Fakta Ilmiah dan Al-Quran

membaca mengenai psikologi quran dan beberapa kajian ilmiah, benar apa yang dikatakan penulis buku mengenai tata cara penemuan ilmiah yang seharusnya. Jika selama ini Al-Quran “dipaksakan” terhadap kenyataan ilmiah mengenai sesuatu dan kadang terkesan dicocok-cocokkan, maka seharusnya para ilmuwan muslim menilik kembali bagaimana para ilmuwan muslim terdahulu bekerja dengan ilmu pengetahuannya. Jika selama ini kita menemukan suatu fakta ilmiah dan ternyata “cocok” dengan al-Quran lantas dijadikan landasan untuk “mempercayai” kebenaran al-Quran, maka itu hanyalah sesuatu yang terkesan bahwa al-Quran itu bisa dipercayai jika fakta ilmiah sudah membenarkannya, padahal fakta seperti itu bisa saja berubah dalam jangka waktu tertentu. Maka seorang ilmuwan muslim haruslah mencontoh para ilmuwan muslim terdahulu, yakni mereka menggali al-Quran dan mendapatkan fakta ilmiah itu dari al-Quran. Jadi al-Quran dulu baru fakta ilmiah. Bukan tidak boleh berspekulasi dengan fakta yang sudah ada dan semakin menambah keyakinan kita, hanya saja hal itu akan memperlemah ketika suatu saat fakta terbaru yang mungkin saja bertentangan dengan fakta sekarang ditemukan. Maka seketika itu Anda akan mencari-cari alasan lain dalam “mencocokkan” fakta dengan al-Quran, jadilah seolah al-Quran itu tidak konsisten. Memang al-Quran sesuai perkembangan zaman, tapi akan lebih tepat jika dikatakan AL-Quran cocok sepanjang zaman karena ia berasal dari Dzat yang memiliki dan menciptakan kehidupan. Hanya saja jika fakta berubah, orang malah akan kebingungan. Bagi Anda yang paham mungkin tak masalah, tapi bagi saudara kita yang masih awwam, hal itu bisa membingungkan dan menjadi senjata orang yang membenci kita untuk membelokkan pemahaman saudara kita.
Misalnya saja ketika ALLAH mengharamkan beberapa jenis makanan, seperti daging babi. Beberapa mengatakan daging ini tak ada bedanya dengan rasa daging lain. Tak jadi masalah. Tapi ALLAH melarangnya dan kita harus patuh. Lalu muncullah sebuah fakta ilmiah bahwa babi dalam dagingnya membawa cacing pita yang berbahaya bagi kehidupan kita, maka beberapa ilmuwan muslim bahkan kemudian sepakat itulah penguat penyebab haramnya daging babi. Tapi ternyata muncullah fakta baru bahwa hal itu dapat dicegah dengan cara beternak babi yang lebih sehat, dan penyebaran cacing pita itupun dapat dicegah. Kali ini mereka tak bereaksi. Kemudian ada fakta lain lagi mengenai sifat yang mungkin ditimbulkan oleh daging babi berkenaan dengan *maaf* seks seseorang. Juga dengan sifat seorang lelaki terutama yang akan menyerupai babi, yakni tidak setia. Kali ini muslim seolah dibela lagi dan kembali bersuara. Tidak berlebihan dan sah-sah saja memang. Namun jika demikian, maka sesungguhnya fakta yang menentukan al-Quran bukan sebaliknya. Padahal ALLAH berkehendak sebaliknya, al-Quran adalah fakta yang tak dapat diganggu gugat, maka ia adalah sumber rujukan terbaik. Itu pulalah yang menyebabkan para ilmuwan terdahulu, bahkan yang non muslim sekalipun menjadikan al-Quran sebagai rujukan utama penelitian ilmiah mereka, karena meski mereka bukan seorang muslim, namun mereka meyakini keilmiahan dan “misteri ilmu” yang terkandung dalam al-Quran. Dan hal itu pula lah yang menyebabkan perpustakaan di Baghdad yang merupakan pusat disimpannya fakta penemuan ilmuwan muslim dibakar dan dihancurkan, sedangkan para ilmuwan muslim sendiri banyak yang syahid di tiang gantungan, di pancung dan sebagainya. Mereka dibunuh oleh para musuh Islam karena musuh Islam itu khawatir dengan kemajuan peradaban Islam yang didasari al-Quran dan sunnah Rasulullaah saw. Beberapa kitab hasil ilmuwan kita diambil dan “dipindahnamakan” oleh musuh Islam dan diakui sebagai karya orisinil mereka.
Tapi syukurlah, ALLAH mulai membukakan fakta mengenai hal itu. Dan kini, Anda tidak akan asing lagi dengan nama Ibn Sina (Avicena), Al-Kindi, Al-Khuwarizmi dll yang kini keberadaannya mulai terkuak dan bahkan dihargai oleh non muslim sekalipun karena mereka menghargai ilmu pengetahuan, bukan sensitifitas agama. Mereka cukup moderat untuk berlapang dada menerima bahwa Islam memang membawa hal yang luar biasa.
wallahu a’lam bish-shawwab.

4 thoughts on “Fakta Ilmiah dan Al-Quran

  1. Subhanakalaa ‘Ilmalana Illa ma ‘Allamtanaa Innaka Antassami’un ‘Aliim….. Wa Laa Haula Wa laa Quwwata Illaa Billahil ‘Aliimin Hakiim…

    Allahu Akbar…!!!

    Suka

  2. Al Qur’anul karim Emang sumber ilmu yang g da 2nya. Tapi jgn lupain Al Hadits juga. Soale, ibarat Al Qur’an nasi, maka Al Hadits adlh lauknya dan Keduanya emang g bs dipisahkan. Y moga2 makin bnyk cendekiawan Islam sprti dr mu yg terus menyingkap setiap tabir misteri dlam Al Qur’an beserta Al Hadits……

    Suka

  3. dari dulu farijs dah mikir gitu. kok dipas-pasin, gitu. padahal kan harusnya alurnya sebaliknya, mengkaji Quran dulu, untuk kemudian membuktikan apa yang ada dalam Quran.

    yah, makanya pendidikan itu penting. terutama sekali bagi orang Islam.

    (^_^)v

    semoga makin banyak ilmuwan Islam sekaliber Ibnu Sina dkk…

    Suka

  4. dari dulu farijs dah mikir gitu. kok dipas-pasin, gitu. padahal kan harusnya alurnya sebaliknya, mengkaji Quran dulu, untuk kemudian membuktikan apa yang ada dalam Quran.

    (^_^)v

    semoga makin banyak ilmuwan Islam sekaliber Ibnu Sina dkk…

    =====
    semoga..

    Suka

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s