Engkaulah Lelaki Terbaik yang Dikirim Allah untuk Kehidupanku

Tak pernah terbersit dalam benakku akan menikah denganmu. Semua proses yang kita lalui nampak begitu mudah, jauh dari bayanganku. Bahkan aku memang tidak sedang membayangkan akan menikah dengan siapapun.

Malam itu, aku ingat sekali. Sepulang rapat, A Agus memintaku kembali ke kampus untuk mendengar sebuah kabar. Kabar bahwa ada seorang lelaki yang hendak memintaku untuk menjadi istrinya. Masih sangat ingat saat beliau menyebut namamu, aku masih membayangkan siapa lelaki itu. Padahal kau menduduki posisi yang seharusnya cukup dikenal di organisasi tempat kita bersama menjalani aktifitas. Ah mungkin karena divisiku tidak berada di bawah komandomu langsung jadi jarang sekali aku memperhatikanmu.

Entah kenapa saat kau mengajukan lamaran, aku tak memutuskan untuk menolak. Dan saat kau meghadap kedua orang tuaku, spontan mereka mengiyakan. Padahal aku tahu bahwa kau jauh dari syarat yang diajukan kedua orang tuaku, dulu sebelum kau datang melamar.

Kau hanyalah mahasiswa tingkat akhir yang bahkan masih harus mejalani KP. Tak punya penghasilan tetap, dan berasal dari beda suku. Ah, seandai dibandingkan posisimu jauh di bawah calon lainnya. Tapi Allah menggerakkan aku dan kedua orang tuaku untuk menerimamu..

Semua berjalan begitu tak terduga. Serba dimudahkan. Meski kemudian pernikahan harus tertunda karena segera setelah prosesi lamaran, engkau harus terbang ke luar pulau untuk melaksanakan kerja praktek untuk urusan kuliahmu.

Hari itu, saat ijab qabul diucapkan, hatiku tak karuan. Aku tak pernah mencintaimu sebelumnya, tapi usai ijab qabul, perasaan itu tiba-tiba saja mulai menyeruak. Apalagi saat kau menjemputku di balik pelaminan usai akad nikah, tiba-tiba saja rasa bahagia memenuhi rongga dada..

Engkau sosok pendiam yang romantis. Sosok yang sabar dan penyayang. Penuh tanggung jawab dan pekerja keras.

Awal pernikahan kita memang tak mudah. Saat kau bergelut dengan pekerjaanmu yang begitu menyita waktu namun pada akhirnya kau tak mendapat gaji sepeserpun. Engkau begitu marah dan sedih. Tapi tak lantas membuatmu mengutuk perusahaan tempatmu bekerja. Engkau hanya berulang kali mencoba meminta hakmu meski tetap berakhir nihil. Ah, sabar sekali. Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik, doaku saat itu.

Berbagai pekerjaan kau jalani hanya untuk memenuhi nafkah keluargamu. Saat aku positif hamil dengan kondisi yang cukup payah, engkau selalu bergegas pulang meski jarak tempat kerja dan rumah cukup jauh. Engkau begitu khawatir karena kita hanya tinggal berdua. Engkau khawatir aku tak sempat makan. Kekhawatiranmu begitu jelas nampak menutupi kelelahanmu bekerja seharian. Hingga akhirnya dengan berat hati kita memutuskan pindah ke rumah orang tuaku agar ada yang dapat menjaga dan mengurusku saat kau berjihad di luar sana.

Engkau yang nampak panik tapi tegar saat menemani kelahiran anak pertama kita. Engkau yang gugup saat mengumandangkan adzan di telinga bayi mungil yang lahir dengan perjuangan itu. Bahkan engkau rela tidur di luar, di selasar rumah sakit saat bayi kita dirawat hanya untuk menemaniku, menguatkanku dan memastikan seluruh kebutuhanku terpenuhi. Dan tentu saja agar kau bisa mengetahui kondisi bayimu. Malam yang dingin beralaskan kardus saja. Engkau baru meninggalkanku saat mamah datang untuk menemaniku, menggantikanmu yang harus bekerja.

Engkau selalu mengusahakan yang terbaik. Dalam kondisi kita yang tak mudah, bisa melaksanakan aqiqah anak lelaki kita adalah sebuah karunia Allah yang besar. Ah, betapa Allah begitu sayang padamu dan anakmu hingga semua begitu mudah.

Saat menemani kelahiran anak kedua, engkau begitu sigap menemaniku. Memutarkan murattal, memutar relaksasi dan berusaha membuatku temang dan kuat. Mengelus punggungku saat kontraksi datang. Menemaniku hingga anak lelaki kedua kita lahir. Engkau begitu kuat menyaksikan semua proses.

Engkau begitu sabar menghadapiku. Ah.. beruntung sekali aku. Terima kasih untuk semuanya.

Semoga Allah senantiasa mencintaimu dan menjagamu. Semoga kelak kita bisa bersama lagi. Engkaulah lelaki terbaik yang Allah kirim untuk kehidupanku kini dan semoga hingga nanti, hingga akhirat nanti, di surgaNya. Aamiin

Bandung
With love

Kontak kami:
Belanja Keluarga
CP: Ibu Esa
Twitter/LINE/Instagram/KakaoTalk @belanjakeluarga
SMS/WhatsApp: 0878-2192-4595
Pin BB: 75B9C43A
Email: bekel.belanjakeluarga@gmail.com

Aim Desain
CP: Bapak Chalim
SMS/WhatsApp: 0852-2079-5095

Dipostingkan melalui aplikasi WordPress untuk Android

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s