Memahami Diri

Tengah merenung. Mengapa diri ini begitu rapuh menghadapi ujian. Antara cita, asa dan tanggung jawab. Bukanlah hal yang mudah bagiku saat ini membagi antara pekerjaan, kuliah dan amanah lain di luar. Tak hendak melepas semuanya karena semuanya amanah. Tidak bermaksud menanggalkan salah satu karena aku menginginkan diri ini tetap berada disana.

Seorang perfeksionis sepertiku bukanlah seorang yang senang jika didahului. Seorang dominan sepertiku bukanlah seorang  yang senang diberikan kelonggaran saat yang lain bekerja keras. Seorang yang tidak suka terkalahkan secara mutlak. Aneh memang. Tapi itulah yang kini kupahami.

Ternyata aku bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah menerima setiap ketidakpastian jika ketidakpastian itu seringkali terjadi. Bukan karena aku tak mampu menyesuaikan diri, tapi lebih pada akhirnya ketidakpastian itu membuatku merasakan kelelahan yang teramat sangat. Kelelahan yang tak berpenyebab pasti dan masuk ke dalam alam bawah sadar secara tak disadari. Hal seperti itulah yang membuat fisik ini begitu mudah tumbang, membuat pikiran begitu mudah dikacaukan dan membuat suasana hati tak menentu.

Ada baiknya setiap sesuatu ditulis. Demikian nasihat seorang kawan, Pak EWA namanya. Dosen yang rajin berbagi ilmu di blognya.  Lama tak berkunjung ke blog beliau. Hari ini secara sengaja sa buka notes di FB. Bukan maksud mencari tulisan untuk mengingatkan diri, melainkan mencari tulisan mana yang belum dipublish di blog. Namun di luar dugaan, ada sebuah tulisan yang memang belum sa publish di blog. Tentang Jurus Pecinta Alam, pelajaran dari mereka untuk kita ambil dalam menghadapi kehidupan. Berhubungan dengan cita, asa dan capaian kita sebagai seorang manusia. Berikut isi tulisannya. Tulisan ini dibuat sekitar 2 pekan lalu dalam kegundahan  yang sama yang tengah sa rasa saat ini,

Mm.. ga tau belakangan ini serasa capek banget.. ya di kantor ya di kampus.. Padahal klo diperhatikan lagi ga ada kegiatan yang bikin sedemikian capeknya..

Duh jd inget sama amanah yang dikasih Pa Rio, belum lagi targetan kerja dan targetan kuliah plus targetan lain.. I think I’m under pressure now.. Wanna escape but I think it’s not d answer of this.

Ok, mari kita belajar dari para pecinta alam [ongkoh katanya saya teh suka alam dan bertualang, tapi kok pelajaran ini luput dr sy ya]

pake jurus para pecinta alam de
lihat puncaknya dulu
dan mulailah berjalan
nikmati sungai yang ditelusuri
nikmati pohon yang dilalui
nikmati kabut yang menyergap
dan tanpa sadar kita akan sampai puncak
begitulah kita sikapi target waktu
Hmm.. bener juga ya.. and then what is d peak? “target itu puncak” papar Aa. “tapi ya nikmati aja prosesnya. kalau lihat puncak terus kita bisa pusing dan jatuh ke jurang karena nggak lihat jalan. kita berani ambil resiko untuk menempuh perjalanan terukur.. bergerak cepat dan menikmati adrenalin yg memuncak”

Hmm.. again he makes me think deeply..

Jazaakallaah A..

Terima kasih Allah telah mengirimkan orang-orang hebat ke kehidupan sa.. temen-temen kampus yg luar biasa dan keluarga kecil yg juga luar biasa.. Subhaanallaah..

Maka aku mulai melangkah belajar memahami diri dan mencoba mencari solusi. Adalah teman-teman kuliahku yang luar biasa. Mengajarkan bagaimana mengenal diri, mengenali kehidupan. Terima kasih.

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s