Karena Adik Saya Pernah Mengamen

Hari ini dapet BC tentang situasi Bandung. Jadi keingetan mau nulis ini belum sempet aja. Sebuah cerita yang menurut saya penting dan saya belajar banyak dari cerita ini. Cerita tentang adik saya sendiri. Namanya Rudi. Sy biasa manggil dia dengan sebutan Udi, satunya anak lelaki mamah.

Kami memang tumbuh dari keluarga sederhana. Bapak hanyalah seorang pekerja serabutan yang kadang beberapa kali kena tipu atau bahkan ga dibayar (tega banget ya). Kami 3 bersaudara dan kami semua bersekolah. Bagi kami bisa sekolah sampai SMA saja sudah sangat bahagia (Udi sekolah di SMK agar bisa kerja selepas lulus).

Saya terpaut 6 tahun dengan Udi. Ingat betul ketika saya kelas 5 SD, harus menuntun dia ke sekolah karena dia masuk SD di usia 5 tahun. Menuntun dia dari madesa (rumah kontrakan kami sekeluarga) ke SD Babakan Tarogong. Bagi yang tahu Bandung pasti kebayang jauhnya perjalanan itu bagi anak sekecil dia. Bagi saya yang memang sudah terbiasa berjalan, tentu tidak masalah. Tapi bagi dia saat itu?

Saya ingat saat akhirnya bisa bawa dia sekolah naek angkot, dulu untuk memberitahu supir untuk berhenti itu ada tombol deket lampu. Belum setengah perjalanan, Udi yang masih kecil mencet tombol itu. Lucunya sy ga bilang apa-apa sama sopir dan memilih turun. Di satu sisi menghemat ongkos, di sisi lain perjalanan masih jauh. Mau marah kok ga bisa ya? Ya sudah, akhirnya kami berdua jalan kaki ke sekolah.

Selepas saya lulus SD, Udi sekolah sendiri. Alhamdulillah kami sudah pindah ke kontrakan yang lebih dekat dengan sekolah. Alhamdulillah saya diterima di SMP 10 yang juga kalau dihitung jaraknya lebih dekat daripada rumah kami yang dulu.

Back to kisah Udi. Udi terbiasa melihat saya berjualan di sekolah. Entah apa yang ada di pikirannya,  tp di pikiran saya saat itu cuma 1: ini cara saya untuk tetap bisa sekolah dan membantu mamah meringankan beban sekolah kami.

Saya sering mengajak dia berbicara. Tentang apa yang harus dia lakukan. Saat sy SMA dan dia masuk SMP, saya hanya memintanya untuk “prihatin”. Alhamdulillah mamah dapat rejeki sehingga dia bisa berangkat ke sekolah dengan naik sepeda. Mengurangi beban ongkos angkot. Ga ada istilah uang jajan,  paling ambil bekal makanan di warung kecil-kecilan yang mamah punya saat itu. Saya sendiri masih harus berjuang dapetin beasiswa meski ga full, tetep jualan dan harus mau berjalan kaki dari SMA 4 ke rumah. Udi masih setia dengan sepedanya hingga ia lulus dari SMP 25.

Sy lulus SMA, Udi tahun berikutnya masuk SMK. Dia memilih masuk SMK Prakarya Internasional karena jaraknya dekat dari rumah sehingga bisa dijangkau dengan berjalan kaki. SMK di Tegallega, rumah kami masih di babakan Tarogong. Sampai sekarang dia sudah bekerja pun, dia terbiasa jalan kaki, dari kantornya di daerah Patung Ikan sampe rumah di balik benteng perumahan Lingkar Selatan. Demi menghemat ongkos. Alhamdulillah sekarang dah bisa bantu mamah untuk urusan keuangan.

Sebenarnya secara nilai dl ia bisa masuk SMK 4, sayang saat itu ada syarat tinggi badan. Udi memang kecil ketika lulus SMP. Kalau sekarang mah jangan ditanya. Udah tinggi. Pesat dia di SMK.

Saat dia SMK, dia mulai menemukan bakat dan kesukaannya akan musik. Dari situ perjalanan cerita ini dimulai.

Saat dia SMK, saya sudah mulai kerja. Hanya saja gaji saya saat itu memang tidak terlalu besar tapi alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Udi juga dapet beasiswa dan dipercaya sama gurunya, makanya sesekali dapet “bonus”. Beban saya semakin ringan. Tapi dia punya kebutuhan lain, dia juga ingin hal lain. Entah sejak kapan ia punya ide mengamen untuk memenuhi kebutuhannya. Saya baru tahu belakangan setelah ia beberapa kali mengamen.

Dan taukah penghasilannya setiap ngamen? Memang wow, tp dia hanya ngamen saat benar-benar butuh uang. Kalau ngga, dia akan cari ide lain. Uang hasil ngamen pun sebagian diberikan ke mamah. Sy jarang tau ceritanya karena sudah pisah rumah semenjak menikah.

Dari pengalamannya itu, sy terperanjat. Ternyata untuk bisa mengamen di suatu wilayah itu harus izin dulu ke “ketuanya”. Jadi memang benar ini terorganisir. Udi ga harus setor sebagian hasil ngamennya karena dia kenal daerah itu. Gatau kenapa kok bisa ya kenal. Padahal saya taunya dia ngaji sekitaran situ, gurunya guru ngaji saya juga jadi terpantau.

Dia kenal sama pengamen di sekitaran situ. Pokoknya ga terduga sama sekali. Berbagai “fakta” tentang pengamen dia ceritakan. Ada yang bisa bikin terkagum, ada juga yang bisa bikin geleng-geleng kepala. Dia bener-bener stop ngamen setelah pernah ikut kena razia polisi. Mau dikarantina karena dianggap tuna wisma dan anak jalanan. Tapi dia memberitahukan pada polisi bahwa ia juga sekolah. Jadi ga usah ikut pelatihan dsb. Dari situ dia ga mau lagi ngamen. “malu Teh” katanya,  “saya kan sekolah, ga kayak pengamen yang lain. Sy ngamen cuma kalau butuh aja” lanjutnya.

Makanya suka dilema kalau pas ada pengamen, karena terbayang saat Udi ngamen demi kebutuhannya. Bagaimana jika pengamen ini bener-bener butuh uang. Bagaimana nasib adik saya saat itu jika ketika dia mengamen tak satu pun orang memberikan uang.

Tapi di sisi lain memang tidak mendidik. Para pengamen terbiasa mendapat uang banyak. Dan yang lebih disayangkan lagi adalah mereka yang terbiasa di jalanan jadi sedikit jual mahal. Saat walikota terpilih Bandung Ridwan Kamil memberi opsi untuk memberdayakan para pengemis dan anak jalanan sebagai petugas kebersihan kota dengan gaji standar ART pemula sebesar 700.000/bulan, mereka menolak. Mereka mengajukan syarat agar gaji mereka 4-10 juta. Wow banget ya berarti penghasilan mereka..

Maka mulai sekarang, ga ada lagi jatah ah.. Yang beneran pengen berubah pasti nerima tawaran dari Pak Ridwan Kamil.

Alhamdulillah Udi ga sampe keenakan ngamen. Apalagi jadi anak jalanan. huhu.. semoga ngga.

saya dan mamah jujur merasa terbantu saat dia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri meski dengan cara yang agak nyeleneh. Sekarang dia sudah bekerja. Saat ini keinginannya adalah kuliah. Saya untuk sementara hanya bisa dukung dan doakan. Untuk pendanaan sudah saya tegaskan bahwa saya ga bisa janji bantu.

Satu hal yang selalu saya tekankan pada adik-adik saya: timbanglah segala sesuatu sebelum memutuskan. Timbang baik buruknya. Timbang efek ke depannya.  Dan ingat: selepas SMA, kamu adalah orang dewasa yang sudah harus bertanggung jawab atas kehidupanmu sendiri. Ga ada lagi minta uang ke ortu dan ke teteh. Mandiri. Belajar bertahan dan belajar dewasa apalagi laki-laki. Teteh aja bisa, kalian juga pasti bisa lebih baik dari teteh.

Alhamdulillah dengan begitu adik-adik terbiasa belajar menimbang semua keputusan dengan berbagai elemen terkait. Terbiasa meminta saran dan pandai mengambil keputusan.

Udi sejauh ini sudah bisa survive. Ketika akan mengambil keputusan, dia bicarakan dengan saya dan juga orang tua. Sejauh ini dia sudah makin dewasa.

Teteh sayang dan bangga sama Udi.

Meski kadang suka nyeleneh, tapi kalau tetehnya udah ngomong mah suka nurut.. masukin informasi trus dicerna abis itu dikembalikan ke forum diskusi di keluarga.

Semoga Allah senantiasa menjaga Udi dalam ketaatan. Aamiin

2 thoughts on “Karena Adik Saya Pernah Mengamen

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s