Tidak Semua yang Berjualan Siap Jadi Pedagang (Pebisnis)

Tulisan ini adalah cerita uneg-uneg di diskusi grup beberapa hari lalu. Kalimat yang menjadi judul tulisan ini adalah pernyataan teman saya di grup. Yep, saya cukup setuju.

Sebagai praktisi online shop (jyaaa serius nih), saya dan kawan-kawan seringkali memperhatikan dan mendiskusikan banyak hal mengenai profesi kami (boleh ya kami bilang menjalankan olshop sebagai profesi?).

Di saat penggunaan Internet meluas, orang sudah mulai merubah gaya hidupnya. Saya secara pribadi tidak ingat kapan saya benar-benar terjun ke dunia Internet marketing (baca: penjual online. Selama ini internet marketer asli biasanya identik dengan memanfaatkan keseluruhan internet untuk keperluan marketing yang sifatnya menyediakan jasa). Pertama kali mengenal internet dl hanya digunakan untuk keperluan referensi sekolah atau sekadar have fun dengan YM, FS dll. Tak terpikir sedikit pun bahwa internet dapat menjadi “sumber pendapatan”.

Dulu saya mengenal internet marketing itu sebagai jasa jualan ebook untuk mendapatkan pendapatan dari online. Tapi tak salah juga kan kalau saya menyebut online shop sebagai salah satu bagian dari Internet marketing? Mohon koreksi ya pakar internet marketing 🙂

Kembali ke bahasan. Ada banyak ragam penjual online, dari yang benar-benar pemula sampai yang sudah sangat profesional menjalankan layaknya perusahaan. Ada beragam sifat dan cara yang diterapkan para penjual online. Dari situ kita belajar banyak.

Melihat peluang mendapatkan harga yang lebih murah, tak sedikit orang menjadi penjual dadakan dengan sistem dropship (DS). Kebijakan ds sendiri berbeda di setiap penyedia barang. Tapi sebagian besar menjanjikan diskon yang cukup menarik.

Tak ada yang salah dengan itu semua. Yang menjadi perhatian kami dalam diskusi itu adalah justru penjual dadakan yang menjual dengan harga yang sangat rendah secara ritel dengan alasan membantu suami karena banyak cicilan dan kewajiban yang harus dibayar sedangkan suaminya sedang dalam kesulitan. Atau member MLM yang (seperti putus asa) menjual barang dari perusahaan MLM yang diikutinya dengan harga member secara terang-terangan. Bagi kami waktu itu serasa tidak masuk akal. Apa yang ia dapat jika ia menjual dengan harga member terus menerus? Selidik punya selidik, beberapa member yang menjual harga normal pun berkomentar. Mereka mengincar poin bonus yang dijanjikan perusahaan. Lha iya kalau dapat, kalau tidak? Setidaknya ada bonus berupa barang yang bisa mereka jual. Sepertinya keuntungannya dari sana. Demikian analisa teman kami yang juga member perusahaan MLM tersebut.

Miris rasanya membaca itu. Hanya menjual barang untuk poin bonus yang tak sepadan rasanya dengan lelah kita. Bonus plus margin tentu lebih membahagiakan.

Menjadi penjual seperti yang saya sebutkan di atas bukanlah tanpa resiko. Justru saya salut dengan keberanian mereka mengambil resiko untuk memperoleh margin tipis atau sekadar mengejar poin. Hanya saja caranya kurang tepat menurut saya. Terlalu banyak orang (baca: penjual lain) terzhalimi yang kemudian sering ditutupi dengan pernyataan “rejeki tak akan tertukar”. hmm..

Di situs Ciputra Enterpreneurship dibahas tentang 5 poin sifat pengusaha sukses yakni berani mengambil resiko, cerdas, tak malu bekerja untuk orang lain (tapi tetap mampu mengembangkan sayap wirausahanya), percaya diri dan tidak berlindung di balik gelar. Semua olshop mungkin memiliki itu semua (bahkan ds-ers sekalipun). Tapi ada tambahan poin dalam kamus olshop saya: harus tahan banting dalam menjalankan profesi ini (dan profesi apapun). Ga bisa hidup dengan satu pola hidup yang sama secara terus menerus. Semakin tinggi resiko yang berani ia ambil, semakin besar peluang untuk belajar dan berakhir dengan sukses. inSyaAllah.

Belum benar-benar menjadi pedagang jika hanya bisa DS, ia masih disebut makelar. Dan bagi mereka yang hanya mengejar poin atau bonus, ia sedang belajar untuk jadi pebisnis yang lebih unggul namun masih belum belajar arti melewati masa rugi atau masa sulit.

Mental pebisnis tidak hanya ambil resiko dalam capai target, tapi juga dalam melewati masa sulit membangun bisnis. Bukan sekadar membangun jaringan tapi juga membesarkan usahanya.

Kami juga masih belajar. Belajar untuk menjadi pebisnis yang sesungguhnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s