Perjalanan Belanja Keluarga – Sebuah Awal

Belanja Keluarga

Mid November 2010, sy melahirkan anak pertama yang kami beri nama Danisy. Saat itu ada rencana akan melanjutkan kuliah setelah Danisy agak besar. Saya lupa bagaimana mulanya sy bertemu dengan seller coolerbag yang saya beli tapi seingat sy waktu itu ada SMS penawaran. Harga yang ditawarkan sangat murah (bagi saya saat itu) dibanding dengan barang serupa di pasaran. 1 paket coolerbag (tas+icegel) plus 10 botol tutup karet harga total 100.000 (di luar ongkir). Kenapa sy bilang murah? Karena saat sy “googling” rata-rata harganya di atas 100.000 belum gel dan botol. Akhirnya beli. Alhamdulillaah terpakai sampai Danisy selesai ASI.

Ga lama setelah beli barang itu, sy memutuskan mulai berjualan. Masih bingung mau jualan apa, tetiba sy “dipertemukan” Allah dengan produsen coolerbag yang saya beli. Sy ditawarkan dropship, sy jalankan. Harganya ternyata jauh lebih murah dari harga yang saya beli (dari segi harga patokan ritel), tapi sy bersyukur karena sudah tahu terlebih dahulu barangnya.

Awal mula sy berani mengajukan sistem konsinyasi adalah saat supplier tidak bisa memberikan opsi ongkos kirim yang paling terjangkau untuk customer sy di luar pulau. Dapet lah harga ESL yang terjangkau saat itu. Sy sampe “keliling” Bandung untuk nemuin cabang yang mau nerima botol dan gel. Via telpon akhirnya ketemu ESL di Pasar Baru yang mau nerima. Hasil timbangan, ternyata hanya kena 2kg sementara sy charge 3kg ke cust, sy janji refund. Eh pas udah sampe ternyata gel-nya ga ada. Sy memang ga cek ulang isi paket karena sudah dipak. Alhamdulillah supplier baik banget mau kirimin gel dgn ongkir beliau yang tanggung. Dari situ jadi ngerasa ga enak sama supplier. “Iseng” coba ajuin sistem konsinyasi. Dari situ sy mulai serius menjalani online shop. Bermula dari dropship, berlanjut ke konsinyasi. Karena bagaimanapun lebih nyaman ngepak barang sendiri. Alhamdulillah supplier bersedia menerima ajuan konsinyasi yang sy berikan.

Setiap barang habis, bapak selalu jadi “kurir” andalan. Saat itu Danisy masih kecil, mulanya sy ikut bapak ambil barang tapi lama kelamaan diambil bapak sendiri aja boleh. Supplier sudah mulai percaya. Maka sy pun memulai online shop yang sebenarnya: terima order, packing, kirim.

Lalu kenapa namanya Belanja Keluarga? Sy lupa persisnya karena olshop sy bermula dari nama Mudafais: singkatan nama anak pertama sy, Danisy. Yang saya ingat kenapa berakhir dengan nama Belanja Keluarga adalah ada celetukan tentang singkatan “bekel” baru cari-cari nama yang “dirasa sesuai” dengan singkatan itu, ketemu lah nama Belanja Keluarga yang kemudian terus dipakai hingga saat ini. Harapannya kami bisa terus tumbuh besar sebagai online shop yang menyediakan berbagai kebutuhan keluarga.

Semula banyak barang sy jual dengan sistem katalog dan dropship, tapi seiring berjalannya olshop, sy menemukan segmen pasar tersendiri: perlengkapan ASI yang kemudian berkembang menjadi perlengkapan ibu dan bayi karena customer juga sih yang “mengarahkan”. Alhamdulillaah sudah ribuan transaksi yang diselesaikan. Ada suka duka. Banyak belajar dari pengalaman dan akan terus belajar dari anda semua: customers, resellers, suppliers.

Selamat berbelanja di Belanja Keluarga. Nikmati terus tulisan sy di blog web Belanja Keluarga ini.

Salam hangat,

Esa Puspita G.

Owner and Founder Belanja Keluarga

*Anda dapat membaca tulisan-tulisan saya yang lain di blog sy: Aisha Azkiya.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s