Penghasilan dan Gaya Hidup

Hmm.. tulisan ini sebenernya pertanyaan juga sih, tentang gaya hidup setiap orang.

Ketika pendapatan bertambah, gaya hidup berubah. Bener ga sih? Nah, ini tergantung temen-temen deh mau jawab apa. Tapi yang sa rasain dan sa perhatiin, ketika pendapatan bertambah, gaya hidup pun berubah. Taro aja mahasiswa yang biasa-biasa aja ketika berpenghasilan lumayan gede, dari mulai hape, pakean ampe makan pun berubah gaya. Makan awalnya selalu liat harga mana termurah yg penting makan. Atau kalo pengen enak, ya berkorban dikit. Tapi begitu udah berpenghasilan cukup, dia bisa nikmatin makanan yg lebih enak di tempat yg sedikit lbh elit lah klo boleh dibilang gituh. Bukan ga liatin harga, tapi udah ga terlalu khawatir ga ada duit buat pulang. Kendaraan udah punya, buat sekadar biaya parkir ada, makan pun ada.. nothing to worry about.

Selain penghasilan, lingkungan pun berpengaruh. Klo temen-temen kita biasa makan di tempat-tempat elit, kita bakal kebawa. Klo pas ga punya duit kita bisa bilang ngga, pas berpenghasilan cukup kita bisa dengan gampang bilang iya. Atau kita berusaha keras biar akhirnya kita “satu level” dengan mereka dan kembali menikmati gaya hidup para elit. Nobody knows d reason. Hanya pribadi masing-masing yang bisa menjawab itu.

Ada lagi. Biaya hidup juga nambah dengan sendirinya dengan bertambahnya penghasilan. Mungkinkah itu karena gaya hidup berubah? Bisa iya bisa juga tidak. Tergantung penyikapan dan realita.

Kenapa tergantung penyikapan dan realita. Penyikapan kembali pada sikap sabar dan syukur. Realita kembali pada kenyataan yang setiap saat memang biaya hidup pun bertambah. Kalo dulu sekadar ngebiayain diri sendiri, sekarang ngebiayain keluarga yang biaya keluarga pun terus berubah seiring perjalanan waktu. Believe it or not, itu terjadi. Biaya pendidikan, sanda pangan papan semua berubah dan bisa tergolong lebih tinggi dibanding sebelumnya. Coba deh perhatiin.

Hmm.. jadi kunci agar tidak terjerumus adalah rasa syukur. Karena pendapatan bertambah klo ga dibarengi syukur dan sabar bisa-bisa kebablasan. Syukur atas apa yang kita dapat, sabar dalam menghadapi cobaan berupa kelapangan dan kekayaan. Dan banyak orang terjerumus dalam ujian yang enak.

Sabar dalam memenuhi keinginan kita karena berlimpahnya harta. Sabar untuk memilah mana yang penting dan mana yang ingin. Penuhi dulu yang penting baru klo emang tega yang ingin. Nah jangan lupa juga buat saving untuk persediaan ke depannya.

Ya, apapun.. yang namanya kesabaran dan rasa syukur itu harus selalu ada kapanpun dimanapun dalam keadaan apapun. Penghasilan boleh mempengaruhi gaya hidup, atau mungkin seperti kata aa, gaya hidup mempengaruhi penghasilan. Whatever. Akan selalu ada pengaruh dan perubahan yang kita lalui yang mesti kita hadapi. Maka kita harus pandai-pandai menyikapi.

2 thoughts on “Penghasilan dan Gaya Hidup

  1. Salam,

    Inspiratif dan membangun, ditambahkan boleh ya 🙂 .

    Terkadang ada beberapa hal yang kurang diperhatikan dalam maksud penghasilan dan gaya hidup. Hal terpenting itu adalah representasi dan penghormatan diri kita sbg tanda syukur dan ikhtiar. Apa ya maksudnya???

    Walau kita sudah berserah diri kepada Allah yang telah menyediakan segala sesuatu, tetapi tetap hal tersebut harus di ketahui dan diteliti. Seperti, kalau ke kantor dan ternyata dan kolega kita bertambah dengan pencapaian kita, pastinya ada hal yang berlaku selanjutnya, kesejahteraan dan pencitraan. seperti berlebihan dalam kalimatnya tetapi sebetulnya penting, kalau kita masih disitu2 aja dengan kebiasaan kita, pasti pendapatan kita mandeg, dengan keuntungan yang diperloleh dan kita syukuri dengan menambahkannya pada keseharian kita, maka kita terlihat baik pada dipandangan rekan kita (tentunya sebelumnya kita sudah baik dulu), dengan demikian komunikasi dan kelancaran sudah mulai terbentuk. Aa gym bilang “Menjemput Rezeki”, ya ini ikhtiarnya.

    sama dalam keseharian, biasa makan yang biasa2 aja, kita tambah dengan syukur, sekarang dengan keuntungan yang didapatkan ditambahkan beberapa lagi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup kita (sekolah, buku, makanan, perhiasan, sikap hidup, menabung, bergaul di masyarakat, dll). jadi citra diri kita bertambah sebagai bentuk syukur dan usaha baru menjemput rezeki. mudah2an dengan sikap yang jelas ini menjadi cermin bagi lingkungan sekitar sehingga termotivasi untuk lebih berusaha dan pembelajaran.

    Suka

  2. hoho. jadi merasa tersindir, nih.

    v(^_^)

    emang gitu, sih. abang juga ngalamin. waktu jaman kuliah dulu gak bisa beli buku yang disuka. sekarang dah kerja, seenaknya aja ngambur2in duit gaji buat beli buku. kek bales dendam gitu. parah banget, dah. (doh)

    pengendalian diri itu penting, namun terkadang susah diterapkan. makanya, dengan diciptakannya bulan ramadhan ini umat Islam dianjurkan untuk lebih berusaha mengendalikan dirinya.

    tapi /tapi lagi/ di indonesia tuh aneh. ramadhan dah mo abis bukannya tingkat pengendalian dirinya semakin tinggi tapi justru malah merosot. konsumtip banget menjelang lebaran. gak rakyat jelata gak bangsawan, semua berbondong-bondong ngabisin duit. parah, dah. (doh)

    Suka

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s