Bandung, Maghrib 30 Jan 08.
Seusai shalat maghrib, sa rebahan di kasur, dari luar sana terdengar suara mamah yang tengah bertilawah. Lapar. Itu yang sa rasa saat itu. Pengen ngemil. Ku keluarkan cemilan yang sa beli sepulang kerja tadi sore. Lalu beranjak menuju dapur untuk mencari “teman” sang kerupuk pedes cemilan sa itu. Dari dapur, terdengar sayup-sayup suara mamah, tapi kali ini bukan tengah tilawah, melainkan “Mau belajar ngaji? Sok (silahkan)! Iya atuh, masa ngaji keliatan lututnya.” Hmm..lagi ngobrol sama siapa tuh mamah. Lalu setelah sebelumnya terdengar samar pula mamah mencariku, tiba-tiba beliau ada di belakangku, saat sa mau menyuapkan makanan ke mulut.
Cerita deh mamah. “Si Nita, barusan teh pas mamah ngaji diem aja di teras rumah. Ga enak meski cuma diliatin anak kecil, udah aja sama mamah diajakin belajar ngaji,” Agak tertegun juga sa sama kata-kata mamah. “Yang ngajar siapa?” “Siapa aja. Mamah juga bisa lah dikit-dikit.” Mmm.. “Saya juga bisa lah Mah, Insya ALLAH da sekarang mah jarang pulang malem.”
Dan ga lama kemudian, anak itu dateng. Setelah sa denger anak itu ngaji ternyata ngajinya cukup lancar. Terus kepikiran juga kenapa dia ga ngaji ke mesjid aja kaya adik-adik sadan anak-anak lainnya? Sa cuma bisa nebak aja, mungkin..
1. Dia minder alias malu
2. Dia takut. Karena selama ini dia dianggap anak nakal, takut dijailin kalee..
3. Males (heheh)
Tapi terlepas dari apapun alasannya, dia mungkin lebih nyaman sendiri. Dan jika dihadapi dengan baik (dalam arti ga dikucilkan dan dicemooh) mereka nurut kok. Kayak pengalaman sa waktu dulu ngajar di madrasah. Ada seorang anak, nakal banget, namanya Ratno. Respek dia ke ustadz tuh jelek benget, apalagi ama anak-anak santri lainnya. Sa coba nanggepin dia dengan sikap berbeda. Dan berhasil. Hanya saja heterogennya anak-anak madrasah dan gesekan dia dengan yang lain plus sifat sa yang kadang klo lagi uring-uringan kebawa sampe ngajar, jadi agak kesulitan juga.
Kembali ke anak itu, dia sepertinya anak yang cukup pintar. Hanya saja penyikapan orang tua, kakanya dan tetangga yang klo boleh dibilang salah ya salah. Mungkin sebenernya mereka butuh perhatian. Dan menjadi anak nakal itulah yang dia pikir berhasil membuat orang di sekitarnya memperhatikannya, ya kan?!
Pada saat ada tetangga laporan ke mamah klo dia sering dan beberapa kali mergokin dia ngambil jajanan di warung tanpa permisi, sa bilang ke mamah “Tabayyun (cari tahu) dulu”. Alhamdulillah mamah setuju. “Nanti klo mamah melihat sendiri dia ngambil jajanan warung baru mamah tegur.” Ga lama, mamah bilang lagi, “Tapi, mau ngeliat sendiri ato nggak, mau mamah panggil ke sini sekarang dan dinasihatin.” Sa setuju banget sama ide mamah “Jangan sampe dia merasa dipermalukan” itu jawab sa saat itu.
Ngomong-ngomong soal sisi lain anak nakal, sa banyak ngalamin kejadian seperti itu. Anak-anak jalanan misalnya yang di perempatan Riau Junction (Jl. Seram-Jl. Riau- Jl. Trunojoyo-Jl. RE Martadinata) itu, sa bisa jadi temen mereka. Sekilas mungkin mereka ga ada baik-baiknya. Rambut di cat lah, ditindik lah, dsb. Tapi ketika mereka menawarkan pertemanan, sa sambut baik dan mereka ga macem-macem tuh. Kadang sa mikir, mereka jadi “liar” karena dipaksa masyarakat. Kenapa? Mereka kadung dikira nakal, ya udah jadi nakal aja sekalian. Bahkan pernah suatu saat salah satu dari mereka menemui sa dalam keadaan mabuk. Meski setelah ditanya dia bilang cuma baru bangun tidur. Ya udah, jangan memperpanjang masalah. Mereka curhat soal mereka pengen lebaran makan enak kaya yang lain, kumpul ama keluarga, dan minta sa jadi keluarga mereka. Waktu itu karena memang sa ga punya cukup uang untuk membelikan mereka makanan, sa cuma bisa tersenyum. Tapi mereka ga maksa kok.
Jadi yuk, mulai sekarang liat sisi baik orang lain. Terus jangan suka men- judge. Jangan sok suci lah klo sa boleh bilang gituh mah. Nyalah-nyalahin dan menghakimi orang lain seenaknya, padahal belum tentu anda di sisi ALLAH lebih baik dari mereka. Kadang sa belajar lebih banyak dari mereka tentang kehidupan…karena kepolosan mereka memandang hidup ini.
“…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurot: 13)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Hujurot: 11)
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Mengingatkan diri sendiri..
Wallohu a’lam.