Arti Sebuah Mimpi

Ketika beberapa hari ini sa merenungi mengenai beberapa kejadian yang terjadi di sekitar sa terutama dalam kehidupan sa pribadi..ada sebuah kenyataan yang cukup aneh bagi sa pribadi. Sebuah kenyataan dari mimpi-mimpi yang sa miliki selama ini.

Anda boleh saja tidak sependapat dengan saya, tapi saya akan tetap menceritakan apa yang saya simpulkan.

Mengenai mimpi, semua orang setuju bahwa setiap orang mesti memiliki mimpi. Dan mimpi itu harus setinggi langit tapi tetap realistis.

Lalu sa sendiri setelah mengalami kejadian-kejadian selama ini jadi mempertanyakan, sejauh manakah batasan realistis itu? Dan apakah yang disebut setinggi langit itu?

Sa membatasi setinggi langit itu adalah tidak terbatas. Sejauh Anda masih bisa memimpikannya, maka bermimpilah.

Sedangkan mengenai realistis..banyak orang menganggap realistis itu adalah sesuatu yang dapat diraih. Salah? Tentu saja tidak. Bahkan saya sependapat tentang hal itu. Lalu apakah yang saya maksud dengan mempertanyakan hal itu? Maksud saya adalah, realistis dalam hal sesuatu yang dapat diraih tanpa Anda membatasi ruang gerak Anda karena keadaan Anda sekarang. Loh, emang bisa? Bisa. Saya benar-benar menyesal setelah mengetahui kenyataan itu.

Ambil kasus, saya pengen kuliah sampai S2. Dengan asumsi harus realistis, maka sa mencanangkan target kuliah S1 sa hanya sebatas swasta “asal bisa lanjut ke S2 dengan beasiswa”. Sejujurnya sa seperti itu. Lalu apakah itu salah? Tidak. Yang salah adalah saya ketika membuat targetan itu sebenarnya secara sadar ataupun tidak telah pesimis dan secara tak sadar juga sa sudah berdoa demikian kepada ALLAH. Padahal mimpi adalah sesuatu yang sudah ALLAH siapkan tinggal menunggu aksi kita untuk meraihnya. Maka doa adalah sesuatu yang dapat merubah sesuatu. Bingung? Renungkan saja.

Ketika sa menyadari bahwa mimpi kita adalah doa untuk masa depan kita, maka sesungguhnya ALLAH sedang menuliskannya. Daftar keinginan dan bahkan mungkin, daftar kejadian di masa depan. Wallaahu a’lam kalo dah gituh mah.

Seharusnya, ketika kita menargetkan mimpi..kita melihat masa depan kita itu lebih baik keadaannya. Sehingga kita menetapkan mimpi yang akan kita miliki di masa depan. Mimpi yang lebih baik. Bahkan bisa jauh lebih baik dari keadaan kita sekarang.

Maka sa ambil kesimpulan..mimpi itu harus realistis dan setinggi langit. Realistis di kehidupan masa depan sehingga dapat digantungkan setinggi langit di angkasa. Tapi bermimpi setinggi langit bukanlah berkhayal. Realistis adalah kunci utama. Namun mungkin ketika anda membaca tulisan saya ini, Anda menganggap itu adalah khayalan. Kemudian saya akan membedakan lagi antara mimpi dan khayalan.

Mimpi adalah keinginan yang ditindaklanjuti. Khayalan adalah angan-angan yang terlalu tinggi dan tak ditindaklanjuti sebagaimana mestinya.

Bedakan pula antara mimpi yang sa maksud dengan mimpi bunga tidur. Mimpi bunga tidur bisa merupakan khayalan, ramalan masa depan dan semua hal yang bisa di bawah kendali alam bawah sadar bisa juga tak terkendali alias uncontrolled. Sepenuhnya bukan kita yang sengaja membuatnya. Sedangkan mimpi yang sa bahas adalah mimpi yang fully-controlled. Sepenuhnya kita kontrol, kita pegang kendalinya. Tentu dengan tidak menafikan campur tangan ALLAH. Maksud full-controlled disini adalah bahwa kita yang mengambil keputusan atas tindak lanjut mimpi kita itu.

Walllaahu a’lam bish shawwab.

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s