Semangat Mencari Ma’isyah..Halal Berkah

Hari ini hari yang cukup melelahkan, bukan karena pekerjaan kantor tapi lebih karena ga ada kerjaan kantor. Ya bukan ga ada banget sih, tapi kerjaannya ga terlalu numpuk. Alhamdulillaah, bi-idznillaah sa maen ke situs dakwatuna. Disana ada sebuah judul menarik mengenai harta kekayaan. Judulnya “Kayalah lalu masuk syurga” tulisan Rikza Maulan, M.Ag.

Sebuah tulisan yang bagus yang seharusnya dibaca oleh semua orang untuk memperbaiki cara berpikir kita mengenai harta.

Sedangkan bagi sa pribadi, tulisan itu adalah tulisan penyemangat sa untuk lebih bersungguh-sungguh lagi memperbaiki kehidupan dari segi ma’isyah sekaligus memperbaiki niat sa mencari ma’isyah. Juga jadi pengingat dan menjadi hiburan atas segala keluh kesah sa selama ini. Semua bermakna di sisi ALLAH.

Dari Abi ‘Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. Bersabda, Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah. (Muslim)

Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (mememerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (Muslim)

Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian.” (Al-Anbiya: 35)

Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan wanita. Karena sesungguhnya fitnah Bani Israil adalah pada wanita.” (Riwayat Muslim)

Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan beramal salehlah karena sessungguhnya Aku mengetahui apa yang kamlian lakukan’. Dia juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian’.” Lalu Rasulullah saw. menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut masai dan berdebu. Ia mengadakahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan.” (Muslim)

“Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”Abdurrahman bin ‘Auf

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik harta yang saleh adalah yang ada pada orang saleh.” Beliau juga memerintahkan kepada kita, “Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma.”

Shadaqah kepada orang misikin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan).” (At-Tirmidzi)

Perjuangan Islam jelas tidak mungkin tanpa dukungan finansial.

Sekarang sa sudah mulai terbuka mengenai shadaqah kepada kerabat. Kerabat terdekat akan semakin besar ganjarannya alias bermakna lebih :mrgreen:

Tapi sa juga ingin mengomentari mengenai pernyataan penulis tentang

Ke manapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat berinfak jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita terlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja yakni ayat 111 surah At-Taubah, yang maknanya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan mendapatkan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”

Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu.

Sa bukan ga setuju dengan pernyataan itu, tapi sa hanya ingin menambahkan bahwa mungkin alasan ALLAH menyebutkan harta terlebih dahulu selain agar kita bersegera untuk itu tapi juga karena harta adalah hal yang lebih mudah dan jadi pertama dapat diinfakkan untuk jihad. Sementara berinfaq jiwa adalah infaq terberat. Sehingga ALLAH bermaksud mengatakan bahwa berinfaqlah dengan yang lebih lapang dulu sambil terus menambah keyakinan dan berinfaq dengan yang lebih dari itu.

wallaahu a’lam.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s