05.15.08

PMS

Ditulis dalam Belajar Yuk, My Day pada 13:56:43 oleh Esa

Baca PMS inget apa hayoh.. :evil:

PMS ya PMS, istilah ini sebenernya dari sobat sa, Iyam yang ngirim sms curhatan berisi puisi dengan kata-kata di akhir sms nya, “PMS - Pre Marriage Syndrome”. Ya, ada-ada aja emang, tapi seperti isi smsnya, PMS itu sa juga tengah mengalami, jadi sa cukup ngerti isi sms nya. Disini, sa pengen nulisin tentang yang harus diwaspadain klo PMS muncul :mrgreen:

Hmm…dalam perjalanan nulis tulisan ini, sa malah diberondong sama pertanyaan karena sa masang status message PMS ini di YM. Kontroversi..bukan sih, cuma jadi banyak yang komentar gituh. Dan paling bikin senyum-senyum sendiri itu ya Kang Iman yang penasaran banget soal ini. Ok deh, kita coba bahas, klo ada yang mau menambahkan, silahkan.

Pertama, pengertian PMS ini dulu deh, jadi PMS tuh kami, sa khususnya mengartikan ciri-ciri klo seseorang emang udah mesti nikah :mrgreen: dan beberapa faktor yang akan dirasakan dan harus diwaspadai karena kalo ngga diwaspadai maka hal itu hanya akan membawa kita pada kebinasaan yang akan membawa pada penyesalan.

Kedua, kita mulai masuk deh ke inti persoalan. Sebenernya ciri-ciri ini bisa diketahui oleh masing-masing dengan adanya perasaan siap dan matang untuk menuju jenjang yang satu itu. Hanya dia yang tau persis apakah dia memang siap atau tidak, bisa juga dilihat dari kapasitas ilmunya. Loh kok? Iya lah, nikah juga ada ilmunya kalee, ga asal comot. Ini pertaruhan dunia-akhirat kawan! Klo asal..wah bahaya..

Disini sa cum pengen berbagi sama temen-temen, bahwa klo perasaan mantap itu sudah muncul dalam diri kita, kita harus hati-hati, ekstra hati-hati lebih dari sebelumnya. Kenapa? Karena akan membawa kita pada perasaan yang tentu saja sulit dikendalikan.

1. Perasaan suka pada pasangan jenis. Jika tidak dikendalikan jangankan bagi antum yang udah siap nikah, yg belom siap aja mesti hati-hati. Tapi buat yang udah siap nikah harus lebih bisa ghadhul bashar, soalnya klo enggak, begitu kita lihat sekilas pasangan jenis kita sesuai kriteria calon pasangan kita, wah, susah ngilanginnya klo ga kuat-kuat amat imannya.

2. Interaksi. Hati-hati juga sama interaksi baik lewat chat atau yang sejenis yang kita kira sekilas tak membahayakan. Bahaya deh pokoknya.

3. Ilmu. Bagi yang udah “kebelet” wah telaah lagi tuh, ilmunya emang udah mumpuni apa belum, minimal persiapan deh. Cir-cirinya ya, shaum dan alternatif lainnya udah dijalanin tapi masih tetep dag-dig-dug.

Hmm yang pasti buat yang udah punya niat, trus ternyata udah punya calon, jangan ditunda-tunda lagi deh klo emang udah mantep. Klo belom? Harus jelas batas waktunya coz jaga hati itu susah loh *ngalamin*. Klo ternyata belom juga, mending di-cut aja dulu deh biar lebih aman. Caranya? Minta petunjuk sama ALLAH, supaya dibimbing dalam mengatakannya dan tentu dengan cara sebaik-baiknya. Ada artikel dari seorang teman, Akh HaPo, syukran ya Akh soal itu.

Bangkitlah

Ditulis dalam My Day pada 11:03:30 oleh Esa

Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada..

Begitu sepenggal bait sebuah nasyid. Hmm..ya, selama matahari masih bersinar, selama itu pula ALLAH memberikan harapan baru bagi insan. Maka tidak ada kata menyerah atau pesimis dalam kamus seorang muslim. Kita adalah khalifah, seorang makhluk yang dulunya tak memiliki bahkan bukan apa-apa menjadi makhluk mulia di sisiNya.

Maka tidak ada kata menyerah dalam memperbaiki negeri ini, karena bagi seorang muslim hal ini adalah amanah yang mesti ditunaikan. Amanah ALLAH bagi kita semua, khalifahNya. Karena kita lahir dan bertumbuh disini, karena kita besar disini, karena kita mengaku sebagai warga negara dari negara bernama Indonesia ini.

Sekuat apapun upaya anda merubah kewarganegaraan anda tidak dapat membohongi diri anda bahwa anda adalah orang Indonesia, maaf klo sa terkesan kasar, tapi anda yang lari menjadi warga negara orang lain dan anda yang lari memakmurkan negara orang lain, apakah pantas disebut pemberani atau setidaknya bolehkah saya menyebut anda egois? Iya, tidak kupungkiri bahwa sa juga ingin berbuat demikian, namun hal itu ternyata bukanlah jalan keluar, dalam artian hal itu justru yang harus kita pikirkan, jika kita lebih memilih menghindar dari keadaan negeri ini, maka siapa lagi orang yang akan peduli, siapa lagi orang kaya yang peduli, siapa lagi orang pintar yang peduli? Jika semua orang pintar, orang kaya dan orang berpotensi lainnya hanya memikirkan diri sendiri, maka tidak akan ada bangsa Jepang yang sekarang, dan lebih parah lagi tidak akan ada negara bernama Indonesia ini, SELAMANYA. Mungkin ia akan kehilangan warga negaranya, lalu kehilangan sumber daya alamnya, lalu kehilangan kekuasaannya, dan pada akhirnya negara bernama Indonesia itu hanya akan menjadi sejarah.

Ya, sejarah. Sejarah yang pahit dan memalukan. Sejarah yang terukir bukan karena prestasi anak bangsanya tapi karena prestasi itu berpindah ke negara lain dan ia kehilangan aset terbesarnya..Na’udzubillah min dzalik. Selama masih ada harapan, jangan putus harapan, ok!? Yuk sama-sama berjuang, minimal utk diri sendiri yang bisa diberikan kepada orang sekitar kita. Jangan sampai Indonesia lalu kehilangan eksistensinya di muka bumi, setelah sekian lama negara ini diperjuangkan kemerdekaannya oleh para pendahulu kita dengan darah, air mata dan semua yang bisa mereka beri untuk negara. Maka, meskipun sulit dan dilematis pertahankanlah kemerdekaan bangsa ini dengan semua kemampuan yang dapat kau berikan.