01.31.08

Menulis

Ditulis dalam Artikel, Belajar Yuk, Biasa pada 14:23:17 oleh Esa

Banyak orang yang merasa malas untuk menulis, atau lebih memilih sekadar menulisnya dalam memori, padahal seperti yang kita tahu selama ini, menulis merupakan sebuah hakikat untuk “mengikat ilmu”. Dan disadari atau tidak, hal itu memang benar. Adakalanya kita lupa apa saja yang pernah kita dapat, namun kembali ‘diingatkan’ oleh tulisan yang pernah kita buat. Bahkan ia bisa menjadi nasehat saat kita lupa. Saya termasuk salah seorang yang malas menulis pelajaran yang saya dapat, tapi tetap bisa jadi best student itu hal lain. Saya lebih suka mengikat ilmu yang saya dapat berdasarkan apa yang saya pikir penting, baru saya catat, itupun saya lebih suka menulisnya ke dalam komputer, karena kami belajar seharian bersama komputer.

Dan kemaren pas buka-buka lagi beberapa catatan yang sa tulis dari buku *karena sa ga punya bukunya, jadi sa tulis ulang di catatan* ternyata bener-bener jadi remonder. Semacam memori..dan tertegun juga. Sudah 3 tahun lebih usia tulisan ini..

Ah, sekarang mah sedang membiasakan menulis atau men save *kl males nulis* dan mencetaknya biar bisa dibaca :mrgreen:

Belajar Dari Kesalahan dan Kekurangan

Ditulis dalam Artikel, Belajar Yuk, My Day, Renungan pada 13:48:05 oleh Esa

Seringkali kita mendengar seseorang mengeluhkan kekurangan yang dimilikinya *bukan berarti sa ga seperti itu ya*. Terkadang kita juga tertekan dengan kesalahan yang kita lakukan, apalagi jika kesalahan itu berhubungan dengan orang lain.

Ya, beberapa kali sa merasakan seperti itu dan mengalami hal seperti itu. Tapi ketika sa mencoba mengambil pelajaran dari setiap kesalahan sa itu, sa malah mendapatkan hal yang lebih banyak dari yang sa paksakan dapet. Malah seringkali kesalahan dan kekurangan itu membuat kita lebih unggul dari yang lain, apakah lebih dewasa atau tahu lebih dulu daripada orang lain. Karena klo ga ada kesalahan atau kekurangan itu, maka kita tak akan mencari tahu dan tak akan mencoba belajar.

Sampai saat ini sa belajar untuk menjadikan kekurangan sa sebagai kelebihan sa daripada yang lain. Seperti saat kuliah, diantara teman-teman kuliah hanya sa saja yang tak punya komputer *secara kuliah di jurusan Manajemen Informatika (MI)* dan itu membuat sa pengen ngebuktiin bahwa kekurangan sa itu adalah kelebihan sa. Sa cuma butuh kerja keras dan manfaatkan fasilitas kampus sebaik-baiknya. Dan dengan izin ALLAH, waktu pun membuktikan sa tetep bisa jadi Best Student dari sekian peserta MI se-Indonesia *hiperbol..iya emang se-Indonesia tapiLIA se-Indonesia* dan berhasil membuat mamah tersenyum bangga *lagi..alhamdulillah*

Sa juga belajar banyak dari orang-orang yang memiliki kekurangan baik secara fisik atau yang lain yang malah berhasil bangkit dan meninggalkan mereka yang terbiasa dengan “kecukupan” mereka..

Thank’s to A Agus, Teh Erry, Dini dan semuanya. Jazakumulloh khoyron katsiro.

Sisi Lain Seorang “Anak Nakal”

Ditulis dalam Artikel, Belajar Yuk, Penting, Renungan pada 13:19:40 oleh Esa

Bandung, Maghrib 30 Jan 08.

Seusai shalat maghrib, sa rebahan di kasur, dari luar sana terdengar suara mamah yang tengah bertilawah. Lapar. Itu yang sa rasa saat itu. Pengen ngemil. Ku keluarkan cemilan yang sa beli sepulang kerja tadi sore. Lalu beranjak menuju dapur untuk mencari “teman” sang kerupuk pedes cemilan sa itu. Dari dapur, terdengar sayup-sayup suara mamah, tapi kali ini bukan tengah tilawah, melainkan “Mau belajar ngaji? Sok (silahkan)! Iya atuh, masa ngaji keliatan lututnya.” Hmm..lagi ngobrol sama siapa tuh mamah. Lalu setelah sebelumnya terdengar samar pula mamah mencariku, tiba-tiba beliau ada di belakangku, saat sa mau menyuapkan makanan ke mulut. :oops: Cerita deh mamah. “Si Nita, barusan teh pas mamah ngaji diem aja di teras rumah. Ga enak meski cuma diliatin anak kecil, udah aja sama mamah diajakin belajar ngaji,” Agak tertegun juga sa sama kata-kata mamah. “Yang ngajar siapa?” “Siapa aja. Mamah juga bisa lah dikit-dikit.” Mmm.. “Saya juga bisa lah Mah, Insya ALLAH da sekarang mah jarang pulang malem.”

Dan ga lama kemudian, anak itu dateng. Setelah sa denger anak itu ngaji ternyata ngajinya cukup lancar. Terus kepikiran juga kenapa dia ga ngaji ke mesjid aja kaya adik-adik sadan anak-anak lainnya? Sa cuma bisa nebak aja, mungkin..

1. Dia minder alias malu

2. Dia takut. Karena selama ini dia dianggap anak nakal, takut dijailin kalee..

3. Males (heheh)

Tapi terlepas dari apapun alasannya, dia mungkin lebih nyaman sendiri. Dan jika dihadapi dengan baik (dalam arti ga dikucilkan dan dicemooh) mereka nurut kok. Kayak pengalaman sa waktu dulu ngajar di madrasah. Ada seorang anak, nakal banget, namanya Ratno. Respek dia ke ustadz tuh jelek benget, apalagi ama anak-anak santri lainnya. Sa coba nanggepin dia dengan sikap berbeda. Dan berhasil. Hanya saja heterogennya anak-anak madrasah dan gesekan dia dengan yang lain plus sifat sa yang kadang klo lagi uring-uringan kebawa sampe ngajar, jadi agak kesulitan juga. :mrgreen:

Kembali ke anak itu, dia sepertinya anak yang cukup pintar. Hanya saja penyikapan orang tua, kakanya dan tetangga yang klo boleh dibilang salah ya salah. Mungkin sebenernya mereka butuh perhatian. Dan menjadi anak nakal itulah yang dia pikir berhasil membuat orang di sekitarnya memperhatikannya, ya kan?!

Pada saat ada tetangga laporan ke mamah klo dia sering dan beberapa kali mergokin dia ngambil jajanan di warung tanpa permisi, sa bilang ke mamah “Tabayyun (cari tahu) dulu”. Alhamdulillah mamah setuju. “Nanti klo mamah melihat sendiri dia ngambil jajanan warung baru mamah tegur.” Ga lama, mamah bilang lagi, “Tapi, mau ngeliat sendiri ato nggak, mau mamah panggil ke sini sekarang dan dinasihatin.” Sa setuju banget sama ide mamah “Jangan sampe dia merasa dipermalukan” itu jawab sa saat itu.

Ngomong-ngomong soal sisi lain anak nakal, sa banyak ngalamin kejadian seperti itu. Anak-anak jalanan misalnya yang di perempatan Riau Junction (Jl. Seram-Jl. Riau- Jl. Trunojoyo-Jl. RE Martadinata) itu, sa bisa jadi temen mereka. Sekilas mungkin mereka ga ada baik-baiknya. Rambut di cat lah, ditindik lah, dsb. Tapi ketika mereka menawarkan pertemanan, sa sambut baik dan mereka ga macem-macem tuh. Kadang sa mikir, mereka jadi “liar” karena dipaksa masyarakat. Kenapa? Mereka kadung dikira nakal, ya udah jadi nakal aja sekalian. Bahkan pernah suatu saat salah satu dari mereka menemui sa dalam keadaan mabuk. Meski setelah ditanya dia bilang cuma baru bangun tidur. Ya udah, jangan memperpanjang masalah. Mereka curhat soal mereka pengen lebaran makan enak kaya yang lain, kumpul ama keluarga, dan minta sa jadi keluarga mereka. Waktu itu karena memang sa ga punya cukup uang untuk membelikan mereka makanan, sa cuma bisa tersenyum. Tapi mereka ga maksa kok.

Jadi yuk, mulai sekarang liat sisi baik orang lain. Terus jangan suka men- judge. Jangan sok suci lah klo sa boleh bilang gituh mah. Nyalah-nyalahin dan menghakimi orang lain seenaknya, padahal belum tentu anda di sisi ALLAH lebih baik dari mereka. Kadang sa belajar lebih banyak dari mereka tentang kehidupan…karena kepolosan mereka memandang hidup ini.

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurot: 13)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Hujurot: 11)
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Mengingatkan diri sendiri..
Wallohu a’lam.

01.30.08

Corporate Value

Ditulis dalam Artikel, Belajar Yuk, Penting pada 14:43:23 oleh Esa

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Pa Budi Rahardjo tentang ini. Corporate Value..ketika membaca tulisan Pa Budi itu, sa malah bingung, apa sih Corporate value itu? Akhirnya googling, and I found this words.. “…dari sekitar 30,900,000 hasil penelusuran untuk corporate value. (0.12 detik) ” Wow, great I think. Sa coba telusuri satu per satu, tentu yang tulisan Pak Budi itu sudah ditandai “as read”. Dari search engine itu juga, sa dapetin versi pdf tentang corporate value *in English of course* bisa dilihat disini. Tapi berhubung banyak banget, sa belum sempet baca semua *belum lagi definition of corporate value nya juga ga nemu :mrgreen: *.

Lalu kepikiran wiki deh. Sa masukin key nya “corporate value”, tapi ga ada halaman berjudul demikian, sehingga sang Wiki memberi alternatif halaman yang mengandung kata-kata tersebut beserta relevansinya. “Tanggung jawab sosial perusahaan” memiliki relevansi 100,0%, sa coba buka deh tuh halaman. Still nothing. Ya, tapi nambah ilmu deng :mrgreen:

Nah, klo yang ini bagus, menyinggung cukup banyak tentang corporate value. Di situs “Strategy Business” dinyatakan seperti ini,

The purpose of the survey was to examine the way companies define corporate values, to expand on research about the relationship of values to business performance, and to identify best practices for managing corporate values.

Nah, cukup memberi gambaran, bahwa corporate value ini erat hubungannya sama tanggung jawab perusahaan seperti yang disebutin sama si Wiki. Itu sa garis tebal cluenya.

These values — which include customer satisfaction, quality and excellence, premium return on assets, use of technology for market leadership, valuing employees, and corporate citizenship — are “far from words on a piece of paper…

Nah, dari sini kan kita juga bisa liat corporate value itu terdiri dari kepuasan pelanggan atau klien, kualitas dan keunggulan mutu, pengembalian aset, penggunaan teknologi untuk penguasaan pasar, ‘nilai’ karyawan alias kualitas karyawan, dan corporate citizenship.

Jadi, klo ada yang tahu definisi sebenernya mengenai corporate value ini, tolong kasih tahu ya.. Bener-bener pengen tau deh :)

Oya, sa tambahin juga dua link yang ada di blog pa Budi itu, yaitu  tenThing-nya Google, ama sebuah perusahaan Jepang kayanya Asahi Glass. Tapi belum dibaca secara teliti, cuma ketangkep dikit..jadi tetep mohon bantuannya ya.

Jadi Teknisi Sehari (Lagi)

Ditulis dalam Belajar Yuk, My Day, Penting pada 10:05:51 oleh Esa

Heheh, pagi ini pas sa ke kantor udah ada manajer sa, Pa Egi. Nanyain soal telpon, apa udah baikan apa belom. Ya..telpon emang belom baikan. Sa ngobrol juga soal perbaikan yang udah sa lakuin kemaren yang menyangkut PABX nya. Trus beliau menjawab, “Padahal mah gampang da, ga usah pake PABX, langsung aja sambungin ke sambungan pusat.”, “Maksudnya?” tanya sa heran. “Iya, kan yang rusak tuh sebenernya PABX nya, jadi tinggal ganti aja pindahin ke pusat.”

 Sa masih ga kebayang. Kita menuju tempat PABXnya deh. Trus, ditunjukkin *disini belum ada acara bongka-bongkaran* gimana caranya. Cuma sekadar ditunjukkin doang, jadi sa bingung juga karena beliau bilang yang dicabut yang 82, “Nah, terus yang kemaren di Line 2 apa?”, beliau menjawab “Klo itu, itu tuh dari pusat masuk kesini *PABX*nya lewat itu, baru dibagi-bagi lagi nantinya. Jadi yang dicabut yang no 82, bener kan? Yang itu 82 teh *sambil nunjuk ke telpon kantor*”..ngerti deh.

 Abis itu, beliau ke luar, ternyata mo ngambil obeng. Dibongkar lah *ternyata ngebongkarnya juga tinggal langsung cabut aja si boxnya*. Trus 2 kabel yang nyambungin telponnya ke PABX dicabut. Box yang nyambungin ke pusat dibongkar juga. Berhubung obeng kecilnya ga ada, jadi si kabel cuma dikaitin aja. Dan..alhamdulillah telpon sembuh. Cuma sempet ga jalan lagi karena si kabel “tertekan”, harus dilonggarin diit. Alhamdulillah, sembuh seperti biasa.

Dan berderinglah telpon, dari *nama perusahaan ga akan sa sebut* klien. Beliau protes “Terakorp ni buka jam berapa sih? Dari kemaren nelpon ga nyambung-nyambung”, berhubung kemaren sa yang jadi ‘operator’ telepon, sa jadi mikir, kayanya ni orang yang dari pagi kemaren nelponin mulu :lol: . Sa jelasin aja klo kemaren kantor bukan ga buka, tapi karena telpon rusak. Dan lucunya lagi, pas sa bilang “Pa, ini dari klien, mo disambungin?”, Pa Egi langsung menyahut, “Ga bisa atuh kan…” Oiya, Sa lupa. PABX nya kan udah dicabut. Sekarang jadi sambungannya kaya telpon biasa. :oops:

01.29.08

Kebayang Ya

Ditulis dalam Belajar Yuk, Penting pada 17:23:48 oleh Esa

sa bener-bener ga bisa ngebayangin klo pagi-pagi kita harus diributkan dengan meminta rejeki atau nikmat apa saja yang ingin kita dapat hari itu. Misal, kita harus minta mata berfungsi, terlinga, mulut dsb..satu per satu. Untunglah ALLAH Maha Baik, jadi Dia memberikan apa yang manusia butuhkan selama hari itu. Namun sayang, sebagian besar dari kita *termasuk sa sendiri* masih sering lupa terhadap hal itu. Bahkan untuk sekadar bersyukur pun lupa, sekadar mengucap ALHAMDULILLAH..

Kebayang ribetnya klo kita harus ngabsen satu satu kebutuhan kita, belum yang kecil-kecil kaya syaraf. Belum juga sempet hidup dan beraktifitas, nikmat yang kita butuhkan selama seharian itu aja belum sempet semuanya terabsen.

Hah..kadang kita sering lupa

Bener kata ALLAH

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  ” (An-Nahl: 1 8)

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah).” (Ibrahim: 34)

Wallohu a’lam bish showwab..

Jadi Teknisi Sehari

Ditulis dalam My Day pada 09:54:10 oleh Esa

Heheh, ada kejadian lucu pagi ini. Beberapa kali telpon kantor bunyi *mana ga ada siapa-siapa*, tapi pas diangkat ga ada suara alias yang di seberang sana suaranya ga kedengeran. Jadi mau ga mau ya sa tutup telponnya. Trus telpon bunyi lagi, kali ini cuma sekali dering abis itu diem. Ya udah, sa ga beranjak dari meja kerja. Eh, bunyi lagi, dua kali deringan…abis itu mati lagi. Hmm..ada apa ini? Ga berselang lama, telpon bunyi lagi..dan kejadian yang sama ketika pertama kali terulang, tak ada suara di seberang sana, ya sudah, sa tutup lagi. Kembali bekerja.
Eh, bunyi lagi..kali ini sa biarkan dulu, sampe setelah dering tiga kali, sa coba angkat telponnya. Sama. Tak ada suara. Kututup. Hal ini terjadi berulang kali sampe 5 kali, pagi ini saja. Karena ada YM, dan sa lagi conference bersama kakak-kakak, ada seorang kakak yang beliau kan bergerak di bidang broadcasting, jadi sepertinya tahu tentang itu. Sa nanya kenapa bisa kaya gituh, mungkin gara-gara kemaren kena petir. Trus pas sa nanya gimana memperbaikinya, Aa bilang harus pake teknisi. Yaah..kecewa..gimana dong? :cry: Beliau nanya “pake pabx ga?” yah..mana kutahu itu pake pabx ato bukan. Sa nanya lagi, ciri-cirinya apa? Trus balik nanya lagi, “Itu hunting apa ekstension?” itu juga sa ga terlalu tahu..baru setelah sa diberi sedikit penjelasan, sa balik nanya. “Itu telpon biasa, cuma klo butuh ke manajer misalnya ntar ditransfer, pake *12 misalnya”, beliau menjawab “itu pake pabx de”, “Oh, terus, digimanain?” tanya sa kemudian, *sebenernya chatnya pake bahasa sunda. Beliau menjawab ” Cari ada box gede ga? Box gede sentral telepon.”..oh yang deket server kayanya, soalnya sa liat ada line 1, line 2 dan ekstension yang sa hafal. “Tahu saya juga”..sambil bolak-balik ke deket server dimana box yang dimaksud Aa ada. “Matiin dulu sumber listriknya, terus hidupkan lagi”, oh..sa ikutin perintah Aa..Udah aja ceritanya mah..seneng bisa jadi teknisi. “insya allah moal error deui geura teleponna” *insya allah ga akan error lagi teleponnya*, diterusin sama kata-kata “lamun masih eror huapkeun we ku ade” *klo masih error, makan aja sama ade* halah :oops:
Eh, kejadian terulang ternyata. Telpon berbunyi dan tetap tak ada suara. Tapi kali ini ada temen yang udah dateng, sa nanya “Kemaren abis error dan internet mati, gimana? Masih ada error ga?”, “Pulang” jawab dia sambil becanda *maklum karena sa paling kecil disini, dan perempuan satu-satunya mereka seneng banget jailin sa*. Orang nanya serius. “Tuh kan Kang, telponnya ga ada suaranya dari tadi loh!”, “Oh, berarti rusk gara-gara kemaren petir itu”..huh cape deh!!!
Gimana ini?
Dan setelah sa coba nelpon alias misscall ke no hp sa…ternyata ga bisa juga. Berarti beneran rusak ini mah :cry:

« Older entries