Pernikahan itu Ibarat Berkendara Bersama

Malam ini sepulang dari acara main kekuar rumah, terpikir kembali sebuah pengingat. Menemukan hikmah di balik sesuatu. Dan salah satu hikmah yang dapat diambil adalah hikmah saat berkendara.

Ketika berkendara, layaknya itu adalah gambaran miniatur kehidupan berumah tangga dimana suami sebagai orang yg menyetir dan memimpin dalam berkendara sementara anak istri mengikuti di belakang. Masing-masing memegang peran penting.

Ketika akan berangkat, kita menyepakati tujuan bersama. Misal pergi ke suatu tempat. Begitu pula saat akan berangkat mengarungi hidup berumah tangga, semestinya calon pengantin sudah terlebih dahulu menentukan tujuan pernikahan dan rumah tangga yang akan dijalani. Tidak bisa berlaku kejutan atau yang penting jalan dulu -meski untuk beberapa pasangan ada juga yang menganut paham demikian-. Menikah ibaratnya menuju sebuah tempat yang menjadi tujuan bersama. Bagi pasangan muslim maka tempat itu adalah surga Allah dan tentu keridhaanNya.

Di perjalanan setelah berkendara, kita akan menemukan banyak hal entah itu hal menakjubkan atau memilukan. Kita juga akan menemui perempatan, bertemu jalan 1 arah, bertemu tanjakan dan turunan dan masih banyak lagi. Seperti itu pula bayangan pernikahan. Lalu apakah kita kemudian akan berhenti di tengah jalan? Tentu sebagian besar kita akan menjawab “tidak” karena pada dasarnya sudah ada tujuan. Lantas bagaimana jika ada yang memang berhenti di tengah jalan? Itu sudah beda cerita. Lagipula jika dengan berhenti si tengah jalan justru membuat kita tetap pada tujuan, mungkin sah sah saja.

Kembali ke filosofi nikah dan berkendara. Mungkin ada yang pernah berpikir “enak ya jadi suami, ngarahin mulu kerjaannya. Kita anak istri kudu nurut”. Hmm ada benernya juga sih, tapi kan itu sudah kesepakatan di awal. Saat akan menuju sebuah tempat dengan 1 kendaraan yang sama ya harus ada  yang nyetir salah satu dan yang lain mantau dari sisi lainnya: sebagai penumpang. Merasa ga nyaman jadi penumpang karena ga bisa “ngatur”? Coba dipikir lagi deh. Setiap posisi itu ada fungsi yang hanya ada di posisi tsb, tidak di posisi lain. Lalu apakah benar seorang “penumpang” hanya bisa nurut? Saya pikir ngga juga ah. Coba deh kalau pas lagi naek motor bareng suami dan anak-anak, apa iya kita “se-takberdaya” itu? Ngga kan. Kita bisa mengingatkan saat sang pengendara ugal-ugalan, ngebut, membahayakan dll.

Dengan filosofi ini juga saya menarik kesimpulan: ya memang seharusnya seperti itu. Ada kesepakatan tujuan, jalan yang akan ditempuh, bagi-bagi tugas dan tentu saja sama-sama ikhlas dan maksimal dengan tugas masing-masing. Ini berlaku untuk kehidupan berumah tangga secara keseluruhan baik dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan anak, dsb

Bagaimana pendapat teman-teman?

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s