Penghasilan dan Gaya Hidup

Senin, 14 September 2009

Hmm.. tulisan ini sebenernya pertanyaan juga sih, tentang gaya hidup setiap orang.

Ketika pendapatan bertambah, gaya hidup berubah. Bener ga sih? Nah, ini tergantung temen-temen deh mau jawab apa. Tapi yang sa rasain dan sa perhatiin, ketika pendapatan bertambah, gaya hidup pun berubah. Taro aja mahasiswa yang biasa-biasa aja ketika berpenghasilan lumayan gede, dari mulai hape, pakean ampe makan pun berubah gaya. Makan awalnya selalu liat harga mana termurah yg penting makan. Atau kalo pengen enak, ya berkorban dikit. Tapi begitu udah berpenghasilan cukup, dia bisa nikmatin makanan yg lebih enak di tempat yg sedikit lbh elit lah klo boleh dibilang gituh. Bukan ga liatin harga, tapi udah ga terlalu khawatir ga ada duit buat pulang. Kendaraan udah punya, buat sekadar biaya parkir ada, makan pun ada.. nothing to worry about.

Selain penghasilan, lingkungan pun berpengaruh. Klo temen-temen kita biasa makan di tempat-tempat elit, kita bakal kebawa. Klo pas ga punya duit kita bisa bilang ngga, pas berpenghasilan cukup kita bisa dengan gampang bilang iya. Atau kita berusaha keras biar akhirnya kita “satu level” dengan mereka dan kembali menikmati gaya hidup para elit. Nobody knows d reason. Hanya pribadi masing-masing yang bisa menjawab itu.

Ada lagi. Biaya hidup juga nambah dengan sendirinya dengan bertambahnya penghasilan. Mungkinkah itu karena gaya hidup berubah? Bisa iya bisa juga tidak. Tergantung penyikapan dan realita.

Kenapa tergantung penyikapan dan realita. Penyikapan kembali pada sikap sabar dan syukur. Realita kembali pada kenyataan yang setiap saat memang biaya hidup pun bertambah. Kalo dulu sekadar ngebiayain diri sendiri, sekarang ngebiayain keluarga yang biaya keluarga pun terus berubah seiring perjalanan waktu. Believe it or not, itu terjadi. Biaya pendidikan, sanda pangan papan semua berubah dan bisa tergolong lebih tinggi dibanding sebelumnya. Coba deh perhatiin.

Hmm.. jadi kunci agar tidak terjerumus adalah rasa syukur. Karena pendapatan bertambah klo ga dibarengi syukur dan sabar bisa-bisa kebablasan. Syukur atas apa yang kita dapat, sabar dalam menghadapi cobaan berupa kelapangan dan kekayaan. Dan banyak orang terjerumus dalam ujian yang enak.

Sabar dalam memenuhi keinginan kita karena berlimpahnya harta. Sabar untuk memilah mana yang penting dan mana yang ingin. Penuhi dulu yang penting baru klo emang tega yang ingin. Nah jangan lupa juga buat saving untuk persediaan ke depannya.

Ya, apapun.. yang namanya kesabaran dan rasa syukur itu harus selalu ada kapanpun dimanapun dalam keadaan apapun. Penghasilan boleh mempengaruhi gaya hidup, atau mungkin seperti kata aa, gaya hidup mempengaruhi penghasilan. Whatever. Akan selalu ada pengaruh dan perubahan yang kita lalui yang mesti kita hadapi. Maka kita harus pandai-pandai menyikapi.

Surat Cinta

Selasa, 8 September 2009

Surat ini kupersembahkan untukmu, seseorang yang menempati tempat khusus di hatiku

Tempat yang sangat istimewa yang tak semua orang mampu mencapainya

Melalui surat ini, aku ingin mengucapkan syukurku atas hadirmu, atas pengorbananmu selama ini

Melalui tulisan ini aku ingin mengatakan betapa aku amat mencintaimu

Tak ada yang mampu menggantikan posisimu di sisiku meski kala kau tak berada bersamaku

Tapi rindu di relung qalbu tak dapat kupungkiri

Ia bergejolak kala kau jauh

Ada rasa tenang luar biasa dalam hati ketika bersandar di pelukmu

Ada kebahagiaan melihatmu tersenyum

Engkau teramat berarti bagiku

Engkau yang menemani kesendirianku

Menghibur sedihku

Maaf berulang kali aku membuatmu menangis

Kecewa dalam asa

Maaf aku belum mampu memberikan yang terbaik

Ibu.. Mamah.. melalui surat ini kukatakan pada dunia betapa aku mencintaimu..

Facebooknya Indonesia, Join!

Selasa, 8 September 2009

I want you to take a look at: The Indonesian Social Network

Mm.. sebenernya udah dari awal taun barengan ama fesbuk kayaknya.. hee.. mirip fesbuk tp ini buatan indonesia katanya..

Itung-itung ngapdet blog juga nih.. add sy ya buat yg udah punya akun di kombes :D

Jika sebelumnya sa berbicara tentang didewasakan cinta, maka saat ini kedewasaan itu tengah diuji. Betapa ternyata ia tak mudah. Betapa ternyata hati yang ada pemiliknya ini sangat mudah terombang-ambing jika kita tak menguatkannya dan mengembalikan pengurusannya pada Dzat Yang Mahatahu.. ia yang sebenarnya dikendalikan bukan oleh diri ini melainkan ada Dzat Yang Maha Mengendalikan.

Hari ini Aa mengajak kakak dan kedua adiknya untuk berdiskusi tentang sakura cinta sambil menikmati bakmi Jogja depan MQ Guest House.

Pernikahan. Itulah bahasan yang dilontarkan. Bahasan yang selalu sa coba pahamkan pada diri dan keluarga. Sejak SMA. Bayangkan sa mencoba memahamkan soal pernikahan semenjak sa kelas 2 SMA. Bukan karena sa ingin menikah waktu itu, melainkan sa memiliki keinginan kriteria .. idealisme dalam pernikahan. Idealisme yang tertanam semenjak sa mendapat ilmu tentang itu. Idealisme yang seringkali berbenturan dengan realita.

Alhamdulillah, Allah  yang membolak-balikkan hati manusia. Sa hanya berikhtiar dan Allah pula yang memberikan hidayah.

Bukanlah suatu kebetulan jika sa memiliki kakak yang paham akan hal ini. Betapa syariat harus tetap dijaga meski tantangannya sungguh teramat berat. Apalagi jika tantangan itu hadir dari keluarga.

Hari ini, Aa menasihatkan hal-hal terkait pernikahan. Agar berkah dapat dijemput dengan indah.

Sebuah pernikahan indah. Itu salah satu poin penting yang sa garis bawahi. Ya. Pernikahan yang indah, bukan pernikahan yang bahagia. Karena jika kita mencari kebahagiaan dalam pernikahan.. jika kita tau segala konsekuensi pasca menikah.. maka hal itu adalah salah besar. Tidak selamanya pernikahan itu diisi kebahagiaan. Sedangkan pernikahan yang indah adalah yang diisi kebahagiaan dan duka yang saling seimbang mendewasakan. Semakin mendekatkan pada Sang Pemilik diri.

Menikah bukan masalah memiliki, karena pada hakikatnya kita tak pernah memiliki siapapun dan apapun bahkan diri kita sendiri. Menikah adalah salah satu interpretasi ketaatan kita pada Allah dan sebagai jalan untuk bersama mengarungi kehidupan untuk menuju satu muara, Allah.

Ah, kata itu begitu mudah diucap tapi cukup sulit dilaksanakan. Disanalah mungkin seni kehidupan.

Semakin tinggi pohon, akan semakin kencang angin. Semakin tinggi level, akan semakin  besar ujian yang kita hadapi. Butuh kedewasaan dan kebijakan menyikapinya. Usia 21 tapi belum tentu dewasa karena dewasa itu seperti yang dikatakan banyak orang adalah sebuah pilihan. Demikian juga bersikap bijak. Tapi bukan berarti mustahil memiliki keduanya. Belajar terus.

Terkadang masa lalu hadir menjanjikan dan menawarkan masa depan yang lebih baik, sementara kita telah terlebih dahulu memilih masa depan kita. Jika kita tidak kuat dalam menjalani masa kini untuk menuju masa depan yang telah kita pilih sebelumnya, kita bisa goyah dan bisa saja kemudian banting stir membalik arah memilih masa lalu yang menjanjikan masa depan yang -mungkin secara kasat mata- lebih baik dari pilihan masa depan kita saat ini.

Tapi kawan, coba pertimbangkan kembali. Ketika kita telah memilih, bisa saja masa lalu yang hadir itu hanyalah ujian akan komitmen yang telah kita sepakati. Dan bisa saja ketika komitmen ini kita lepaskan akan lebih banyak orang tersakiti termasuk di dalamnya orang-orang yang kita sayangi. Dan jika kita mengaku menyayangi mereka, maka kebahagiaan merekalah yang senantiasa kita usahakan bukan?

Misal, seseorang memutuskan menikah kemudian ujian itu datang, kekasih hati yang dulu dinanti kembali ke dalam kehidupannya dan menawarkan masa depan yang lebih baik. Kembali, ini adalah pilihan. Semua terserah kita. Tapi bukankah kita yang telah menyepakati komitmen masa depan terlebih dahulu dan bukan dengan orang dari masa lalu itu. Maka pertimbangkanlah kembali dengan nalar dan hati. Bukan sekadar pandangan sesaat, tapi ke depan. Jauh ke depan. Ke masa depan yang akan kita bangun. Masa depan yang tidak hanya membutuhkan satu faktor kecenderungan melainkan membutuhkan kedewasaan dan kebijakan.

Boleh saja kita memilih masa lalu. Tapi marilah belajar menjadikan masa lalu sebagai masa lalu, masa kini sebagai masa kini dan masa  yang akan datan sebagai masa yang akan datang, masa yang akan kita bangun. Tidak ada  yang dapat membangunnya melainkan diri kita sendiri, bahkan tidak waktu sekalipun. Semua benar-benar tergantung pada pilihan kita. Kita diberi kebebasan untuk memilih tapi juga disodorkan konsekuensi pilihan itu. Karena hidup adalah pilihan dan karena setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing. Baik atau buruk. Dan karena setiap konsekuensi itupun memiliki pertanggunjawabannya masing-masing.

Jangan pernah melihat ke belakang. Jikalau memang harus, pergunakanlah alat untuk melihatnya, menjadikannya pelajaran dan hiduplah kembali di masa kini dan rancanglah masa depan. Everybody have something that their left behind. We cannnot always pretended we are strong to look back to the past n turn around. I already know that past sometimes seems so nice and we wanna go back to that time. But u should realize that it doesn’t look as we thought. We’re gonna hurt. So grow up n be wise to face them all. The past also will felt so hurt, but hey buddy.. we live at this time today. We should left the past behind n try to make our present n future better n leave d black side of our past as a lesson for our live now n future..

Salah satu sebutan Allah terhadap manusia dalam al-Quran yang sangat jarang dilirik adalah al-insu: yang bermasalah. Jadi, jangan menyerah pada masalah. Justru dengan adanya masalah itulah kita menjadi manusia sesungguhnya. Dengan adanya masalah kita semakin tangguh, kita semakin dewasa dan semoga semakin bijaksana.

Mari bersamaku menjalani dan menapaki jalan terjal ini. Meski lelah, peluh dan keluh kesah terkadang menghampiri tapi yakinlah ada puncak yang indah di atas sana. Kita punya tujuan. Kita punya visi misi. Kita punya cita. Kita punya Allah yang akan selalu menguatkan. Kita punya Allah yang akan selalu mendampingi. Kita punya Allah yang selalu menunjukkan jalanNya. Yang akan selalu menjaga kita jika kita menjagaNya. Yang tetap menjaga kita meski kita melalaikanNya.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la hawla wala quwwata illa billah..

Sakura Cinta

Selasa, 7 Juli 2009

Muara cinta sudah sepantasnya hanyalah Allah. Jika sebagian besar manusia memohon menikah dengan orang yang dicintainya, maka segelintir saja yang memohon mencintai yang menikahinya. Dan aku termasuk di dalam golongan kecil itu. Kenapa? Karena perasaan cinta tak bertahan lama jika penyebab cinta itu hadir hilang. Hingga doa itu akan menjadi kekuatan untuk senantiasa menemukan alasan-alasan lain untuk mencintai pasangan kita ketika alasan awalnya hilang.

Anda boleh setuju boleh tidak dengan pernyataan saya. Tapi itu yang saya harapkan. Saya mencintai yang menikahi saya.

Seorang lelaki yang memiliki keimanan adalah seseorang yang apabila ia mencintai istrinya ia memuliakan, dan apabila ia tidak menyukainya ia tak menzhalimi istrinya.

Bukankah kebahagiaan bagi seorang istri untuk dimuliakan, minimal tidak dizhalimi. Iya kan?

Penyesalan hanya pantas terjadi bila kita tidak mengambil pelajaran dari masa lalu, dari kesalahan kita bahkan dari kebaikan yang kita perbuat.

Hakikat cinta adalah membuat manusia bahagia, maka siapa yang dapat memberikan kebahagiaan itu jika bukan Sang Pemilik Cinta. Ia yang membolak-balikkan hati manusia. Bekal cinta di awal pernikahan adalah penting, tapi tidak mendominasi. Ketika cinta mendominasi, akan banyak kekecewaan karena dalam perjalanan pernikahan, cinta  pada pasangan bukanlah satu-satunya bekal. Ada bekal yang lebih penting, cinta pada Allah. Hingga selalu ada alasan untuk mencintai pasangan kita karena alasan cinta itu tak pernah hilang, cinta karena Allah dan Allah takkan pernah hilang takkan pernah menjauh selama kita senantiasa mendekat menujuNya.

Saya bukanlah seorang yang berilmu banyak untuk bercerita lebih tentang itu. Tapi saya punya cukup untuk berbagi dengan kalian bahwa jika cinta itu ada penyebab, maka cinta itu bisa kita kendalikan dengan selalu mencari penyebab hadirnya. Meski kadang kita kelimpungan, tapi jika alasan itu kuat dan tak pernah hilang maka cinta itu akan tumbuh subur, meski hanya menjadi sakura cinta..

Izinkan Aku Bertutur

Sabtu, 4 Juli 2009

‘Izinkan Aku Bertutur’
Oleh : Neno Warisman

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”

Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.” Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya, Yah.” Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.
Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”
Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!
Amin, Alhamdulillah

Say No to Pacaran Sebelum Nikah Forum

Proses Pendewasaan

Rabu, 1 Juli 2009

Hmm.. masa 17 tahun emang udah sekitar 4 tahunan sy tinggalkan. Tapi masa pencarian jati diri dan pendewasaan diri itu masih terus berjalan hingga saat ini. Banyak ilmu yang terkuak ketika kita belajar semakin dewasa menyikapi segala sesuatu. Belakangan ini bahasan tulisan difokuskan pada satu bahasan tiada akhir, cinta. Bukan karena sa sedang jatuh cinta, bukan. Bukan pula karena sa sedang patah hati. Tapi karena belakangan ini sedang diajarkan tentang cinta. Cinta yang sa sendiri terkadang merasa, “kemana sa selama ini, baru paham hal-hal seperti ini”.

Dimulai dengan menyelami samudera rasa, memilah dan memilih rasa dan mendalami diri sendiri. Ya. Di usia 21 ini sa belajar banyak mengambil pelajaran kehidupan. Didewasakan masalah dan didewasakan CINTA. Belajar menyikapi cinta dengan pandangan berbeda. Memandang cinta dari sudut berbeda. Belajar melihat dari berbagai sudut pandang.

Pada dasarnya ketika kita mencintai seseorang, maka kita hanya perlu memikirkan bagaimana kita memberika kebahagiaan pada orang yang kita cintai. Bukan berarti kita egois. Ga gitu jg. Tapi tarohlah ketika kita mencintai seseorang, maka pilahlah.. apakah rasa cinta itu rasa yang harus memiliki atau hanya perasaan simpati. Bukan bermaksud membedakan agar seperti ini dan seperti itu, melainkan kita harus bisa mengukur kedalaman cinta kita. Ukur pula keraguan kita. Ukurlah diri kita. Ketika kita mencintai seseorang, bukankah yang kita inginkan dia bahagia.

Jika menurut Allah kebahagiaan orang yang kita cintai adalah dengan hidup bersama kita, maka itu adalah karunia. Namun jika ternyata kebahagiaan itu muncul dengan ia tak bersama kita, maka itulah cinta. Terkadang ia diuji dengan tidak memiliki. Disanalah diperlukan kedewasaan bersikap. Dalam pernikahan misalnya, jika dipikir lagi kenapa sih kita menikah? Toh urusan kita tetap urusan masing-masing. Kita dengan Allah, pasangan kita dengan Allah. Ga ada yang spesial. Memenuhi nafsu biologis, mungkin.. memberikan ketenangan.. mungkin. Tapi taukah landasan terkuat yg bisa menyatukan cinta kita? Sy menikah karena Allah menyuruh sy. Sy mencintai pasangan sy karena itulah salah satu penyebab turunnya kasih sayang Allah. Sy mencintai anak-anak agar cinta Allah hadir dalam kehidupan. Akhirnya semua hanya karena Allah, Allah dan Allah saja.

Lantas apakah kita egois? Tentu tidak. Setidaknya itu menurut saya. Ketika hanya Allah saja landasan kita, maka kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan Allah saja tujuan kita. Kita akan senantiasa memberikan yang terbaik. Memenuhi perintah Allah untuk mencintai dan memperlakukan pasangan dengan baik. Akan senantiasa berbuat apa yang menyebabkan Allah ridha. Indah bukan?

Dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang, akan Anda temukan banyak hal luar biasa tentang cinta. Cinta yang dilandasi keridhaan Ilahi. Bukan sekadar cinta birahi. Indah ketika tahu kisah Abu Darda’ dan sahabatnya Salman AlFarisi. Indahnya kisah cinta para sahabat karena bingkai cinta mereka tak sekadar memenuhi nafsu semata, tapi juga sebagai interpretasi ibadah ketaatan kepada Allah.

So..sudah siap menjalani proses pendewasaan? Allah selalu punya skenario terbaik mendewasakan kita. Dan Allah selalu punya hadiah terbaik untuk setiap kenaikan tingkat kita..

Selamat menjalani proses kedewasaan. Terima kasih untuk kakak-kakakku dan keluargaku dan sahabatku yang mengajarkan banyak hal luar biasa.

Terima kasih sudah semakin mendewasakan sa dan membantu sa untuk menapaki jalan kedewasaan..