Lelaki Kecilku yang Kedua

Lelaki kecil yang lahir menjelang shubuh setahun yang lalu itu kami beri nama Azam Kamil Nashrullah. Azam adalah nama yang sudah suami siapkan semenjak hasil USG memperlihatkan bahwa janin yang kukandung saat itu adalah laki-laki. Meski suamiku (dan tentu sebagian besar keluarga dan kerabat kami) sangat mengharapkan anak yang kukandung adalah anak perempuan, tapi kabar itu tidak lantas membuatnya kecewa hingga membuatku bersedih. Ia tetap berusaha tersenyum meski 2 kali ia kecewa. Iya, 2x. Sejak hamil anak pertama, dia amat mengharapkan anak perempuan. Entah kenapa.

Azam. Dengan begitu mantap suamiku menamai bayi kami. Lantas ia menambahkan Kamil karena nama itu adalah bagian dari nama seorang dosen yang ia favoritkan yang juga saat itu tengah ramai dibicarakan karena mengajukan menjadi walikota Bandung, kota tempat kami tinggal -sekarang beliau sudah resmi menjadi walikota Bandung-. Aku menyetujui nama itu dengan maksud memanggilnya dengan panggilan Azka, kelak setelah ia lahir. Lagipula, Kamil adalah nama yang bagus. Artinya sempurna.

Azam Kamil. Tekad kuat nan sempurna. Lantas aku menambahkan Nashrullah di ujung namanya. Tak lain agar ia senantiasa dalam pertolongan Allah dan senantiasa menolong Allah.

Tekad kuat nan sempurna dan disempurnakan Allah dengan pertolonganNya. Azam, menurut suami adalah penyemangat tekad-tekadnya. Saat mengetahui kabar kehamilanku, ia begitu bersemangat memenuhi kebutuhan kami. Meski tak sempurna, tapi kabar kehamilanku membuatnya amat bergairah.

Berbeda denganku saat itu. Perasaanku campur aduk. Kehamilan itu tidak sedang kurencanakan. Anak pertama kami baru 22 bulan saat aku tahu bahwa aku tengah mengandung janin dengan perkiraan usia 8 minggu itu.

Seperti memahami kegundahanku, Allah memudahkan masa-masa mengandung Azam. Tidak ada bed rest, tak ada mual muntah yang menyiksa (beda dengan kehamilan pertama, kehamilan kedua hanya sesekali saja mual apalagi hingga muntah). Menikmati hidangan apapun yang tersaji. Semua serba mudah. Semua serba enak.

Kelahirannya tetap butuh perjuangan seperti proses kelahiran anak pertama. Hanya kali ini kami lebih siap dengan berbagai opsi medis. Berbeda dengan kehamilan pertama, kehamilan kedua kami lebih banyak tahu apa yang harus kami lakukan, apa yang sebaiknya kami putuskan dan masih banyak lagi. Cenderung lebih tenang.

Azam Kamil Nashrullah. Berbagai perjuangan dalam melahirkan hingga membesarkannya. Semoga engkau senantiasa dilindungi Allah. Senantiasa berada di barisan terdepan ansharullah. Aamiin

Ummi sayang Azam 🙂

Tulisan ini dibuat menggunakan WordPress for BlackBerry.

Salam Hangat,
Esa

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s