Persembahan untuk Seorang Ayah


Berkorban, itu yang dilakukan kedua orang tua kita hingga saat ini. Maka jangan sia-siakan kesempatan membahagiakan mereka selama kesempatan itu ada.

Kebahagiaan melihat anak-anak mereka adalah tak ternilai, maka ketika kita dapat membahagiakan mereka, hal itupun tak ternilai.

Kita hanya berkorban sedikit dibanding mereka, maka kebahagiaan mereka sudah cukup mengobati.
Kebahagiaan mereka bukan karena harta, tapi karena sesuatu yang kita anggap sepele namun amat mereka hargai, kita menyayangi mereka [meski tak seperti sayang mereka pada kita..]
Waallaahu a’lam bishshawwaab..

“Pak, jemput saya jam 5 ya?” demikian isi pesan yang kukirimkan pada Bapak. Ya, hari ini aku menunggu jemputan bapak, sama seperti hari-hari saat motor dipakai oleh Bapak. Jika aku memakai motor sendiri sih, ga usah repot minta bapak jemput.

Tak ada jawaban apapun dari Bapak. Pesan itupun kukirim setelah telponku tak diangkat. Lama tak ada jawaban. Pukul setengah lima masih belum ada jawaban juga. Waktu terus berlalu, pukul 5 sudah. Ah, kesal mulai meliputi perasaanku. Meski rasa cemas juga menyelimuti.

Pukul lima lebih ada telpon dari Bapak, “Bapak lagi dimana?” tanyaku dengan nada sedikit kesal.

“Di jalan, Teh. Hujan. Bapak kehujanan. Siap-siap aja dulu, biar nanti tinggal pergi.” tak ada jawaban lain dariku kecuali, “Iya.”

Rasa kesal itu sedikit demi sedikit memudar mendengar jawaban bapak. Maghrib, beliau baru sampai di tempatku bekerja. Klakson dibunyikannya meski sebenarnya aku sudah mengetahui kedatangan bapak dari cahaya lampu motor yang berwarna biru menyorot ke dalam ruanganku. Aku membuka tirai, melambai pada bapak. Mungkin bapak tak mendengar ucapanku. Lalu akupun bergegas menuju pintu masuk. Kudapati bapak memakai jas hujan yang sepotong-sepotong itu, hanya atasannya saja. Dengan memakai sandal jepit dan helm bututnya. Ah, bapak rela berhujan-hujanan demi menjemputku. “Bapak mau ke mesjid dulu? Nanti saya nyusul ke mesjid.” ujarku.

“Ya udah atuh bapak ke mesjid dulu. Nanti teteh ke mesjid ya?” jawabnya seraya memutar motor menuju mesjid yang tak jauh dari kantorku. Motor itu memang milikku, kubeli dengan menyicilnya dari gajiku. Mungkin bapak merasa tak enak juga jika tak menjemputku, tapi bukan itu alasan bapak menjemputku. Aku tahu itu. Karena sayangnya padaku.

Ah, bapak. Hampir semua sifatnya ada padaku, terutama sifat keras yang membuat kami seringkali berselisih paham. Seringkali kusakiti dia karena keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehingga aku harus berkorban bekerja dan mencapai obsesiku untuk kuliah tetap kulaksanakan. Bekerja sambil kuliah tanpa fasilitas memadai bukanlah hal yang mudah. Kekurangan itu ketika aku di puncak kebosanan seringkali malah menyakiti kedua orang tuaku.

Ah, bapak. Betapa kasihannya engkau dibenci oleh anak-anakmu atas ketidakmampuanmu, padahal mungkin engkau telah berusaha keras memenuhi kebutuhan kami. Padahal hanya sedikit yang kukorbankan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menjadi tulang punggung karena aku anak tertua. Doamu semoga menjadi penguatku. Membuatku sering mengingatkan diri, yang memberi rizki bukan aku, tapi Allah yang Maha Pemberi Rezeki, aku hanyalah perantara atas ketidakmampuanmu menjadi perantaraNya. Maafkan anakmu ini, Pak..

2 thoughts on “Persembahan untuk Seorang Ayah

  1. waduh kalo mo minta maaf sama Ayahanda jangan di blog sa tapi langsung nyium tangannya,trus ngakui kesalahan yang telah diperbuat oleh sa
    he2k itu sich sarannya dari jouw
    setuju ga` ???

    =====
    Hehehe..inspiring, jadi ditulis

    Suka

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s