Setiap Anak Unik – Part 1

Sering mendengar istilah seperti itu? Bahwasannya setiap anak itu unik. Ya. Dulu, ketika anak pertama kami: Danisy masih kecil, sy hanya meyakininya sebatas agar tidak membandingkan ia dengan orang lain sebayanya. Ketika ia sudah dapat tengkurap di usia 3 bulan, sering dipuji. Namun tak jarang ada sindiran ketika Danisy belum juga kunjung merangkak. Alhamdulillaah keluarga sudah terkondisikan untuk tidak ikutan nyinyir atau khawatir.

Tapi lain hal ketika lahir anak kedua kami, Azam. Ada saja komentar pembanding meski sering diakhiri “tapi tiap anak kan beda-beda”. Agak sulit memang untuk tidak membandingkan. Sesekali kami pernah membandingkan Azam dan Danisy. Meski kami lalu sering menepis itu agar tak berkelanjutan.

Setiap anak memang unik. Mereka hadir dengan cara berbeda pula.

Danisy adalah cucu pertama dari pihak keluarga saya dan juga dari pihak keluarga suami. Kehadirannya memang sangat kami tunggu karena sy baru hamil setelah 3 bulan pernikahan. Jadi semua orang sayang Danisy. Bisa dibilang, Danisy  kemudian menjadi anak kesayangan semua orang, bahkan adik-adik saya jg sangat bahagia dengan kehadirannya. Anak yang ditunggu-tunggu. Apalagi mamah memang sangat menginginkan cucu laki-laki.

Proses kehamilan Danisy agak sedikit membuat sy harus bed rest. Kehamilan baru diketahui di usia sekitar 8 minggu. Awalnya karena telat haid tp sy biarkan. Hanya saja pusing yang tak berkesudahan dan tiba-tiba mencium nasi itu sangat tidak mengenakkan. Padahal sebelumnya baik-baik saja. Beras yang sy masak hari itu adalah beras yang biasa sy masak.

Saat hamil Danisy, sy sedang ikut proyek kantor sehingga tidak bekerja di kantor melainkan di proyek kantor. Disana ada lift. Setiap kali naik turun lift, pusing teramat sangat dan terus berlanjut ketika sy berada di gedung hingga keluar gedung. Ada apa kah gerangan? Akhirnya kami memutuskan membeli test pack dengan hasil dua garis tapi garis kedua pudar. Ragu, akhirnya bertanya pada mamah dan uwa. Ternyata dinyatakan positif. Ga berhenti sampe situ krn masih agak ga percaya, beberapa hari kemudian coba periksa ke puskesmas ga jelas hasilnya. Akhirnya setelah suami bisa izin ga kerja, USG ke RS, usia kandungan saat itu dinyatakan 11 minggu. Bahagianya saat itu. Tapi karena hampir tidak bisa berkegiatan, akhirnya sy mengerjakan pekerjaan kantor di rumah itupun cukup sulit mengerjakannya karena mual muntah dan ga bisa makan. Proyek selesai, sy resign.

Sy tidak mengalami morning sickness karena mual muntah itu bisa datang kapan saja, ga hanya pagi hari. Jika mencium bau yang mencetuskan mual muntah, bisa muntah sampe keluar cairan kuning. Kalau inget itu rasanya gimanaaaa gituh 😀

Beda dengan kehamilan Azam. Sy benar-benar tidak tahu. Saat itu sudah akan Ramadhan. Shaum Ramadhan pun full karena sy tidak haid. Ga ada kecurigaan apapun saat itu. Saat mudik ke rumah mertua, sy sempat jalan-jalan ke Jogja (PP Kebumen Jogja) pake motor. Selama disana sering banget kesana kemari. Masih gendong-gendong Danisy (usia Danisy saat Ramadhan baru 21 bulan), masih enjoy nyusuin Danisy (meski sempet ada insiden dipaksa sapih Danisy dengan alasan Danisy sudah berusia ganjil padahal sy sudah komitmen menyusui hingga 2 tahun), dan pulang ke Bandung pake motor pula. Ga ada keluhan sedikitpun.

1 minggu setelah sampai di Bandung, baru deh kerasa pusing teramat sangat. Awalnya berpikir karena kecapean. Tp rasa pusing itu tak kunjung hilang meski sudah rebahan. Akhirnya beli testpack, eh hasilnya 2 garis jelas. Waw. Antara kaget campur seneng campur bingung. Danisy saat itu baru 22 bulan.

Penasaran akhirnya cek USG, usia kandungan sudah 8 minggu. Okey.. Kamu sudah hadir nak. Ucap saya saat itu.

Alhamdulillaah ga ada keluhan berarti saat hamil Azam sehingga Danisy ga terlantar dan masih bisa ngurusin rumah dan suami. Danisy masih tetap menyusu.

Saat mengetahui sy hamil, tantangan yg sudah bisa ditebak adalah: sapih. Hampir setiap orang di keluarga meminta sy menyapih Danisy. Tp saya masih bersikeras menyusui Danisy krn toh 2 bulan kemarin ga ada keluhan sama sekali hingga saat Danisy 2thn, usia kandungan 4 bulan juga ga ada keluhan. Lanjut deh.

Hamil Azam bener-bener beda. Nafsu makan ga berubah. Apalagi sekarang untuk 3 orang: sy sendiri, janin dan Danisy (krn masih menyusui). Cara menyikapinya pun berbeda. Malah kadang seringkali “lupa” kalau lagi hamil saking “anteng”nya hamil tanpa keluhan berarti.

Bersyukur banget sehingga banyak waktu bisa dipergunakan untuk mengurus dan mengajak Danisy berbicara. Bahwa Danisy akan punya adik. Sekarang ada dede bayi di perut ummi, dsb. Danisy pun semakin memahami apa yang harus ia lakukan dan beberapa hal lain. Danisy selalu jd orang pertama yang “ngontrol”, ngingetin minum obat lah, ngajak dede bayi ngobrol lah, bahkan izin nenen. Lucu. Anak seusia itu begitu dewasa mempersiapkan diri menyambut adiknya. Bahkan seringkali Danisy membantu saya saat sy terbaring sakit atau kelelahan. Entah dengan mengambilkan minum, ambil makan sendiri dan makan sendiri, ambilin makan buat sy. Dan masih banyak lagi.. Danisy seneng banget meluk adeknya dengan memeluk perut sy yang semakin membesar. Ah, rasanya indah sekali saat itu..

Danisy dan Azam seolah tumbuh bersama sedari Azam masih di dalam perut. MaSyaAllah..

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s