Setiap Anak Unik – Part 2

Setiap anak itu unik. Proses kehamilannya unik, proses kelahirannya pun punya cerita sendiri.

Dua kehamilan, dua-duanya berakhir induksi dan lahir melebihi HPL. Tapi ada sedikit perbedaan.

Ketika hamil Danisy dulu, sy berfokus pada ilmu ASI. Saat itu saya ga punya bayangan sama sekali tentang ilmu kelahiran. Maksudnya? Gini.. saat hamil Danisy yang saya baca adalah artikel perkembangan janin dan hal-hal terkait kehamilan. Selain itu, aktif mencari ilmu mengenai ASI dan menyusui. Tak ada bayangan sedikitpun tentang kata-kata induksi, caesar dsb karena sy pikir kehamilan sy tidak bermasalah. Melahirkan ya begitu begitu saja. Sy tidak tahu menahu tentang apa yang harus sy lakukan saat akan melahirkan.

Saat itu sy hanya memantau perkembangan janin, alhamdulillaah sehat. Yang sy tau maksimal usia kandungan itu 42 minggu. Itu saja. Maka saat usia kandungan 41 minggu belum ada ciri kontraksi atau ciri melahirkan lainnya, sy hanya “menurut” ketika dokter bilang “ibu, mulesnya dipaksa aja ya.” Kemudian tercetus kata “kalau berhasil, bisa normal. Kalau ngga, berarti harus operasi” deg. Operasi? Sy ini jarang banget ketemu dokter. Sakit juga jarang bgt ke dokter. Ini kok tiba-tiba divonis operasi? Alhamdulillaah panggul cukup utk kepala bayi sehingga masih punya opsi lahiran normal.

Sama dokter udah disuruh masuk saat itu juga. Tp sy ga mau. Sy mau pulang. Menenangkan diri agar berani ambil opsi untuk melahirkan dengan hal terburuk (bagi saya) harus caesar. Sepulang dari RS sy langsung masuk kamar. Nangis. Suami yang menjelaskan pada keluarga ttg kemungkinan norma-caesar krn saat itu menemani periksa,

Mohon doa dari temen-temen. Minta penguatan dan meminta maaf. Alhamdulillaah support temen-temen luar biasa. Akhirnya ba’da Isya sy baru kembali ke RS untuk proses induksi. Sy baru dapet ruangan tengah malam. Induksi pun dimulai sekitar jam setengah 1 dini hari. Hampir ga bisa tidur karena ketakutan sy akan operasi masih ada. Suami mencoba mengingatkan dan selalu mendampingi. Jam 6 masuk ruangan bersalin, pasang infus induksi. Perjuangan sekali. Saat itu Idul Adha, suami izin pamit shalat Id, digantikan mamah yang menemani.

Menjelang zhuhur kontraksi semakin kuat. Jujur saat pembukaan masih 8 sy teriak manggil suster, sy udah pengen ngejan tp ga boleh. Ditinggal sama nakesnya. Hiks. Tega. Ga ngasih tau lebih detil cm bilang “jangan ngejan dl sebelum pembukaan lengkap”. 14.26 pas Idul Adha, Danisy lahir. Selamat. Sehat meski sempet dapet kode “hijau” dari bidan. Gagal IMD. Inilah titik saya belajar lagi. Setelah Danisy lahir, sy belajar banyak tentang apa itu induksi, bahayanya, kapan harus diambil tindakan induksi dan bla bla bla sampai akhirnya ketemu yang namanya Gentle Birth (GB).

Saat hamil Azam, berbekal beberapa ilmu GB dan komunitas WA ibu-ibu yang melaksanakan GB, sy terus memberdayakan diri agar proses kelahiran Azam lebih baik dari proses kelahiran Danisy. Meski tetap berakhir dengan induksi, tapi sy bisa merasakan bagaimana kontraksi, bagaimana menikmati kontraksi, bagaimana mengatur nafas untuk mengurangi rasa sakit saat melahirkan, dan bagaimana peran penting suami berikut apa saja yang sebaiknya dilakukan saat akan melahirkan. Posisi, pengaturan emosi dsb.

Melahirkan Danisy, sy ga bisa melihat awal dia dilahirkan krn terlalu capek. Tapi saat Azam lahir, sy melihat saat kepalanya keluar. Sy melihat saat tali pusarnya dipotong dan sy sangat menikmati IMD.

Seringkali merasa bersalah pada Danisy. Tapi sudahlah. Itu tidak akan merubah prosesnya. Sekarang yang terpenting adalah mendidiknya dengan baik. Itupun masih belajar banyak.

Konon proses kehamilan dan kelahiran berpengaruh pada sifat dan sikap si anak. Sy hanya berdoa agar anak-anak baik Danisy ataupun Azam tumbuh menjadi seorang yang bermanfaat bagi umat, bagi kebaikan orang banyak. Terlepas bagaimana saat ia dikandung ataupun dilahirkan.

Danisy dan Azam memang dua anak yang berbeda. Danisy cenderung agak manja tapi semenjak adiknya lahir ia sudah semakin mampu bersikap dewasa. Suaranya lantang dan cenderung anak yang pemberani. Ketika temannya memukul misal, ia tak segan membalas pukulannya. Cenderung self-centered (mungkin karena anak pertama jg kali ya). Agak sedikit cengeng tapi teguh dalam keinginan. Kemampuan motoriknya oke meski sempet “telat” merangkak di usia 9 bln tapi sudah bisa berjalan di usia 11 bulan. Kemampuan verbal agak sedikit harus diperhatikan krn ia belum terlalu fasih dalam mengatakan beberapa kata meski secara garis besar orang lain sudah mampu memahami bahasanya. Ia akan bercerita pada siapapun dan berhenti saat kalimatnya selesai, menunggu respon balasan berupa “tebakan cerita” dari pihak lain. Menunggu ceritanya direspon. Lalu bercerita lagi.

Sangat senang dengan buku dan diceritakan isi buku, tapi sedikit kurang suka disuruh belajar membaca tapi mampu membacakan buku sesuai imajinasinya. Sangat suka pada puzzle dan balok. Cenderung pendiam di kelasnya tapi lantang berbicara. Berani menjawab sesuai apa yang ada dalam pikirannya meskipun jawabannya itu belum tepat. Danisy sangat artistik. Mungkin mewarisi darah abinya. Senang fotografi, senang sama hal-hal yang indah.

Sementara Azam, belum terlalu bisa dilihat. Tapi sejauh ini kemampuan motoriknya melebihi kakaknya dulu. Lebih “cerewet” dibanding kakaknya dl saat seusianya. Tapi suaranya ga senyaring kakaknya. Kuat menahan kreatifitas kakaknya. Cenderung lebih tenang tapi sering mengalah.

Sambil terus mencoba mempelajari kedua anak lelaki kecil itu, sambil terus menggali ilmunya agar mereka tumbuh sesuai bakat minat dan kesenangannya. Agar mereka dapat tumbuh optimal jika pendidikannya sesuai.

Mari belajar lagi ^_^

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s