Rasulullah Tidak Pernah Menghardik Anak-anak

Rasulullah tidak pernah menghardik anak-anak

Sejak kecil, Anas ra menjadi khadimat/pembantu Rasulullah SAW. Hadits ini menggambarkan indahnya akhlak Rasulullah SAW terhadap seorang anak-anak yang bernama Anas ra

Dari Anas r.a., “Aku telah melayani Rasulullah SAW selama 10 tahun. Demi Allah beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan : ‘Mengapa engkau lakukan?’ dan pula tidak pernah mengatakan: ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”

(Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Adab 5578, Muslim, Kitabul Fadhail 4269, dan selain keduanya)

Rasanya tertampar sekali membaca hadits di atas. Betapa ti4, saya pernah dan bahkan mungkin sering marah atau pun menanyakan “kenapa ga gini? kenapa ga gitu?” pada anak. Tak hanya kita tapi juga orang sekitar kita bahkan guru anak-anak kita.

Sudah seharusnya kita malu jika melakukannya. Bagaimana mungkin seorang yang mengakui bahwa ia seorang muslim dan mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya tapi tidak mencontoh bagaimana Rasulullah bersikap. Astagfirullah.

Benarlah bahwa anak bisa menjadi fitnah, ujian. Tak hanya ujian di sisi sulit tapi juga di sisi bahagia sekalipun. Proses kehadirannya yang sudah dengan susah payah, ditambah proses mendidik yang luar biasa butuh effort, segala kebutuhannya membuat kita belajar terus menerus tanpa henti. Islam sesungguhnya telah menyediakan berbagai tools parenting yang harus kita pelajari agar mampu menciptakan generasi rabbani di masa mendatang. Banyak hal mengenai anak dan rumah tangga yang saya akui belum bisa saya maksimalkan dalam mencari ilmunya dan penerapannya.

Banyak yang mengatakan penerapan tak semudah teori ada benarnya. Sebagai seorang ibu khususnya, ketika kita mengetahui sebuah teori dan mencoba menerapkannya di dunia nyata pada anak atau keluarga kita memang tidak mudah karena kita harus menyesuaikan dengan kehidupan nyata. Menyesuaikan dengan medan yang kita hadapi.

Menghardik anak menurut beberapa literatur jauh lebih menyakitkan bagi anak dibandingkan memukul anak. Logikanya masuk sih. Luka di hati yang tertoreh memang diakui lebih melekat dibandingkan luka di tubuh. Bentakan bagi anak selain melukai harga diri anak, juga melukai hati dan perasaannya. Apalagi jika ia dibentak di depan umum.

Pandai-pandailah menjaga harga diri kita dan anak dengan tidak nembentak atau memaksakan kehendak pada anak. Berhentilah menanyakan “kok kamu gitu sih? kenapa kamu kayak gitu? kenapa kamu ga ngelakuin ini itu seperti perintah ibu?” dengan nada kesal. Cobalah untuk memahami kenapa anak begini dan begitu. Kalaupun mau bertanya, bertanyalah dengan nada cinta dan hanya antara ibu dan anak agar privasinya terjaga 🙂

 

 

 

 

 

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s