Aku dan Keserakahanku

Kamis, 19 Juli 2007

Bandung, 3 Rajab 1428 / 18 Juli 2007

Hari ini (kemaren maksudnya) sa dapet pelajaran berharga. Mengenai keserakahan–setidaknya kuanggap begitu, yang ada di hatiku

Jam 5 sorean–lebih, sepulang PKL seperti biasa sa mampir ke kampus –maklum, kampusnya deket ma tempat PKL :D . sa sekedar mampir untuk say “goodbye” aja.

Di deket kampus, di Sk8er tepatnya, ada seorang akhwat yang menawarkan sesuatu pada sa, menawarkan sebuah amal jariyah, santunan untuk pendidikan anak Yatim dan Dhuafa. Tapi entah kenapa dengan mudah sa mengangkat tangan dan mengatakan “Ngga dulu ya”, ya sopan sih bilangnya (pembelaan nih). Disadari atau tidak, aku berusaha membela diri dengan bergumam “Bukankah aku pernah membaca bahwa 4JJI ga suka sama orang yang meminta mengatasnamakan 4JJI? “. Tanpa merasa berat hati, aku berlalu. Di depan taman di perempatan Riau Junction, aku berkenalan sama anak-anak jalanannya. Ya aku sih biasa aja, cuma nambah temen, tapi ga tau klo merek (kok jadi su’uzhon ya?!).

Back to my story…

Seandainya aku bisa memutar waktu (sayangnya ga bisa), aku pengen mengejar akhwat itu, dan kuberikan meski hanya sedikit dari rezeki yang 4JJI titipkan padaku–setidaknya sebagai rasa syukur, karena aku lebih beruntung dari mereka yang yatim lagi dhuafa…karena aku masih memiliki orang tua yang lengkap, orang-orang yang mencintaiku, dan kecukupan, dimana aku masih bisa menemukan meski hanya sedikit makanan di rumah.

Sesampainya di jalan raya..

Seperti biasa kutunggu bus yg biasa kutumpangi–bus Damri reguler, jurusan Dago-Lw Panjang. Tak lama ada bus AC yang menuju Lw Panjang lewat di jalan itu. Tapi aku enggan, “Bus spt itu, bus AC yg kecil kan bayarnya mahal” lagi-lagi terlintas pikiran yg tak pantas. Saat itu aku tidak melihat jam berapa ini, krn ku pikir ini masih siang, klo pun bus Damri ga dateng masih ada bus AC lain yg lebih nyaman.

Lama menunggu, bus-bus itu, baik reguler maupun AC tak kunjung datang. Padahal ku pikir bus AC lain datangnya jam segituan. Tak lama berselang adzan maghrib berkumandang, “Ah sebentar lagi juga bus AC itu datang” gumamku menghibur diri, sambil terbersit mengakhirkan waktu sholat. “Shalat di rumah saja ah, mepet sih tapi daripada ketinggalan bus…” Aku lupa ada Yang Maha Mendengar isi hati sekalipun.

Pukul 18.29 Tak ada bus. Angkot tujuan k rumah kutolak semua dengan alasan, “Klo gitu dari tadi aja naek bus AC yg mahal itu” Lagi-lagi penyesalan yang ga perlu. Waktu terus berlalu, sepertinya aku harus mengalahkan egoku dan sholat di sekitar sini

Seusai shalat lagi-lagi terlintas pikiran yg ga penting, hal selain 4JJI. “Mudah-mudahan Bapak nelpon dan nanya lagi dimana, jadi aku pulang dijemput..” Padahal ada Yang Maha Berkehendak yang bisa melakukan apa saja yang Ia kehendaki.

18.44

Kuputuskan untuk sholat Isya di mesjid kecil itu.

19.06

Aku masih disini, menunggu adzan Isya bergema. Ah..setelah ini lebih baik aku berjalan kaki atau naik angkutan umum? “Lebih baik berjalan kaki, siapa tau bapak menjemput, meski sampai saat ini HP-ku tak kunjung berdering…

Akhirnya aku pulang menggunakan angkot, Kalapa-Ledeng jurusan kalapa. Ya sudahlah..aku harus naik ini, dah malem…

Leave a Reply