Indonesia Swasembada Daging

Kabar gembira sa baca hari ini dari PR online. Katanya 2010 alias dua taun lagi negeri ini bisa swasembada daging. Senangnya. Iya lah harus gituh. Secara Indonesia itu negara yang kaya. Seharusnya Indonesia yang dulunya selalu bisa swasembada, harus bisa swasembada lagi. Kesian orang-orang dalem negeri yang “kedengkek” alias kecekik dengan kebijakan pemerintah yang kerjaannya impor mulu.
Ah, semoga berita ini benar-benar jadi kenyataan ya.
Saya sendiri termasuk orang yang setuju [dan pengen banget jadi bagiannya] dengan SMD alias sarjana masuk desa. Kayaknya cuma di negeri ini ya IPB jadi Institut Pleksibel Banget [maap, orang sunda], sarjana pertanian jarang yang mau turun langsung ke lapangan. Lah, klo cuma mikir untung, buat apa masuk jurusan pertanian? Tau kan di negeri ini pertanian itu identik dengan kemiskinan dan hal negatif lainnya. Beda sama negeri lain yang petaninya itu justru orang-orang yang memang mendalami pertanian, para sarjana, master bahkan doktor di bidang pertanian. Makanya maju.
Eh, ga nyambung sama daging kan? Ada kok. Jurusan peternakan. Sepaket gituh menurut sa mah sama jurusan pertanian. Mengabdi. Itu yang perlu dipupuk di jiwa para mahasiswa kita. Termasuk sa sendiri sedang memupuk itu. Jangan aneh, klo para mahasiswa dan orang-orang pintar di Indonesia sudah memiliki kesadaran itu plus giat melakukan penelitian [seperti yang dilakukan temen-temen IPB dll], maka suatu saat negeri ini tak mustahil jadi negeri yang disegani. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa dalam kurun waktu tak lama lagi dengan perkembangan perekonomian Indonesia, negeri ini akan jadi negeri yang mendapat perhatian dunia. [sekarang aja udah gituh]
Soal SMD, memang selama ini mahasiswa juga ga bisa disalahkan. Bagaimanapun untuk terjun ke lapangan, butuh peraturan pemerintah. Jadi kita harus memperbaiki dari segala sisi yang memungkinkan untuk perbaikan negeri ini. Dan jika kita telah berhasil menjadi negara yang ber-swasembada..insya Allah, kejayaan negeri ini bisa kembali lagi. Bangkitlah wahai negeriku. Harapan itu masih ada. Selama Allah masih memberikan kesempatan pada kita, selama mentari masih bersinar dan terbit dari timur maka harapan itu akan tetap selalu bersinar.
Wallahu a’lam bish-shawwab.

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s