Menjadi Ibu, Harus Siap Belajar Sepanjang Waktu

Pernah denger katanya menuntut ilmu itu sedari lahir hingga wafat nanti. Sedari lahir kita terus belajar dari sekitar kita melalui penglihatan, pendengaran, meraba dan sejenisnya. Semakin besar semakin banyak yang perlu kita pelajari, bahkan setelah kita menyandang titel sebagai seorang “ibu”.

Tentu ini tidak sebatas pada ibu saja melainkan untuk semua orang. Tapi dalam blog ini sy membahasnya dari sisi pandangan sy sebagai seorang ibu.

Memiliki anak seperti mendapat “tantangan” untuk terus mencari ilmu. Dan dari ilmu tentang mendidik anak, kita sekaligus belajar tentang bagaimana menghadapi orang lain. Ya, seringkali dari ilmu mendidik anak, dapat diterapkan di kehidupan lain secara keseluruhan.

Ketika sy mengikuti kuliah online di grup WA dan FB, sy belajar bagaimana mengatur emosi. Imbasnya tentu bukan hanya pada anak, tp juga pada suami dan keluarga serta orang di luar sana secara keseluruhan. Kemudian sy belajar tentang kombinasi makanan pada MPASI anak, sy sekaligus belajar tentang food combining utk diterapkan di keluarga. Bahkan pernah kami sekeluarga mencoba makanan tanpa gula dan garam saat Danisy dl MPASI.

Belajar menghadapi tantangan parenting, belajar menjadi guru, belajar menjadi role model. Seringkali sy belajar justru dari anak-anak.

Saat ini misalnya, sy sedang belajar tentang homeschooling. Ini bukan semata tentang menyekolahkan anak di rumah, tapi bagaimana agar waktu belaar di rumah itu efektif sehingga menjadi “pondasi” anak di luar sana. Dari ilmu homeschooling dan parenting, sy belajar bagaimana memahami cara belajar anak, bagaimana cara menyikapi anak di sekolah, bagaimana mengarahkan anak sesuai bakat dan kesenangannya, bagaimana agar anak belajar dengan cara yang menyenangkan, belajar bagaimana mengenali potensi anak dsb.

Sy menerapkan itu pada Danisy. Banyak hal yang belum sy kuasai ternyata. Tapi ga ada istilah terlambat kan?

Saat Azam lahir, sy benar-benar belajar memiliki dua orang anak. Sy dan suami seperti terlahir kembali di kehidupan baru. Kehidupan dimana kami sudah berempat. Belajar lebih dewasa justru dari anak-anak..

Sy belajar melakukan berdasarkan prioritas agar rumah tetap rapi, pendidikan anak dilaksanakan, kebutuhan suami pun tetap terpenuhi. Sy belajar lebih pandai mengelola dana agar mencukupi kebutuhan anak-anak dan keluarga. Belajar tentang memanfaatkan segalanya dengan sebaik-baiknya.

Sy mungkin telat dibanding teman-teman yang lain yang lebih hebat. Tapi sy akan mengusahakan yang terbaik bagi anak-anak sy. Itu kenapa saya terus belajar. Pendidikan terbaik berbasis rumah krn rumah dan ibu adalah madrasah pertama dan utama yang akan menjadi pondasi kehidupan anak kelak.

Punya anak bukan sekadar hamil dan melahirkan, tapi jauh melebihi itu. Karena ia adalah amanah Allah, maka tugas kita adalah mengetahui potensinya dan menjadikan ia bibit unggul sehiingga ia dapat tumbuh menjadi seperti perumpamaan Allah: akarnya menghujam ke tanah (pondasi kehidupannya kuat, keyakinan dan ketaatan serta pengenalan kepada Allah kuat), batangnya kokoh menjulang tinggi ke langit (kuat dan tinggi pengaruh dan kehadirannya), daunnya lebat memberi keteduhan (mampu memberikan kesejukan dan kenyamanan pada sesama, bukan jd “pengganggu”) dan buahnya manis nan ranum (bermanfaat bagi sesama, memberikan banyak kontribusi kebaikan dalam masyarakat).

Salah satu tujuan menikah adalah memiliki keturunan. Menikah menjadi penggenap din. Menikah dan ketaqwaan memiliki kesejajaran “nilai” yakni setengah din. Pantas saja, menikah memang bukan hal mudah karena dari pernikahan itu akan lahir anak-anak yang harus kita didik agar menjadi mujahid Allah. Menikah bukan sekadar menyatukan dua hati, tapi menyamakan visi sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan dalam rumah. Peradaban tidak akan terwujud tanpa ilmu tentang membangun peradaban itu sendiri.

Anak-anak tidak akan tumbuh maksimal tanpa pemahaman yang benar dan menyeluruh tentang mendidik dan membesarkan anak-anak. Bukan semata tentang makan minumnya, bukan semata tentang pemenuhan kebutuhan jasadiyahnya tapi juga tentang kebutuhan pengembangan diri secara maksimal, kebutuhan akan penanaman aqidah yang benar, kebutuhan akan tumbuh optimal menjadi seorang muslim yang berdaya dan berjaya.

Menikah bukan sekadar menghalalkan apa yang haram, tapi juga membangun masyarakat. Dari pernikahan akan lahir anak-anak yang kelak menjadi bagian dari masyarakat. Dan dari sana perubahan paling awal yang dapat kita lakukan di masa depan. Dengan hadirnya anak-anak kita juga belajar menjadi role model kebaikan.

Banyak contoh dimana saat kita tidak mampu memberikan nasihat, maka anak-anak yang memberikan nasihat dan didengar. Anak-anak begitu polos, maka lukislah segala hal baik dalam dirinya dengan tanpa paksaan. Jadikanlah ia tiket menuju surga, sebuah pembuktian bahwa kita bertanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan. Karena tidak semua orang diberi amanah berupa anak, maka menjaga dan mendidik mereka adalah salah satu tanda syukur kita kepada Allah. Semoga Allah menghadiahkan surga.

Mendidik anak adalah aset memanfaatkan ilmu. Jika ia tumbuh menjadi seorang yang shalih dan bermanfaat, maka kita punya 3 aset pahala tak terputus: ilmu yang manfaat, shadaqah dan anak yang shalih yang mendoakan orang tuanya 🙂

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s