Fenomena Golput

Sebenernya udah lama pengen nulis tentang golput, baru kesampean sekarang. Ditambah ada berita dari KPU Bandung, sehubungan dengan Pilwalkot kemarin bahwa 35% golput alias tidak menggunakan hak suaranya. Berita ini dimuat di detikbandung hari ini. Sebuah angka yang lebih rendah jika dibandingkan pilkada Jawa Tengah yang mencapai hampir setengahnya, yakni sekitar 45,25%. Namun menurut KPU Kota Bandung angka ini lebih tinggi dari angka golput beberapa tahun ke belakang. Hmm..

Nah, masalahnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai golput ini. Sa kenal sama beberapa orang yang memang dia golput. Dia bukan pendukung calon independen kok. Dia bener-bener netral, nah saking netralna itu dia golput.

Alasan yang sa dapet beragam sih memang. Pertama, dia memang bingung mau milih yang mana. Solusinya klo begini, bagi seorang muslim adalah istikharah. Loh kok? Iya lah. Istikharah itu bukan cuma buat minta jodoh aja. Ini nih kesalahan fatal umat muslim kita. Yang namanya istikharah itu adalah ketika Anda akan menentukan pilihan, ga cuma jodoh. Sekolah, kuliah, kerja, bahkan pemilihan walikota sekalipun.

Kedua, alasannya adalah bahwa ia tak mau terlibat politik. Bagi orang-orang kaya gini, sa mau menghimbau..mau ga mau Anda terlibat baik secara langsung ataupun tidak. Ya mungkin Anda akan menjawab, “Saya tidak ingin terlibat secara langsung.” Iya sih memang. Tapi ingat, Anda tetap terlibat loh. Dan siapa tau justru ketidakterlibatan Anda lah penyebabnya.

Ketiga, beralasan hampir mirip dengan tipe orang kedua hanya saja lebih religius. Alasan mereka adalah “Saya ga suka dengan politik. Penuh dengan hal-hal yang buruk. Saya tidak mau terlibat dan dimintai pertanggungjawaban mengenai yang saya pilih.” Semula ketika mendengar itu sa sempet mikir, bener juga ya ni orang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, semua orang akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan hidupnya. Ingat, atas pilihan hidupnya. Jadi mau milih atau ngga, tetep dimintai pertanggunjgawaban. Milih si A atau si B akan dimintai pertanggungjawaban juga. Jadi, tetep dimintai pertanggungjawaban. Anda akan dimintai pertanggungjawaban karena Anda tidak memilih. Padahal siapa tau jika Anda memilih, calon yang terpilih adalah pasangan yang membawa pada perbaikan.

Sekali lagi, jika pilihan Anda jatuhkan setelah Anda istikharah maka Anda akan dituntun kepada pilihan terbaik. Dan disanalah Anda memiliki nilai lebih, melibatkan ALLAH.

Nah, kalo tipikal orang-orang seperti yang diduga oleh KPU, yakni orang-orang yang golput karena calon pasangan mereka tidak lolos verifikasi maka mereka adalah orang paling egois. Logikanya, mereka mencalonkan pasangan untuk perbaikan kota *atau daerah* mereka ke depannya. Jika karena tidak lolos verifikasi lantas golput, itu egois namanya. Pantas dipertanyakan lagi niat awal mereka mencalonkan pasangan untuk kepala daerah. Jika niatnya bener-bener, kita bisa seperti salah satu pasangan yang tak lolos verifikasi, SyNar. Mereka berkomitmen daripada golput, alihkan suara. Melihat pasangan mana saja yang memang sesuai dengan visi misi mereka dari awal. Seperti itulah seharusnya. Bersama membangun daerah yang dijadikan tempat tinggal kita, dalam hal ini Bandung.

7 thoughts on “Fenomena Golput

  1. Ini tulisan klise banget :-p

    Tipikal aktivis yang dilanda “romantika politis”.

    Coba lihat data, lalu analisa kenapa trend golput cenderung meningkat. A-priori-nya masyarakat hampir 100 % adalah kesalahan mereka-mereka yang sibuk berpartai. Menjadi semakin apatis, ketika jargon “dakwah” ditarik ke ranah politik praktis, dan para pelopornya kehilangan konsistensi dan lupa pada akarnya. Halal bukan berarti thoyyibah. Tak pantas seorang qiyadah menunjukkan gaya hidup mewah di depan para kader yang bergelimang dengan kesulitan materi. Apatah lagi jika mereka kemudian dengan pandai memanipulasi atas nama ikhlas, jihad dan perjuangan untuk membenarkan trik-trik politik yang tak lagi bersih.

    Ustadz Rahmat Abdullah allahu yarham pernah bernasehat :
    “Jangan sampai nanti orang-orang tarbiyah dibenci gara-gara berorientasi kepada kekuasaan. Dia tidak boleh berbangga dengan bangunannya. Lalu tertidur-tidur, tidak pernah mengurus urusan hariannya. Tetap dia harus kembali kepada akar masalahnya, akar tarbiyahnya. Tempat kancah dia dibangun.”

    Jika nasehat ini tidak didengar. Justru menurut saya, Allah menjaga kita dengan semakin banyaknya golput di negeri ini. Karena ada doa yang diajarkan nabi,”

    “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan orang yang tidak mempunyai rasa belas kasihan kepada kami menjadi pemimpin kami”

    =====
    Yup, setuju Kang. Yg pasti, I’m not the activist u said above. Sa sejujurnya ga terlalu suka sama politik. Ya, saya hanya menulis apa yg sedang sy pikirkan saja ditambah obrolan sama temen-temen yang golput jd inspirasi tulisan. Jika menilik lebih dalam lagi, kembali kepada pendidikan politik jg yang disadari atau ngga sudah diberikan oleh para politikus di negeri kita. Kita lalu ga bisa diam begitu aja. Yang pasti kita tetap butuh pemimpin. Perkuat doa dan dekatkan diri pada ALLAH.

    Suka

  2. golpun berarti sebuah pilihan berarti menerima pilihan orang lain, karena tidak memilihpun pemimpin tetap ada, rupanya pendidikan politik pentingnya. lam kenal, kunjungi dong gua

    =====
    lam kenal jg. Iya, pendidikan politik sesungguhnya penting banget buat masyarakat kita yg heterogen dan tentunya pendidikan politik ini akan berakibat pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap politik itu sendiri. Masyarakat selama ini kan cuma “nebak-nebak” dr realitas yg ada.
    Btw, kunjungi kemana nih? Linknya ga ada
    😕

    Suka

  3. kalau nulis jangan singkat donk?
    karena dosen2 ku kutu buku.
    cari bahan bahasan yang padat, jelas dan menarik.

    =====
    hmm..thnx sarannya. Tp tulisan ini sa tulis berdasar referensi dari media online [sy cantumkan kok link nya] sm obrolan dengan teman-teman yg golput, bukan dr buku. Jd sorry ya :mrgreen:

    Suka

  4. Memilih adalah hak. Tidak memilih juga adalah hak. Alasan seseorang memilih dan tidak memilih tentu berlain-lainan. Ada karena apatis, adapula karena sakit hati atau malas saja. Untuk meminimalisir golput sebaiknya digunakan pendekatan persuasif agar yang bersangkutan dapat menggunakan hak pilihnya..
    Fenomena golput memang meninggi belakangan ini lantaran rakyat sudah putus asa terhadapa para pemimpin yang abai pada masalah rakyat. 🙂 🙂
    Salam

    Suka

  5. Ping-balik: Fenomena Golput | lowerautoinsurance

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s