Didewasakan Sahabat

Hmm..ada clash diantara sa dan sahabat sa. Bukan sebuah kebetulan jika kami berada dalam satu organisasi yang sama. Dan bukan kebetulan juga jika hanya kami akhwat (perempuan) di angkatan kami dalam organisasi itu.

Temen-temen pasti sedikitnya bisa menebak jika hanya kami perempuan dalam organisasi itu. Yup, semua hal yang kaitannya dengan keuangan, kearsipan, dan hal lain termasuk salah satunya mengenai konsumsi kami yang dijadikan PJ (penanggung jawab).

Nah, kemarin ada pelantikan untuk cakru [demikian kami menyebut calon anggota] yang diadakan di kawasan dago pakar. Karena rapat diadakan pukul lima sore, kami hanya mengikuti satu kali rapat dan itupun tidak selesai karena sudah larut malam. Khawatir ada fitnah, ga ahsan (ga baik). Kami hanya akan diberitahu hasilnya melalui sms ataupun email dan melalui milis. Sebelum pulang, garis besar acara sudah diterangkan.

Selang beberapa hari, sebuah notifikasi sms muncul. Dari salah seorang anggota kru organisasi memberitahukan agar kami menyiapkan makanan untuk ta’jil (makanan untuk buka puasa) para kru dan cakru organisasi pada pelantikan nanti. Ya kalo sudah “ditembak” begini, apa boleh buat. Lagipula pada saat pelantikan nanti masing-masing dari kami tak bisa ikut hadir. Soal transportasi makanan, nanti diurus sama ikhwan (laki-laki).

Beberapa hari sebelum pelantikan, belum ada kesepakatan jenis ta’jil apa yang akan disiapkan. Sa mengusulkan sop buah dan air minum [karena ga semua bisa buka tanpa air minum] karena lebih mudah dibuat dan ga makan banyak dana sehingga tak memberatkan. Tapi belum ada kesepakatan. Akhirnya usul pada mamah untuk membuatkan bolu kukus supaya mereka cukup kenyang. Dengan anggaran biaya masing-masing paling kena Rp. 1000 saja. Jadi 1000 sudah dapat bolu dan air minum. Ketika konfirmasi meminta persetujuan sobat sa itu, dia dengan dinginnya [dan itu ga enak banget] bilang semua sudah siap. No confirmation bout it? That’s not really a big problem karena pada akhirnya mamah ngasih bolu itu with no cost, jadi mikirnya ya sudah berarti temen-temen ga usah dibebani banyak. Ternyata sudah dihandle semua. Kesel? Iya. Karena itu tugas kami berdua. Tapi ya sudahlah. Sa kirim sms dengan nada biasa saja bilang “Next time, kalo udah dihandle, konfirmasi ya”. Ternyata ia menanggap lain tentang ini. Dia pikir sa marah. Waduh. Pas ga ada pulsa lagi. Untung simPATI punya sms gratis pas sahur. Sa pastikan sa ga marah. Tapi ternyata dia belum puas dengan jawaban itu. Lewat chat dia menanyakan hal yang sama dan meminta maaf. Sa cuma bilang “Ga” karena saat itu memang konsentrasi sa terpecah terutama terhadap kerjaan. Dia ternyata berpikir sa masih marah karena jawaban singkat sa. Sa coba klarifikasi dan memperpanjang jawaban beserta memberikan alasan kenapa sa menjawab singkat, dia malah berbalik menjawab, “Punten ngeganggu.” waduh, salah lagi deh.

Aduh, honey. Sa harus gimana dong buat meyakinkanmu bahwa sa ga marah. Lewat blog ini sa minta maaf kalo sa nyakitin kamu.

Pelajaran yang sa ambil, dari persahabatan inilah sa belajar banyak. Belajar bersikap lebih dewasa, belajar bersikap lebih bijak dan tentunya lebih hati-hati. Sa jadi mikir, sahabat yang udah segitu deketnya aja masih bisa clash apalagi yang ga terlalu deket. Dan sa juga mikir, gimana nanti kalo punya suami ya, mana tiap hari pasti ketemu dia. Heheh. Sa juga belajar memahami sifat seseorang dan tentunya bagaimana bersikap terhadap seseorang itu karena menyikapi seseorang tak selamanya bisa sama loh.

Wallaahu a’lam bish-shawwab.

2 thoughts on “Didewasakan Sahabat

  1. Ping-balik: Persahabatan Bagai Kepompong « Jamintul’s Weblog

  2. teknologi memang membuat kontak emosi berkurang. sms, chat, ga bisa mewakili bahasa tubuh dan nada bicara ketika berkomunikasi. jadi, kadang terjadi salah paham, deh. apalagi kalau sebelumnya udah miskomunikasi.
    saya juga ngalamin kok, sa. cuma, saya mencoba bersabar eh malah komunikasi pada adem ayem aja. hehe, gimana saya ga bingung coba? soalnya, saya sekarang memegang prinsip, no words means no problems. hehe.
    ya, akibatnya sih pada miskomunikasi mulu. haha.
    jangan dicontoh ya.
    mumpung cuma 2 nih akhwatnya, akrab2in lah. soalnya kalau ga ada dia kan kamu sendirian. mana tahan jadi akhwat sendirian di antara ikhwan segitu banyak? iya kalau ikhwannya pada baik, kalau pada jahil, gimana coba?

    =====
    heheh..iya Teh. Tapi kalo soal jd akhwat sendirian mah sy dah biasa Teh. Dari dulu, dari kecil sy anak perempuan satu-satunya diantara temen-temen, cuma karena ada kakak sepupu seumuran saya, jadi ga canggung deh [jadi lebih sering maen sm temen kakak sepupu, krn usia kami ga terpaut jauh, jadi kami sekelas waktu TK sampe SD. Temen perempuan rata-rata rumahnya jauh, jadi jarang maen. Kalo temen laki meski jauh juga kan ada kakak sepupu yg selalu jagain. Heheh]. Sampe pas kuliah dan PKL lalu kerja juga gituh. Tapi klo soal komunikasi, insyaALLAH diperbaiki. Kita dah lama sobatan sih Teh, dari SMA kelas tiga, jd saya tahu kalo dia lagi marah dsb, tapi kadang pahamnya saya ke dia yang bikin dia ga nyaman, ngiranya sy marah deh. heuheu.. :mrgreen:

    Suka

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s