Sick Man in The Sick Place

Judul ini adalah judul tulisan Aa di FS. Membaca tulisan itu, membuat sa merenung. Apakah sa jadi orang seperti itu? Lepaskanlah atribut kegiatan kita saat ini. Artikel ini sebenarnya bersifat universal. Sa kutip beberapa kalimat dari artikel tersebut

Ada hal yang kemudian terfikir malam ini. Banyaknya aktivitas bisa saja akhirnya membuat seseorang menjadi kering jiwanya dan akhirnya menjadi orang-orang yang sakit.Kesepian dalam jiwa tidak bisa disembunyikan dengan kita terbahak-bahak mentertawakan kehidupan ini karena tatapan nanar akan masih bisa terbaca jelas.

Banyaknya aktifitas membuat seseorang kering jiwanya. Sa pernah mendapat nasihat seperti itu, tapi sa lupa dari siapa. Aktifitas yang monoton atau yang membuat pikiran kosong dalam artian tidak mengingat ALLAH, jika terus menerus dilakukan tanpa perbaikan maka akan membuat jiwa gersang. Kering seolah tanaman yang tak pernah disiram.

Sa jadi inget sama kegiatan sa akhir pekan dan kegiatan sa lainnya yang cukup menyita perhatian. Dan jika tidak ada yang mengingatkan, kegiatan itu -meskipun adalah untuk sebuah gerakan dakwah- akan membuat hati kita gersang. Disadari atau tidak, ketika awal kita berjuang di jalur itu, mungkin ghirah kita tinggi. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika jalur itu sudah biasa kita lewati, tanpa disadari menjadi rutinitas yang seolah suda menjadi kebiasaan. Dan hilanglah ruh dari perjuangan itu sendiri.

Sejujurnya, sa merasakan hal itu. Dan solusinya adalah dengan mengingatkan kembali diri dan semua yang terlibat mengenai hal itu. Tak jarang bukan hanya kita saja yang kemudian menjadi sakit akibat kegiatan itu, tapi yang lain juga. Setelah itu, mencari pemecahan bersama. Biasanya dengan penyadaran atau dengan merubah cara dilangsungkannya kegiatan tersebut. Dan tentu saja memohon pertolongan dan perlindungan serta pengampunan ALLAH agar kita terhindar dari hati yang sakit. Mengembalikan ghirah dan memperbaiki niat.

Mentoring, siraman rohani, saling mengingatkan adalah air untuk menyirami keringnya jiwa dan hati. Dzikir merupakan pupuk yang baik bagi tumbuh suburnya ketenangan. Maka, jangan jadi the sick man ataupun the sick woman.

wallaahu a’lam bish shawwab.

Iklan

2 thoughts on “Sick Man in The Sick Place

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s