Ketika Danisy Tantrum di Bookfair

Tantrum dikenal sebagai sebuah sikap marah pada anak, biasanya anak pra sekolah. Tantrum diekspresikan anak dengan berbaring di lantai, teriak-teriak, menendang ga karuan dan kadang dengan menahan nafas seperti tercekat.

Ada ahli mengatakan tantrum biasa terjadi pada anak usia 2-3 tahun dan akan mulai berkurang saat usianya menginjak 4 tahun. Hal ini terjadi karena pada usia tersebut si anak sudah terbentuk kesadaran diri tapi belum cukup memahami (bukan ga paham ya) tentang makna aku dan keinginanku. Tantrum terjadi karena energi tinggi tapi belum mampu mengekspresikan keinginan dalam bentuk kata-kata.

Mungkin sebagian akan berpikiran “anakku udah lancar ngomong kok, udah bisa mengatakan keinginannya” seperti itu pula yang saya pikirkan ketika Danisy tantrum di bookfair kemarin (6/10). Tapi ada poin lain yaitu poin belum cukup memahami. Disini mungkin yang saya garis bawahi.

Tak ada pikiran sama sekali Danisy akan tantrum di pameran buku di Braga kemarin. Semua nampak baik-baik saja. Danisy memang sudah berangkat terlebih dahulu karena ikut abinya silaturrahmi dengan kawannya. Sore, kami sepakat bertemu di pameran buku. Ketika saya sampai, Danisy dan abinya sedang duduk-duduk di depan Mandiri, sedang menunggu kereta lewat katanya.

Saat bertemu saya, Danisy bilang “Aa cari cari ummi tadi teh. Nanyain ummi mana?” dengan nada ceria. Lalu saya ajak ke arah pameran buku berlangsung. Karena belum sempat makan siang, saya ajak untuk membeli makanan terlebih dahulu. Danisy makan seperti biasa. Satu-satunya yang sempet bikin dia nangis adalah ketika saya mengejarnya karena ia lari ke arah rel kereta untuk melihat kereta lewat. Dia ga tahan liat muka panik umminya. Tapi itu pun ga lama karena langsung saya gendong, bilang “gapapa Aa lihat kereta, tapi hati-hati. Lagian aa lari ke arah rel, gimana kalau aa ketabrak kereta. nanti ummi nangis” dan tangisannya pun reda apalagi tak lama berselang kereta yang ditunggu lewat.

Saat masuk area bookfair, Danisy ngajak ke stand permainan “puzzle”. Stand Grolier sebenarnya, dan ga main puzzle banget sih, tapi lebih pada game. Memang mirip permainan puzzle sekilas. Disini titik tantrumnya.

Danisy asyik mainin game di stand Grolier. Sementara saya, mencoba mencari informasi tentang produk ini. Ngobrol biasa dengan sales-nya. Danisy memainkan aneka game. Dari mulai mencocokkan (dia melakukan ini dengan sangat baik), membaca dengan talkin e pen, bahkan dibacakan buku.

Sebelum sampai di stand Grolier, kami terlebih dahulu mampir di beberapa stand lain: Sygma, Mizan, Rumah Pensil dan tentu saja stand VCD. Menarik karena Danisy betah kalau sudah bertemu buku dan vcd. Danisy mampu membuat penjaga stand betah bacain buku atau kasih buku berupa game pada Danisy. Disini Danisy ga terlalu banyak bicara. Saya pikir wajar karena memang biasanya begitu. Stand-stand sebelumnya ini hampir berdekatan. Stand Grolier sendiri lumayan di tengah keramaian.

Waktu maghrib pun datang. Saya dan suami shalat bergiliran. Suami yang shalat terlebih dahulu. Danisy masih asyik dengan Grolier sementara saya terus menggali informasi tentang produk ini. Selesai shalat, suami menghampiri kami. Saya ga punya pikiran sedikit pun kalau Danisy akan tantrum. Danisy masih asyik dengan bukunya. Saya beranjak shalat setelah menyerahkan Azam pada suami. Ga pamit ke Danisy, sepertinya ini penyebabnya.

Wudhu, shalat dengan tenang meski kemudian bergegas. Khawatir Azam nangis mau minta nenen. Azam yang saya khawatirkan nangis justru lagi anteng sama abinya. Saya melenggang sambil membalas BBM karena tadi bertemu supervisor Mizan ngobrolin rencana saya gabung dengan meminta add pin BB beliau. Jadi sekalian pegang hp begitu.

Saat Danisy melihat saya, sontak ia tiba-tiba menangis. Saya simpan BB ke saku dan mendekati Danisy yang tengah menangis.

“Aa kenapa?” tanya saya saat itu. Danisy tidak menjawab sedikit pun melainkan semakin kencang menangis. Saya biarkan, biasanya akan reda dengan sendirinya. Tapi saya salah. Danisy menangis semakin kencang, dibarengi tidur di lantai. Menutup mukanya sambil terus teriak. Ada raut khawatir di muka abinya. Saya yang semula mau menggendong Danisy, berpindah menggendong Azam karena Azam juga nangis minta nenen. Abinya berusaha meredakan, mencoba menggendongnya tapi kekuatan Danisy saat itu seperti kuat sekali. Danisy meronta sampai akhirnya saya minta abinya untuk membiarkan dia “ngamuk” di lantai. Saya coba mendekati sambil gendong Azam, belum berhasil. Danisy masih sama. Seorang ibu yang jaga stand bantu turun tangan, tapi tak juga berhasil. Akhirnya Azam saya serahkan pada abinya lalu mencoba meredakan tangis Danisy. Biasanya ia masih bisa ditanya dan diajak komunikasi. Tapi kali ini tidak. Mungkin kah Danisy sedang tantrum?

Apakah saya malu saat itu?  ya, ada sedikit rasa itu. Bagaimana tidak, meski banyak suara di bookfair, tangisan dan “amukan” Danisy cukup membuat orang memperhatikan kami. Tapi yang kuat mendominasi pikiran sy saat itu adalah bagaimana ia berhenti menangis, Sekuat tenaga saya peluk kemudian menggendongnya. Ia masih meronta tapi saya ga mau kalah. Saya pererat gendongan saya supaya ia ga jatuh. Saya ajak dia duduk, lalu memposisikannya di pangkuan saya. Memeluknya erat, mencoba mengajaknya berkomunikasi tapi belum berhasil. Satu-satunya hal yang terpikir saat itu adalah membacakan ayat Allah. Sy coba untuk bisa tenang, melantunkan surah al-fatihah dan ayat kursi, meniupkan ke ubun-ubunnya dan meniupkan ke telapak tangan saya kemudian mengusapkan ke mukanya. Masih saja menangis tapi sudah lebih tenang, tidak sekencang saat pertengahan tantrum. Saya gendong dia, mengajaknya melihat hal-hal yang dalam pikiran saya akan membuatnya tertarik. Belum berhasil meredam emosinya. Allah, kepada Allah saja. Allah yang menguasai Danisy. Perlahan tangisannya mulai melemah. Sampai akhirnya berhenti sama sekali saat melihat panggung dengan pantulan lampu warna-warni (padahal tadi juga dibawa kesana tapi ga mempan).

Ah, semua terjadi atas izin Allah, maka Ia pula lah yang menghentikannya. Sebuah pelajaran penting bahwa ketika kita tenang menghadapi sebuah situasi temper tantrum dalam hal ini, maka kebahagiaan yang akan meliputi saat anak sudah selesai. Saat kami lewat menuju pintu keluar pun, beberapa orang memperhatikan kami. Saya hanya melempar senyum yang dibalas senyum pula. Berterima kasih pada ibu yang tadi berusaha bantu yang akhirnya bantu pegang Azam. Sementara Danisy sudah lebih tenang, digendong abinya menuju pintu keluar.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s