Proses Pendewasaan

Hmm.. masa 17 tahun emang udah sekitar 4 tahunan sy tinggalkan. Tapi masa pencarian jati diri dan pendewasaan diri itu masih terus berjalan hingga saat ini. Banyak ilmu yang terkuak ketika kita belajar semakin dewasa menyikapi segala sesuatu. Belakangan ini bahasan tulisan difokuskan pada satu bahasan tiada akhir, cinta. Bukan karena sa sedang jatuh cinta, bukan. Bukan pula karena sa sedang patah hati. Tapi karena belakangan ini sedang diajarkan tentang cinta. Cinta yang sa sendiri terkadang merasa, “kemana sa selama ini, baru paham hal-hal seperti ini”.

Dimulai dengan menyelami samudera rasa, memilah dan memilih rasa dan mendalami diri sendiri. Ya. Di usia 21 ini sa belajar banyak mengambil pelajaran kehidupan. Didewasakan masalah dan didewasakan CINTA. Belajar menyikapi cinta dengan pandangan berbeda. Memandang cinta dari sudut berbeda. Belajar melihat dari berbagai sudut pandang.

Pada dasarnya ketika kita mencintai seseorang, maka kita hanya perlu memikirkan bagaimana kita memberika kebahagiaan pada orang yang kita cintai. Bukan berarti kita egois. Ga gitu jg. Tapi tarohlah ketika kita mencintai seseorang, maka pilahlah.. apakah rasa cinta itu rasa yang harus memiliki atau hanya perasaan simpati. Bukan bermaksud membedakan agar seperti ini dan seperti itu, melainkan kita harus bisa mengukur kedalaman cinta kita. Ukur pula keraguan kita. Ukurlah diri kita. Ketika kita mencintai seseorang, bukankah yang kita inginkan dia bahagia.

Jika menurut Allah kebahagiaan orang yang kita cintai adalah dengan hidup bersama kita, maka itu adalah karunia. Namun jika ternyata kebahagiaan itu muncul dengan ia tak bersama kita, maka itulah cinta. Terkadang ia diuji dengan tidak memiliki. Disanalah diperlukan kedewasaan bersikap. Dalam pernikahan misalnya, jika dipikir lagi kenapa sih kita menikah? Toh urusan kita tetap urusan masing-masing. Kita dengan Allah, pasangan kita dengan Allah. Ga ada yang spesial. Memenuhi nafsu biologis, mungkin.. memberikan ketenangan.. mungkin. Tapi taukah landasan terkuat yg bisa menyatukan cinta kita? Sy menikah karena Allah menyuruh sy. Sy mencintai pasangan sy karena itulah salah satu penyebab turunnya kasih sayang Allah. Sy mencintai anak-anak agar cinta Allah hadir dalam kehidupan. Akhirnya semua hanya karena Allah, Allah dan Allah saja.

Lantas apakah kita egois? Tentu tidak. Setidaknya itu menurut saya. Ketika hanya Allah saja landasan kita, maka kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan Allah saja tujuan kita. Kita akan senantiasa memberikan yang terbaik. Memenuhi perintah Allah untuk mencintai dan memperlakukan pasangan dengan baik. Akan senantiasa berbuat apa yang menyebabkan Allah ridha. Indah bukan?

Dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang, akan Anda temukan banyak hal luar biasa tentang cinta. Cinta yang dilandasi keridhaan Ilahi. Bukan sekadar cinta birahi. Indah ketika tahu kisah Abu Darda’ dan sahabatnya Salman AlFarisi. Indahnya kisah cinta para sahabat karena bingkai cinta mereka tak sekadar memenuhi nafsu semata, tapi juga sebagai interpretasi ibadah ketaatan kepada Allah.

So..sudah siap menjalani proses pendewasaan? Allah selalu punya skenario terbaik mendewasakan kita. Dan Allah selalu punya hadiah terbaik untuk setiap kenaikan tingkat kita..

Selamat menjalani proses kedewasaan. Terima kasih untuk kakak-kakakku dan keluargaku dan sahabatku yang mengajarkan banyak hal luar biasa.

Terima kasih sudah semakin mendewasakan sa dan membantu sa untuk menapaki jalan kedewasaan..

One thought on “Proses Pendewasaan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s