Obrolan Yang Selalu Ramai

Bergabung di beberapa grup dengan aneka bahasan, selalu terselip sebuah bahasan “menarik”. Bahasan menarik apa sih koo sampai ditulis di blog segala?  Berarti penting ya? Mm.. Jujur,  penting ga penting sih. Tergantung sudut pandang juga.

Ya ini sekadar uneg-uneg aja sebenarnya.  Karena bahasan seperti ini selalu ada hampir di semua grup. Baik grup sesama online shop owner, grup ASI, grup tumbuh kembang anak apalagi grup curhatan ibu-ibu, pasti ada di sela obrolan ngalor ngidulnya. Bahasan tentang MERTUA dan IPAR. Tuh kan, langsung pada senyum-senyum mengiyakan 😀

Ga harus melulu hal baik, hal buruk juga ada bahasannya. Tapi saya perhatikan, bahasan tentang keburukan 2 pihak itu yang paling sering dicurhatkan. Bukan berarti bahasan tentang orang tua sendiri ga dibahas. Ya ada juga tapi prosentasenya tidak sebanyak mertua dan ipar, terlebih mertua perempuan.

Ga tau juga kok merhatiin para ibu banyak yang seperti bermusuhan dengan mertuanya. Analisa saya sih mungkin karena sama-sama perempuan yang mencintai 1 lelaki yang sama dan sama-sama merasa memiliki si lelaki yang disebut suami (atau anak bagi mertua). Jadi ada semacam kecemburuan yang tak disadari. Dan untuk urusan anak juga mungkin karena sama-sama sayang sama anak jadi ingin memberi yang terbaik dengan cara pandang masing-masing. Tapi ga tau juga dig. Itu cuma tebakan saja.

Di grup ASI misalnya, bahas mertua yang ga setuju dengan pemberian ASI atau meminta (dengan sedikit terkesan memaksa) kita untuk menyapih anak, tidak mendukung tandem nursing (menyusui 2 anak sekaligus, biasanya karena jarak usia kakak dan adik dekat) ataupun menyusui saat hamil, menyuruh memberi makan sebelum 6 bulan karena anak selalu nampak lapar dan lain sebagainya.

grup tentang pengasuhan anak, bahasannya biasanya berkisar antara perbedaan pola didik, pengungkapan rasa sayang nenek yang terkadang (terkesan) membuat anak manja (meski perbedaan pola didik memang bisa berakibat kurang baik bagi anak), nenek yang terkesan nyeleneh dan lain sebagainya.

Di grup curhatan ibu-ibu apalagi. Banyak sekali bahasannya, bahkan sampai ke hal yang menurut saya tabu untuk dibicarakan (untunglah admin selektif dan ketat meski saat admin sibuk ya postingan seperti itu bisa lolos). Tak jarang bahasannya tentang kecemburuan istri terhadap mertua. Syukurlah anggota grup ada yang bisa menjadi penasihat, meski ada juga yang ikut curcol dan yang paling parah malah kasar memaki saat tidak setuju dengan postingan atau komentar di sebuah postingan. Ah, kadang lucu aja sih bacanya. Kadang kasihan. Tapi tak jarang membuat saya bersyukur, bersyukur karena tidak mengalami yang mereka ceritakan.

Saya bukan tidak pernah berseberangan dengan mertua, tapi saya dan suami punya cara tersendiri untuk menanggulangi perbedaan semacam itu. Bagi kami ada pembagian tugas. Jika saya berseberangan dengan mertua atau ipar (adik-adik suami) ataupun keluarga besar suami, maka saya hanya perlu suami sebagai perantara. Jika sedang tidak memungkinkan, saya lebih memilih menghindar dan menunggu saat yang tepat untuk berbicara, menjelaskan duduk perkara yang dipermasalahkan. Pun suami, saat pihak keluarga saya berseberangan dengan cara didik kami terhadap anak-anak misalnya, maka saya yang akan dijadikan penengah. Saya yang menjelaskan apa yang seharusnya kepada pihak keluarga besar.

Sayangnya tak semua pasangan memiliki hal ini. Ada yang harus berjuang sendiri, dan saat salah ia dipersalahkan. Kasihan sih, tapi jalan keluarnya hanya dia dan Allah yang tau karena yang tahu persis keadaan keluarganya ya hanya dia sendiri.

Sebagai istri dan ibu, seorang wanita dituntut untuk selalu bisa lebih dibanding yang lain. Mencoba memahami kedua belah pihak. Mencoba memahami cara berpikir dan cara mendidik orang tua kita terhadap anak kita. Karena pada dasarnya setiap kakek nenek itu sayang sekali pada cucu-cucunya (dan kata beberapa orang tua di sekitar saya) melebihi rasa sayang mereka pada anak-anak mereka sendiri.

Hal itu saya menganggap benar karena memperhatikan sekitar, kadang orang tua bisa memarahi anak-anaknya tapi tidak kepada cucu mereka. Orang tua bisa menolak keinginan anaknya, tapi tidak dengan cucu mereka. Dan begitu selanjutnya sehingga tak jarang kita sendiri menemukan perbedaan mencolok cara orang tua kita bersikap pada cucunya sekarang dan pada kita anaknya dulu. Hal seperti ini terjadi pula di pihak mertua kita, hanya saja jika orang tua kita sudah sangat kita tahu sementara mertua kita baru saja kita kenal. Maka ini salah satu pertimbangan yang harus senantiasa diingat dalam bersikap. Saat orang tua salah kita bisa paham, saat mertua salah maka tanya suami agar kita paham. Saat kita marah pada orang tua kita karena ga sepaham mungkin orang tua kita bisa melupakan, tapi belum tentu dengan mertua. Disana pentingnya komunikasi. Carilah cara yang paling efektif di keluarga kecil kita untuk menghadapi keluarga besar kita berdua.

 

Para suami juga pasti bukan tak bermasalah sama sekali dengan mertua, hanya saja mereka tidak menceritakan kepada siapapun masalahnya atau ketidaknyamanannya dengan mertua kecuali pada istrinya itupun jika sudah sangat tidak bisa dipendam. Ya, penanganan masalah pada lelaki dan perempuan kan memang beda cara ya..Jadi tetap jaga komunikasi dengan suami agar kita semakin paham cara bersikap yang baik dan benar. Agar ada pertimbangan lain selain pertimbangan kita sendiri. Setuju?

 

 

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s