Surat Untuk Calon Anakku

Teruntuk calon anakku
Yang masih tinggal di antara tulang sulbi dan tulang dadaku

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana kabarmu, Nak? Semoga Ananda sehat wal afiat di alam sana.

Ayahanda sengaja menulis surat ini khusus untukmu.
Meski Ayahanda tahu, kau belum bisa membaca dan membalas surat ini
Karena di sana memang tidak ada sekolah.
Namun, Ayahanda yakin kau memahaminya
Karena kita satu jiwa
Karena kau masih menyatu dalam tubuhku
Dan terutama,
Karena kau pasti cerdas seperti Ayahanda …. 🙂

Nak !
Ayahanda sangat bergembira mendengar sabda Sang Baginda Rasul,
Tentang doa anak shaleh yang pahalanya tak terputus, bahkan sesudah orang tuanya wafat
Ayahanda tiba-tiba tersadar, sabda tersebut menuntut Ayahanda melakukan dua hal:
Menjadi anak shaleh dan menjadikan Ananda sebagai anak yang shaleh pula

Nak!
Ayahanda sedang berusaha menjadi anak shaleh untuk kakek dan nenekmu
Sulit memang, karena tiada amal ayahanda yang menandingi jasa mereka
Tapi Ayahanda akan terus berusaha
Tunaikan titah Baginda

Ayahanda pun berharap
Kau seperti itu untuk ayahbundamu kelak
Mencintai, menaati dan menghormati
Ibundamu ….. Ibundamu…… Ibundamu
juga Ayahandamu ini
Itulah mimpi Ayahanda
Sebagaimana mimpi menjadikan rumah kita nanti bagaikan syurga
Supaya syurga benar-benar menjadi rumah kita

Tapi, Ayahanda merasa malu
Ketika mendengar Khalifah kedua menyatakan
Bahwa hak seorang anak dari ayahnya setidaknya tiga hal:
Dipilihkan ibunda yang baik, Diberi nama yang baik serta diajarkan Al Qur’an.
Malu …..
Karena belum mempersiapkan diri
Untuk menunaikan hakmu

Nak!
Kini Ayahanda sedang belajar memperdalam Al Qur’an
Agar kelak bisa mengajarimu A… Ba… Tsa
Agar kaupun menjadi Qur’an berjalan
Yang menerangi mayapada

O ya!
Ayahanda juga sengaja membeli buku tentang nama-nama mulia
Dengannya, Ayahanda sudah menyiapkan selaksa nama indah untukmu
Agar kau tumbuh perkasa
Dinaungi nama mulia
Yang ia adalah doa

Yang membuat Ayahanda bingung,
Bagaiamana menunaikan hak pertama
yang harus ditunaikan ketika Ananda belum melihat dunia
Karena Ayahanda tidak tahu
Apa kriteriamu tentang seorang ibu yang baik?
Ayahanda juga tidak tahu
Apakah kita memiliki selera yang sama …. :-)?

Tapi, Ayahanda yakin kau sepakat dengan satu kriteria
Bahwa calon ibumu nanti tidak boleh seorang yang shaleh
Melainkan harus seorang Shalehah

Karena jika kau memiliki Ibu yang Shaleh,
Sepertimu, Ayahandapun tak kan kuat menahan tawa
Melihat jenggot ibumu
Yang gagah jelita …… 🙂

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Yang mencintaimu karena-Nya

Calon Ayahandamu

sumber: eramuslim

=====

Sedikit diubah ah, berhubung sa seorang perempuan :mrgreen: Ya ubah aja sendiri deng.

Sa cuma ingin menyoroti kata-kata berikut,

Tapi, Ayahanda merasa malu
Ketika mendengar Khalifah kedua menyatakan
Bahwa hak seorang anak dari ayahnya setidaknya tiga hal:
Dipilihkan ibunda yang baik, Diberi nama yang baik serta diajarkan Al Qur’an.
Malu …..
Karena belum mempersiapkan diri
Untuk menunaikan hakmu

Dulu sempet dikatakan, untuk memiliki anak yang shaleh/shalehah bukan dimulai dididik ketika hamil dsb, melainkan jauh sebelum itu.. Ketika mengikuti Sekolah Pra Nikah di Salman ITB awal tahun lalu [hehe] dikatakan mendidik anak itu justru jauh sebelum kita lahir, yakni ketika kita masih dalam “perencanaan” hingga ibu kita mengandung kita, melahirkan dan mendidik kita. Kemudian ditentukan dengan kehidupan kita pra nikah hingga memilih calon suami juga sama dengan menentukan pendidikan anak kita kelak [seperti yang ditulis di surat di atas].

Fokus ke memilih pasangan hidup, ketika seorang perempuan memutuskan akan menikah, menerima lamaran seorang pria, sesungguhnya ia telah memutuskan untuk senantiasa taat pada satu orang. Ketika memilih seorang pendamping, berarti seorang perempuan telah memilih pendamping hidup, kawan, sahabat, pemimpin dan sekaligus pengganti ayah atau orang tua kita.. Kenapa demikian? Karena ketika ijab kabul sudah terucap, maka ketika itu pula tanggung jawab ayah berpindah kepada suami. Bahkan secara kasarnya bisa dikatakan ketika suami dan ayah menyuruh, maka perintah suamilah yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Dan jangan lupa itu untuk selamanya, dunia-akhirat dan mencakup banyak hal tidak hanya sekadar anak. Inget loh, pernikahan tu bukan sekadar menghalalkan yang sebelumnya haram, melainkan juga soal dakwah dan keberlangsungan perjuangan. So, jangan terburu-buru tapi bukan berarti menunda-nunda pernikahan. Menyegerakan. Itu kuncinya. Beda loh antara terburu-buru dengan menyegerakan. Terburu-buru itu tergesa alias cepet-cepet tanpa berpikir terlebih dahulu. Sedangkan menyegerakan lebih pada mendahulukan ketika sudah saaatnya, pikirkan matang-matang lalu putuskan dengan segera jika telah sampai pada jawaban, jangan ditunda. Tapi bukan berarti terus-terusan mikir jadi banyak nunda. Okeh.

Iklan

3 thoughts on “Surat Untuk Calon Anakku

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s