Ibadah dan Kekayaan

Rasululloh SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : “Wahai
Anak Adam ! Beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi
(hatimu yang ada ) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi
kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu
dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu.” (HR. Ahmad,
Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).hadits di atas cukup mengagetkan bagi sa pribadi. Meski sebelumnya pernah mendengar hadits tersebut, namun belum terlalu “ngeh”, sampai ketika hari ini sa membacanya dan ia jelas tertulis dan insyaALLAH shahih (mohon koreksinya apabila salah) sa cukup kaget dibuatnya. Selama ini beberapa dari kita dan bahkan termasuk saya sendiri saya akui masih menganggap shalat itu ritual biasa, atau bahkan ternyata ada yang menganggapnya beban dan tentu membutuhkan waktu. Sedangkan katanya waktu itu adalah uang, waktu itu adalah pedang, bagaimana dengan kebutuhan kita akan uang dan sebagainya sedangkan waktu kita tersita oleh berbagai macam ritual ibadah.
Akan tetapi bagi seorang muslim yang baik, hal itu seharusnya tidak menjadi masalah. Karena seluruh hidup dan mati kita hanya milik ALLAH dan Ia yang selalu menjaga dan memelihara serta memenuhi kebutuhan kita. Mengingatkan diri sendiri mengenai keyakinan akan firman ALLAH. Dan sekaligus mengenai niat awal mencari rezeki, menjemput untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Jika selama bayi kita tawakkal sepenuhnya kepada ALLAH, maka ketika kita dewasa, ego, nafsu kita menguasai dan menutupi hati kita sedikit demi sedikit sehingga tak jarang membuat kita lebih mementingkan dunia. Padahal, jika kita lihat al-Quran dan memperhatikan hadits di atas, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Meski kita memang harus tetap tawazun, seimbang antara dunia dan akhirat.
“بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ”
(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًاُ() وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (11: 15-16)

dan banyak lagi ayat yang menyataka pernyataan serupa. Membuktikan pentingnya akhirat dan dunia adalah tempat untuk “menabung” untuk akhirat kita.
Bekerja adalah untuk bersyukur,
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. ” (Saba [34]: 13)
*ayat mengenai tawazun*
Kembali mengenai hadits di atas, disana dikatakan, ALLAH akan memenuhi hati kita dengan kekayaan yang berarti kelapangan dan ketenangan. Apa lagi coba puncak kebahagiaan seorang manusia selain ketenangan? Inget, harta belum tentu menenangkan loh. Dan ada tambahan lagi, ALLAH akan memenuhi kebutuhan kita. Bukankah selama ni kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan? Asalkan pas-pasan, hidup bisa berjalan. Ya, pas mau beli atau bikin rumah, pas ada. Iya kan? Janganlah berlebihan. Kan tabungan juga sebenarnya untuk membuat “pas-pasan”, pas butuh ada. Sedangkan tabungan terbaik adalah di sisi ALLAH yang tak akan dikurangi administrasi ataupun hal lain, kecuali penggugur dosa, itupun menguntungkan kita.
Sedangkan jika kita tidak sepenuhnya ibadah kepada ALLAH, janjiNya adalah pasti, kita akan dipenuhi kesibukan dan tidak dipenuhi kebutuhan kita. Pernah ngerasain ga? Kalo sa pribadi jujur pernah ngerasain. Ketika kita menjadika sibuk sebagai alasan untuk tidak shalat tepat waktu, atau untuk tidak tilawah atau untuk tidak ikut mentoring atau kegiatan bermanfaat lainnya yang diniatkan ibadah, maka justru kesibukan itu bertambah. Jadilah semakin sulit untuk shalat tepat waktu, malah shalat akhir waktu. Tiba-tiba sulit banget untuk tilawah dst. Plus, kehidupan kita terasa sempit. Selalu dirundung beban yang ga jelas. Tiba-tiba merasa kebutuhan hidup kita jadi tambah berat dst. Ternyata bisa jadi selain dosa dan maksiat yang kita lakukan, tapi juga karena kita lali terhadap ibadah kita kepada ALLAH, yang juga merupakan bibit timbulnya dosa dan maksiat. Na’udzubillaah min dzalik.
wallahu a’lam bish shawwab.

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s