat dengan mudah mengenalinya. Selalu menggunakan topi, celana di bawah lutut dan kaos. Selalu seperti itu. Dari dulu. Sudah hampir 20 tahun ya..

Beberapa kali berpapasan, dia tak lg semengerikan dulu. Entah mungkin krn sekarang sy sudah besar atau memang dia sudah tidak “seagresif dl”. Seringkali berpapasan saat ia mendorong roda berisi beberapa jirigen air. Mungkin sekarang ia bekerja di sebuah tempat penjualan air.

Si Untung sepertinya tak seberuntung nama yang diperkenalkan banyak orang. Nasibnya tidak cukup Untung. Bayangkan, sudah 20 tahun berlalu. Ia masih dengan kelakuan yg hampir sama. Dan lucunya sampe saat ini sy tidak pernah tahu sedikitpun dimana ia tinggal padahal seringkali berkeliling daerah situ. Tak sempat juga bertanya pada masyarakat sekitar sekolah SD. Selama itu ia masih nampak seperti orang dengan gangguan jiwa dan bekerja serabutan. Ya setidaknya ia tidak menyusahkan orang lain (mungkin).

Maka sudah seharusnya sy bersyukur atas kehidupan sy saat ini. Meski belum bisa disebut jauh lebih baik, tp kehidupan sy dan kewarasan sy masih baik. Dan semoga selalu lebih baik dari hari ke hari sehingga bisa bermanfaat lebih lg. Aamiin

Tulisan ini dibuat menggunakan WordPress for BlackBerry.

Salam Hangat,
Esa

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s