Masih Adakah Kesempatan Itu?

19 Ramadhan 1429, 19 September 2008.

Ramadhan menjelang 10 hari terakhir. Banyak hal yang seharusnya dievaluasi. Kinerja kita di kantor, di organisasi bahkan di rumah sekalipun. Apakah kita semakin dekat dengan ALLAH?

Sebuah evaluasi besar-besaran harus kita lakukan sebagai konsekuensi dari pertanyaan di atas, Masih adakah kesempatan itu? Kesempatan yang belum tentu akan kita temui di tahun depan. Tak ada yang dapat menjamin kita akan mendapatkan kesempatan yang sama tahun depan. Tak ada yang dapat menjanjikan kita sesuatu seperti itu. Hanya ALLAH saja yang tahu.

Masih adakah kesempatan itu? Dimana kita dapat mendekat kepada ALLAH sedekat-dekatnya dengan cara yang lebih cepat dari biasanya? Sudahkah kita benar-benar memanfaatkan kesempatan yang ia anugerahkan tidak kepada semua orang itu? Sudahkah kita benar-benar mempertahankan kebahagiaan kita sewaktu awal menyambut kesempatan itu? Istiqamahlah.

Rasa malas dan nafsu yang menggebu masih menyelimuti ruang jiwa ini, menutupi pandangan hingga hilang arah tujuan. Nafsu menciptakan hijab antara aku dan ALLAH pada Ramadhan kali ini. Lalu apa yang kuharapkan? Ketika setiap orang sibuk memperbaiki diri, memperbaiki amalan dan memperbaiki setiap ruas sendi hidupnya, memurnikan lafazh Lâ ilâha illallâh.. Ketika setiap jiwa mensucikan dirinya dengan taubat, membasuh dosanya dengan shalat, dimanakah aku?

Ketika orang-orang berdiri di sepertiga terakhir malam memohon uluran kasih dari Sang Maha Penyayang, aku tertidur..bodohnya aku.

Ketika setiap orang mengumandangkan takbir, ketika semua orang mengagungkan Sang Maha Agung, sedang apa aku?

Apa yang sedang kuperbuat? Apa yang sedang kulakukan? Dimana letak syukurku atas anugerah Ramadhan ini? Dimana letak rasa rendah diriku di hadapan Sang Maha Kabir? Dimana letak rasa takutku di hadapan Sang Maha Adil? Dimana rasa harapku di hadapan Sang Maha Pengasih? Kemana saja aku selama ini? Apa yang kupikirkan? Betapa bodohnya kesempatan disiakan.

Masih ada waktu..tak pernah ada kata terlambat sampai kata itu tepat akan datang, kelak.. suatu keniscayaan.. Ia adalah kematian. Disanalah kata terlambat berlaku. Tak ada taubat yang diterima, tak ada doa yang dikabul ketika ALLAH sudah mengatakan,

“(Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” (atTaghâbûn [64]: 9)

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (al-Mu’minûn[23]: 101)

“Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebathilan.” (Al-Jâtsiyâh[45]: 27)

“Pada hari mereka melihat malaikat dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa” (Al-Furqân[25]: 22)

“Katakanlah: “Pada hari kemenangan itu tidak berguna bagi orang-orang kafir, iman mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh.””(As-Sajdah[32]: 29)

Mâsyâ ALLAH..Begitu banyak peringatanMu pada kami, tapi kami masih saja lalai..

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Ibrâhim[14]: 40-41)

Amin.

4 thoughts on “Masih Adakah Kesempatan Itu?

  1. tapi biar pun kita berbuat kebajikan Allahkan Sudah mengtakdirkan dimana posisi kita di akhirat kelak, semua sudah diatur apapun yang kita lakukan kita tetap seperti yang telah di takdirkan, Iyakan, tapi saya suka postingnya!!!!!

    🙂 sekali lagi saya ingin bilang, antum salah. ALLAH Mahaadil. Memang ALLAH sudah tahu siapa yang akan masuk neraka dan siapa yang akan masuk surga. Dia Mahatahu. Yang ingin saya balik tanya, apakah jawani tahu kalo jawani ahli surga atau neraka? Bukankah itu teritori ALLAH? Karena kita tidak tahu itulah kita harus berjuang sekuat tenaga agar kita dapat menggapai keridoan ALLAH. Saya setuju sama komentar Farijs. Wallaahu a’lam

    Suka

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s